Menentukan Modal Usaha dalam Budidaya Lele

Berbicara masalah modal usaha, erat kaitannya dengan seberapa besar skala usaha pada unit usaha budidaya lele. Seorang pengusaha dengan modal kecil atau bisa dibilang pas-pasan akan sulit melebarkan sayap usahanya, dengan pengetahuan yang minim serta fasilitas budidaya seadanya tidak sedikit dari mereka yang “gulung terpal”, tetapi ada juga pengusaha dengan modal yang sedikit bisa mempertahankan usahanya bisa memberikan nafkah keluarganya dari hasil usaha budidaya lele. Dengan modal yang besar diharapkan mendapatkan keuntungan yang besar pula. Karena, modal yang besar dapat mendukung sepenuhnya kegiatan budidaya, diantaranya sarana dan prasarana yang menunjang, perlengkapan budidaya yang memadai, peralatan budidaya yang canggih dan tehnik budidaya modern yang menerapkan sistem budidaya lele sangat intensif. Seorang pengusaha tentunya harus cerdik dalam menentukan darimana asal modal yang akan digunakan dalam usaha budidayanya?.


Kali ini Patil Lele akan mengetengahkan beberapa keperluan modal usaha dalam suatu init usaha budidaya lele secara garis besarnya saja, untuk lebih rincinya akan dibahas dalam tulisan yang lain.


Modal Investasi

Modal investasi adalah modal yang akan digunakan untuk membiayai pengadaan semua keperluan sarana dan prasarana usaha yang bersifat tetap. Modal yang digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana disebut dengan biaya tetap (fix cost). Sarana dan prasarana tersebut dipakai selama tenggang waktu cukup lama, bisa lima tahun atau lima belas tahun lebih. Nilai akhir (residue value) dari sarana yang dipakai akan terus berkurang sesuai dengan umur pemakaian (depresiation), bahkan bisa terjadi sarana yang dipakai tersebut tidak memiliki nilai sama sekali atau nihil. 

Contoh dalam unit usaha pembesaran lele anda membeli kolam fiber berdiameter 2,5 m seharga 5 juta rupiah, maka kolam fiber tersebut harus disusutkan dengan tenggang waktu sesuai kebijakan yang diambil perusahaan anda, misal 10 tahun. Berarti dalam tiap bulannya di susutkan sebesar 41.700 rupiah (dibulatkan). Dalam setiap bulannya kolam fiber akan mengalami pengurangan nilai ekonomis begitu seterusnya sampai 10 tahun atau 120 bulan nilai ekonomis kolam fiber menjadi nol atau tidak memiliki nilai ekonomis lagi meskipun kolam fibernya masih bisa dipakai.

Total modal yang dikeluarkan untuk investasi dimasukkan kedalam total biaya yang disusutkan (depresiation) dengan tenggang waktu sesuai dengan kebijakan yang diambil setiap perusahaan. Biaya penyusutan dibebankan dalam setiap perhitungan biaya produksi (cost production) suatu produk usaha budidaya lele seperti benih lele, lele pedaging atau indukan.

Berikut adalah berbagai komponen yang termasuk modal investasi dalam budidaya lele:
  1. Modal untuk pembuatan kolam
  2. Modal untuk pengadaan instalasi air
  3. Modal untuk pengadaan gudang pakan dan peralatan
  4. Modal untuk membangun unit pemijahan, meskipun unit usaha pembesaran lele bisa mendatangkan benih lele dari luar / dari pengusaha pembibitan, alangkah baiknya anda memiliki unit pemijahan sendiri agar lebih mandiri.
  5. Modal untuk alat transportasi
  6. Modal untuk sarana lainnya sesuai kebutuhan.

 Modal Kerja

Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai kegiatan usaha budidaya lele. Modal kerja berupa biaya operasional atau biaya untuk membeli sarana produksi budidaya, seperti benih, pakan, suplemen dan obat-obatan. Modal kerja disebut dengan biaya tidak tetap (variable cost)

  • Modal untuk pembelian benih
  • Modal untuk pembelian pakan
  • Modal untuk pembelian suplemen dan obat-obatan
  • Modal untuk biaya operasional (factory over head atau FOH) yang dikeluarkan termasuk biaya PLN, BBM (bensin/solar), kapur, pupuk, gaji karyawan, biaya perawatan, dan sewa kolam tanah (jika menyewa).

Contoh perkiraan rincian biaya yang dikeluarkan untuk FOH per kg lele pedaging setiap periode sebagai berikut:

benih                                                      = Rp. 1.100
pakan                                                      = Rp. 7.000 x 0.7 = Rp. 4.900
biaya operasionil                                      = Rp. 500
biaya supplement & obat-obatan                = Rp.1.000
total biaya produksi / kg daging lele adalah = Rp. 7.500
  • Modal untuk keperluan lain, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan kolam, penyusutan peralatan, bunga pinjaman bank, lembur, dan THR karyawan.

Jenis Permodalan dalam Usaha Budidaya Lele

Modal Sendiri atau Mandiri

Seluruh usaha budidaya lele baik pemijahan maupun lele pedaging menggunakan modal pribadi atau mandiri, tidak meminjam ke bank atau phak lainnya.

Pola Kemitraan

Usaha budidaya lele dijalankan dengan cara menjalin kerjasama, baik dengan pemodal, perusahaan pakan maupun perusahaan pembibitan. Beberapa pola kemitraan yang sering dilakukan sebagai berikut.

Pola Simpan Pinjam

Pembudidaya meminjam sejumlah modal untuk usaha budidaya lele kepada phak pemodal seperti bank. Pada akhir periode atau dalam jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan ambahan persentase bunga atau persentase keuntungan, yang besarnya telah disepakati terlebih dahulu.

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pakan

Pada pola kemitraan seperti ini, pembudidaya hanya bermitra sebatassuplai pakan untuk usaha budidaya lele tersebut. Selebihnya, pembudi daya yang menyediakan. Pembudidaya memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengelola usahanya, tetapi biasanya pembudidaya memberikan jaminan kepada perusahaan pakan senlai pakan yang akan digunakan.

Pola Kemitraan Bagi Hasil

Pola kemitraan yang terjadi antara pembudidaya dan pihak lain, seperti pemodal atau perusahaan budidaya lele dengan sisetem sharing. Contohnya pembudidaya hanya memiliki sejumlah kolam, semua biaya operasional dan sarana produksi budidaya disuplai dari pemodal atau perusahaan budidaya. Persentase pembagian keuntungan untuk pembudidaya 20% dan pemodal 80%.

Pola Kemitraan Inti Plasma

Saat ini pola kemitraan inti plasma paling banyak dilakukan. Pada pola ini, pembudidaya lele bermitra dengan perusahaan budidaya selaku inti. Banyak pola kerjasama yang ditawarkan, seperti bagi hasil atau sistem harga kontrak. Namun, prinsipnya semua sama, yaitu perusahaan budidaya berperan sebagai inti untuk membina pembudidaya lele yang menjadi plasmanya agar lebih maju dan mandiri.

Demikian ulasan tentang modal usaha budidaya lele, semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan banyak manfaatnya. Bagi anda yang ingin menambahkan informasi mengenai permodalan dalam usaha budidaya lele dipersilahkan untuk memberikan masukannya pada kolom komentar. Adapun ulasan lebih rinci mengenai keperluan modal usaha dalam suatu unit usaha budidaya lele akan di ulas secara rinci dalam tulisan yang lain. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »