Jeli dan Bijak dalam Memanfaatkan Limbah Industri sebagi Pakan Alternatif Lele


produksi skala rumahan berupa ikan hasil tangkapan nelayan untuk dijadikan olahan diantaranya ikan filet dari ikan tongkol, ikan asap, ikan cucut, ikan asin dan lain-lain. Sisa hasil produksi tersebut biasanya diolah lagi utuk dijadikan konsentrat tapi perlu dijemur supaya kering sempurna kemudian digiling, tapi itu jarang dilakukan karena tengkulaknya jarang datang disamping itu pengeringan memerlukan waktu yang lama dan menimbulkan bau busuk yang sangat tajam sehingga menimbulkan polusi udara bagi tetangganya. Jika produksi yang melimpah tentu sisa produksi juga banyak, terkadang dibuang begitu saja tidak dimanfaatkan oleh warga dan dianggap sampah.


Petani lele memanfaatkan hasil sisa produksi ikan hasil tangkapan nelayan sebagai pakan alternatif lele pengganti pelet yang harganya mahal, tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi. Untuk menjadikan sisa produksi rumahan pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan para petani lele mengolahnya terlebih dahulu dengan cara digiling langsung atau jika stoknya banyak disimpan dulu dengan cara diangin-anginkan dan dijemur disekitar kolam pembesaran lele.

Pemberian pakan dari sisa hasil produksi pengolahan ikan tidak selamanya efektif sebagai pakan alternatif terkadang menimbulkan masalah, yaitu penurunan kualitas air kolam. Kolam pembesaran lele menjadi bau busuk akibat dekomposisi sisa pakan yang tidak sempurna tenggelam di dasar kolam. Akibatnya sisa pakan yang berada di dasar kolam yang tidak termakan oleh lele menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya bakteri patogen yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi lele. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, kematian masal tidak dapat dihindarkan. Satu demi satu lele mengapung mati di permukaan, yang lainnya masih menggantung di permukaan dan sesekali naik turun dengan pergerakkan lamban, ada juga yang berenang bergerak memutar-mutar seolah hilang keseimbangan. Lebih parah lagi jika diraba di dasar kolam ternyata lebih banyak lagi bangkai lele yang luput dari pandangan.

Jika kematian masal terjadi pasti petani lele sangat merugi peteni manapun tidak menginginkan hal ini terjadi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja mencegah adalah langkah terbaik guna menghindari atau setidaknya mengurangi mortalitas. Pemberian pakan berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan yang tidak berlebihan, kemudian pemberian probiotik untuk mengurai sisa pakan dan kotoran lele, disamping itu sifon atau pembuangan endapan dasar kolam harus dilakukan untuk mengurangi produksi dan kandungan gas terlarut yang bersifat racun bagi lele. Pengontrolan kualitas air harus terus dilakukan setidaknya 3 – 6 hari sekali, lakukan pengecekan parameter kulitas air diantaranya pH, suhu, serta kandungan gas beracun. Apabila kualitas air kolam buruk segera lakukan tindakan yaitu penggantian air kolam.

Meskipun pemberian pakan alternatif berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan kurang efektif, petani lele masih tetap menggunakannya karena, harganya murah dan ketersediannya melimpah

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »