Parameter Air Kolam Budidaya Lele




Dalam budidaya ikan lele yang menerapkan sistem padat tebar membutuhkan pengelolaan air yang ekstra, karena kondisi ikan lele yang padat menyebabkan segala aspek yang dibutuhkan ikan lele tidak mencukupi, ditambah lagi pemberian pakan yang tinggi akan mempercepat penurunan kualitas air.
Air sebagai media seluruh aspek yang terdapat pada ekosistem kolam, air bukan hanya H2O saja, tetapi mengandung unsur-unsur bentuk ion maupun senyawa organik. Konsentrasi senyawa organik terlarut, gas-gas terlarut, suspensi material, unsur-unsur dalam bentuk ion dan populasi mikroorganisme dalam air sangat menentukan kelayakan air tersebut dalam budidaya ikan lele.
Beberapa parameter air yang perlu penanganan untuk mempertahankan kualitas air diantaranya parameter fisik, kimia dan biologi air. Parameter kualitas air budidaya ikan lele adalah selalu dinamis akibat dari perubahan lingkungan, cuaca dan proses-proses biologis didalamnya seperti proses fotosintesis, respirasi dan ekskresi hasil-hasil metabolisme.
Berikut adalah parameter-parameter air yang sangat menentukan keberhasilan dalam budidaya ikan lele.

1. Dissolved Oxygen (DO) atau Kelarutan Oksigen di Air Kolam

Oksigen yang diperlukan ikan lele untuk pernapasannya harus terlarut dalam air. Tidak seperti ikan jenis lain, seperti ikan bandeng yang memerlukan kadar oksigen terlarut lebih tinggi karena pada ikan bandeng dan sejenisnya oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga bila ketersediaannya dalam air tidak mencukupi, maka segala aktivitas ikan akan terhambat. 
Berbeda dengan ikan lele, ikan lele karena sistem pernapasannya menggunakan insang dan insang ikan lele dilengkapi dengan labirin maka kandungan oksigen dalam air atau DO tidak terlalu signifikan terhadap ikan lele. Perlu anda ketahui bawha ada beberapa warga yang memanfaatkan saluran got atau comberan sebagai tempat pemeliharaan ikan lele dan ternyata ikan lele masih tetap hidup dan tumbuh besar di sana, walaupun got atau comberan bukan tempat yang layak bagi pemeliharaan ikan lele.
Meskipun ikan lele mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen 3 ppm, namun konsentrasi minimum yang masih dapat diterima sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Ikan lele masih dapat bertahan hidup pada kolam pemeliharaan dengan kadar oksigen rendah yaitu dibawah 4 ppm, akan tetapi nafsu makan ikan lele mulai menurun akibatnya pertumbuhan ikan lele akan terhambat. 
Untuk pemeliharaan ikan lele, konsentrasi oksigen terlarut dalm air atau DO idealnya pada pagi hari DO > 4 ppm sedangkan siang hari DO > 6 ppm. Pada siang hari, ketika terjadi fotosontesis, jumlah oksigen terlarut cukup banyak. Sebaliknya pada malam hari atau ketika cuaca mendung tidak terjadi fotosintesis, maka oksigen pada waktu itu digunakan oleh ikan lele dan jasad renik lainnya di dalam kolam sehingga sering terjadi penurunan konsentrasi oksigen secara drastis.
Konsentrasi oksigen terlarut paling rendah biasanya terjadi sesaat sebelum matahari terbit. Sesaat setelah matahari terbit, proses fotosintesis dimulai dan makin meningkat sejalan dengan peingkatan intensitas cahaya matahari. Proses fotosintesis oleh fitoplankton yang tumbuh dalam air kolam atau tambak dapat menghasilkan oksigen dengan reaksi sebagai berikut:

6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2

Jika anda perhatikan reaksi yang terjadi dalam fotosintesis di atas, oksigen yang dihasilkan yang larut di air atau DO sangat banyak sekali, terkadang mencapai 250 % saturasi. Produksi oksigen melalui proses fotosintesis tersebut tergantung antara lain pada keadaan penyinaran matahari dan kepadatan plankton. Konsentrasi oksigen terlarut mencapai maksimum pada saat selisih oksigen yang diproduksi pada proses fotosintesis dan oksigen yang digunakan pada proses respirasi paling besar. Kondisi tersebut dicapai pada pukul 14.00 – 17.00. setelah itu konsentrasi menurun karena laju respirasi lebih dominan daripada laju fotosintesis.
Mengelola kandungan DO dalam perairan kolam sangat erat hubungannya dengan jumlah dan jenis fitoplankton, biomass ikan, banyak sedikitnya bahan organik dalam kolam, aktivitas mikroorganisme dan lainnya yang akan mempengaruhi ekosistem dalam kolam. Ada beberapa cara mengelola kandungan DO dalam perairan  diantaranya dengan penggantian air dan penggunaan alat batu. Masalah konsentrasi oksigen terlaarut juga dapat diperkecil melalui pengaturan pemberian pakan.
Kelebihan pembeian pakan biasanya diikuti dengan proses pembusukan yang memanfaatkan oksigen terlarut dalam air kolam dan hasil akhirnya adalah bahan anorganik yang merupakan pupuk bagi fitoplankton. Pertumbuhan fitoplankton yang padat (Blooming Plankton) dalam air kolam yang dikelola secara intensif dapat membentuk lapisan hijau di permukaan air yang mampu menghambat penetrasi cahaya matahari dan menghambat fotosintesis di dasar kolam. Pada kondisi lanjut, penumpukan panas pada lapisan padat plankton akibat radiasi ultraviolet mampu menimbulkan kematian fitoplankton secara masal yang dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut secara drastis. Pada budidaya ikan lele intesif membuat kolam model semi indoor sangat cocok untuk mengatasi paparan radiasi ultraviolet, kolam diberi naungan yang transparan biasanya dari bahan waring yang banyak di jumpai di pasaran sehingga kadar paparan radiasi ultraviolet dapat berkurang.


2. Derajat Keasaman atau Basa (pH) Air Kolam

pH air adalah kualitas air yang menunjukkan tingkat keasaman atau basa suatu perairan. Jika pH < 7 maka air kolam bersifat asam dan jika pH > 7 maka air kolam bersifat basa atau alkalis. Pada air kolam pemeliharaan ikan lele dengan segala aktivitas fotosintesis dan respirasi yang hidup di dalamnya membentuk reaksi berantai karbonat-karbonat sebagai berikut:
CO2 + H2O → H2CO3 → H+ +HCO3 → 2H+ + CO32-
Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion  H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi dengan aktivitas fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, menyebabkan pH air naik.
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan kolam budidaya karena mempengaruhi kehidupan jasad renik di dalamnya. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada pH rendah (artinya keasamannya tingggi) kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang. Hal sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya ikan lele akan berhasil baik jika kualitas air pada pagi hari  dengan pH 7.5 – 8.0 dan siang hari dengan pH 8.0 – 8.5.
Berikut adalah tabel hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya.

pH Air
Pengaruh terhadap Ikan Budidaya
< 4.5
Air bersifat racun bagi ikan
5 – 6.5
Pertumbuhan ikan terhambat dan ikan sangat sensitif terhadap bakteri dan parasit
6.5 – 9.0
Ikan mengalami pertumbuhan optimal
> 9.0
Pertumbuhan ikan terhambat

Pada malam hari tidak ada CO2 yang diambil dari kolam justru semua organisme melepas CO2 hasil dari respirasi, CO2 ini bereaksi dengan ion karbonat dan molekul air membentuk ion bikarbonat , ion ini akhirnya berdisosiasi (memecah ) untuk melepas ion Hidrogen sehingga pH air turun. Hal ini terjadi juga pada saat cuaca mendung dan saat hujan, pH air cenderung turun.
Pada siang hari CO2 digunakan fitoplankton untuk proses fotosintesis sementara CO2 dihasilkan pada siang maupun malam hari dalam proses respirasi, oleh karena itu CO2 terlarut biasanya rendah pada siang hari. Fitoplankton menggunakan CO2 sepanjang hari untuk proses fotosintesisnya terjadi akumulasi ion karbonat yang akhirnya terhidrolisis sehingga menyebabkan kenaikan pH air. Pada sore hari saat konsentrasi oksigen terlarut mencapai maksimum, pH naik mencapai 9 - 9.5 karena CO2 dimanfaatkan dalam proses fotosintesis.
Ikan lele sangat rentan terhadap perubahan pH yang menyebabkan lele mudah stress, biasanya ditandai dengan banyak lele yang menggantung dipermukaan. Dinamika pH harian masih dapat ditolerir ikan lele jika perubahan pH tidak terlalu besar perbedaannya antara siang dan malam hari serta menjaga alkalinitas air agar terjadi buffer pada perairan kolam. Namun, bila pH mencapai lebih dari 10 maka pergantian air harus segera dilakukan karena merupakan indikator kemampuan buffer air yang rendah akibat alkalinitas rendah. Idealnya dalam perairan kolam alkalinitas > 80 ppm.

3. Suhu

Suhu air dipengaruhi oleh terpaan sinar matahari, suhu udara disekitar kolam dan cuaca. Perubahan suhu yang drastis dapat mematikan ikan karena terjadi daya angkut darah, perlu diketahui bahwa daya angkut darah akan lebih rendah pada suhu tinggi. Suhu air sangat berpengaruh pada kehidupan dan pertumbuhan ikan, jika suhu terlalu rendah, maka akan menghambat proses-proses metabolisme ikan lele.
Suhu dapat mempengaruhi nafsu makan ikan,  ternyata ikan lele relatif lebih lahap makan pada pagi dan sore hari sewaktu suhu air berkisar 27 – 28 ˚C. Suhu berpengaruh pada faktor pemicu outbreak penyakit infeksi, kadar ammonia dan DO serta pH air.
Suhu juga mempengaruhi kekentalan air, karena suhu disekitar kolam atau terik matahari dapat mempengaruhi pergerakan mineral-mineral dalam air kolam sehingga dapat memungkinkan terjadinya pembalikan lapisan air. Suhu yang ideal pada budidaya ikan lele berkisar antara 28 – 30 ˚C. Pada suhu 18 – 25 ˚C ikan masih bertahan hidup tetapi nafsu makannya mulai menurun. Suhu air 12 – 18 ˚C mulai berbahaya bagi ikan, sedangkan suhu dibawah 12 ˚C ikan tropis termasuk lele mati kedinginan.
Pergantian atau pencampuran air merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh suhu tinggi. Pergantian air yang diupayakan untuk pengenceran metabolit sekaligus dapat memengaruhi pengaruh suhu tinggi.


4. Kecerahan

Kecarahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air dan dinyatakan dengan (%), dari beberapa panjang gelombang  di daerah spektrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air.
Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air. Kekeruhan dipengaruhi oleh: (1) benda-benda yang halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan sebaginya, (2) adanya jasad-jasad renik (plankton), dan (3) warna air.
Tingkat kecerahan kolam budidaya lele juga harus kita perhatikan tujuannya agar kita tahu lebih dini proses asimilasi pada air kolam, lapisan-lapisan manakah yang tidak keruh, yang agak keruh, dan yang paling keruh. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan.
Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton. Bila kecerahan disebabkan oleh plankton, maka kecerahan mencerminkan jumlah individu plankton, yaitu jasad renik yang melayang dan selalu mengikuti gerak air. Plankton yang mengandung klorofil dan mampu melakukan fotosintesis disebut fitoplankton, sedangkan plankton yang memakan fitoplankton disebut zooplankton. Fitoplankton terdiri dari dari berbagai jenis yang masing-masing berlainan warna yang biasanya tampak sebagai warna air. Bila warna air hijau tua, plankton yang dominan adalah Cyanophyceae, Microcystis dan Anabaena yang mengandung klorofil berwarna hijau tua. Warna air hijau muda biasa didominasi Chlorophyta. Warna air hijau kecoklatan mencerminkan dominasi Diatomae dari klas Bacillariophyta, sedangkan Dinoflagellata memberikan warna coklat kemerahan pada air. Warna air hijau muda biasanya lebih baik bagi lele karena mengandung banyak Chlorophyta.
  1. Beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman dan dominasi plankton dikolam antara lain adalah:
  2. Ketersediaan bibit plankton
  3. Musim / cuaca
  4.  Ketersediaan nutrien (ratio N/P), perbedaan rasio N/P pada setiap kolam menimbulkan dominasi plankon yang berbeda, hal ini disebabkan karena setiap jenis plankton membutuhkan rasio N/P yang berbeda untuk pertumbuhan optimalnya dan juga C/N ratio yang menujukkan tingkat kesuburan perairan.
  5. Keberadaan zooplankton sebagai konsumen tingkat pertama untuk fitoplankton dapat berpengaruh pada kelimpahan dan dominasi yang terjadi
Dominasi plankton bisa ditentukan oleh perbandingan nitrogen, dan fosfor serta salinitas. Chlorophyta yang berwarna hijau mendominasi air yang bersalinitas rendah. Diatomae yang berwarna kecoklatan yang mendominasi perairan dengan N : P = 10-20 : 1. Dinoflagellata yang berwarna merah dan dapat mengeluarkan racun tumbuh subur pada perairan N : P kurang dari 10 : 1.
Semua plankton jadi berbahaya kalau sudah kurang dari 25 cm kedalaman keping secchi. Cara pengukurannya. Lingkaran tripleks berdiameter 30 cm di cat hitam putih berselang-seling dalam kuadran serta diberi pemberat supaya dapat tenggelam dan dilangkapi tali atau tangkai untuk mengukur kedalaman pada saat keping secchi hilang dari pandangan. Kecerahan yang baik bagi usaha budidaya ikan lele berkisar antara 25 – 30 cm yang diukur dengan menggunakan keping secchi. Jika kecerahan  sudah mencapai kedalaman kurang dari 25 cm, pergantian air sebaiknya segera dilakukan sebelum fitoplankton mati berurutan yang diikuti penurunan oksigen terlarut atau DO secara drastis. Bila air terlampau cerah, hara nitrogen biasanya menjadi pembatas pertumbuhan plankton, jadi perlu ditambahkan pupuk urea atau ZA atau KNO3 sebagai sumber nitrogen.

5. Asam Belerang (H2S)

Asam belerang atau hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas beracun yang dapat larut dalam air. Akumulasinya di kolam biasanya ditandai dengan endapan lumpur hitam berbau khas seprti telur busuk atau belerang. Sumber utamanya adalah hasil dekomposisi sisa-sisa plankton, kotoran ikan dan bahan organik lainnya. Bahan organik selain dapat menghasilkan amoia juga memproduksi asam belerang. Persentase H2S pada pH 7,0 dan suhu 26 ˚C mencapai 49,7% sedangkan pH 9,0 dan suhu 30 ˚C hanya 0,9%.
Parameter standar kualitas air dalam budidaya ikan lele, konsentrasi H2S berkisar antara 0,02 – 0,2 ppm. Jika konsentrasi H2S yang terlarut dalam air kolam berlebihan yaitu pada konsentrasi H2S berkisar antara 0,1 – 0,2 ppm maka ikan bisa keracunan (kehilangan keseimbangan) dan pada konsentrasi 0,25 ppm kematian masal biasanya terjadi.
Untuk mengatasi atau menghilangkan pengaruh H2S yang terlarut dalam air kolam, maka cara yang terbaik adalah dengan pergantian air dan pengerukan tanah dasar waktu persiapan kolam. Suasana aerob di dasar kolam juga dapat mengurangi pengaruh H2S. Pada konsentrasi oksigen terlarut (DO) tinggi, H2S dioksidasi menjadi H2SO4, aerasi sangat membantu terciptanya suasana aerob di dasar kolam.

6. Amonia (NH3)

Amonia (NH3) dalam air berasal dari perombakan bahan-bahan organik dan pengeluaran hasil metabolisme ikan melalui ginjal dan jaringan insang.  Disamping itu, amonia dalam kolam juga dapat terbentuk sebagai hasil proses dekomposisi protein yang berasal dari sisa pakan atau plankton yang mati. Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein menghasilkan amonium (NH4+) dan amonia (NH3). Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berlangsung lancar maka terjadi pembusukan NH3 sampai pada kosentrasi yang membahayakan ikan lele.
Persentase NH3 dari amonia total dipengaruhi oleh suhu dan pH air. Makin tinggi suhu dan pH air makin tinggi pula persentase konsentrasi NH3, dalam artian peluang ikan lele keracunan NH3 lebih besar pada suhu dan pH tinggi. Sebagai contoh pada pH 8,0 dan suhu 25 ˚C persentase NH3 hanya 5,380, sedangkan pada pH 9,0 dan suhu 30 ˚C persentase NH3 mencapai 44,600. Pada budidaya ikan lele idealnya konsentrasi NH3 < 0.01 ppm.
Pergantian air merupakan alternatif untuk mengatasi masalah konsentrasi amonia yang tinggi dalam air kolam. Beberapa bahan dewasa ini diperdagangkan untuk mencegah ikan kercunan amonia adalah BN-9 atau BN-12 dan Ammocidin yang merupakan awetan dari bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter.

7. Kesadahan

Kesadahan atau kekerasan (hardness) air berbeda dengan keasaman air, sekaslipun erat kaitannya. Keduanya dapat debedakan dengan mudah. Air asam biasanya menunjukkan reaksi lunak, sedangkan aur sadah biasanya keras. Oleh karena itu kesadahan air sering disebut kekerasan air (hardness).
Kesadahan air disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul. Elemen terbesar yang terkandung dalam air adalah kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), natrium (Na+) dan kalium (K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-, HCO3-,SO4-, Cl-, NO3-, PO4-. Kadar mineral tersebut  dalam tanah sangat bervariasi, tergantung jenis tanahnya. Kandungan mineral inilah yang menentukan parameter keasaman dan kekerasan air.
Perhitungan derajat kekerasan ada berbagai cara sesuai dengan asal dilakukannya, di Indonesia menggunakan cara Jerman yang populer dengan sebutan dGH (degress of German total Hardness)atau ditulis dengan nama derajat degress Hardness (˚dH). Dengan memperhatikan kadar CaCO3 akhirnya orang membuat istilah untuk menyatakan tingkat kekerasan suatu jenis air.
Jenis hewan budidaya di dalam air membutuhkan kekerasan tertentu. Namun, kebanyakan senang berada di air yang lunak. Umumnya hewan air lebih mudah beradaptasi dari air yang sifatnya lunak ke keras dibanding keras ke lunak. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air termasuk ikan lele lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan/kekerasan 3 – 10 ˚dH.
Bila parameter air yang lain berada pada kisaran optimum, maka kesadahan juga berada pada kisaran demikian. Oleh karena itu, bila parameter air yang lain optimum, kesadahan dapat diabaikan.

8. Salinitas

Salinitas adalah konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh dari air laut. Konsentrasi garam-garam jumlahnya relatif sama dengan dalam setiap contoh air atau air laut, sekalipun pengambilannyadilakukan ditempat yang berbeda. Oleh karena itu, tidak diperlukan utuk mengukur seluruh salinitas dari sontoh setiap kali. Cara yang biasa dilakukan untuk menentukan salinitas adalah menghitung jumlah kadar garam yang dalam suatu sampel disebut chlorinitas.
Ikan lele adalah ikan air tawar (salinitas < 0 – 5 ppt), sehingga ikan lele tidak dapat mentolerir salinitas yang luas (euryhaline). Di beberapa daerah pesisir misalnya Cirebon tepatnya di kecamatan Gunung Jati, Suranenggala, dan kapetakan. Kadar garam cenderung tinggi terutama saat kemarau tiba. Karena sungai-sungai di beberapa kecamatan tersebut airnya asin. Akibatnya air laut menggantikan air tanah yang tawar, sehingga tidak sedikit dijumpai sumur-sumur warga rasanya sangat asin termasuk sumur saya sendiri. Di kecamatan kapetakan sendiri jika pada saat kemarau hanya sedikit kolam lele yang beroperasi akibat kadar garam yang sangat tinggi.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »