Pendederan: Kultur Artemia dijadikan Pakan Alami untuk Benih Lele


Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang primitif  yang termasuk dalam Filum Arthropoda, kelas Crustacea, Ordo Anostraca, Famili Artemidae, Genus Artemia. Dari genus artemia dikenal beberapa spesies antara lain Artemia salina, A. Persimilis, A. Monica dan A. Oddessensis.

Artemia merupakan salah satu zooplankton yang dapat hidup di laut, pada berbagai kisaran salinitas dari 5-300 ppt. Namun, untuk pertumbuhannya Artemia membutuhkan salnitas antara 30-50 ppt. Artemia juga dikenal sebagai hewan euroksibion, yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang luas akan kandungan oksigen (DO). Pada kandungan oksigen 1 ppm Artemia masih dapat bertahan, sebaliknya pada kandungan oksigen terlarut tinggi sampai mencapai kejenuhan 150 %, Artemia masih dapat bertahan hidup. Namun untuk tumbuh optimal kandungan oksigen (DO) yang cocok adalah diatas 3 ppm. Sedangkan suhu yang cocok untuk hidup optimal adalah 25 ˚C – 30 ˚C dan pH 7,5 – 8,5.

Artemia juga tahan terhadap perairan yang kandungan amonianya tinggi. Pada kondisi perairan yang kandungan amonianya mencapai 90 ppm masih dapat ditoleransi  oleh hewan ini. Akan tetapi, agar pertumbuhan Artemia bagus, kandungan amonia pada media budidaya sabaiknya dibwah 80 ppm. Perkembangan Artemia tidak selalu terjadi melalui perkawinan, kerena hewan ini mempunya dua cara bereproduksi, yaitu secara biseksual dan pertenogenesis. Perkembangan denan biseksual terjadi melalui perkawinan. Adapun perkembangbiakan dengan pertenogenesis, Artemia betina dapat mereproduksi tanpa melalui perkawinan.

Pada kondisi lingkungan yang optimal, baik induk yang mereproduksi secra bisksual maupun pertogenesis akan menghasilkan nauplius. Sebaliknya bila kondisi lingkungan kurang menguntungkan, maka induk Artemia yang semula melahirkan akan menghasilkan telur bercangkang tebal yang disebut kista. Dengan demikian. Selain bersifat ovovivipar (melahirkan telur yang sudah menjadi anak) dalam melahirkan, Artemia juga bersifat vivipar  (mengeluarkan telur).

 Artemia bersifat pemakan segala atau omnivora. Di alam bebas, Artemia memakan berbagai macam jasad mikro, misalnya microalgae atau alga bersel satu, detrititus, bakteri maupun cendawan. Jenis-jenis alga yang biasa menjadi mangsa Artemia diantaranya adalah Dunaliella, Platymonas, dan Strephanoptera oracetis. Namun dalam pemeliharaannya, Artemia bisa diberi pakan berupa dedak haluss yang disaring dan tepung terigu yang dilengkapi vitamin ssebagai penunjang pertumbuhannya.
Untuk menyediakan nauplius Artemia sebagai pakan larva-benih ikan lele, maka perlu melakukan penetasan kista artemia. Sekarang telah banyak merek dagang kista Artemia yang berasal dari berbagai negara yang terkenal, diantaranya Chili, Amerika, dan Cina.


Penetasan kista Artemia dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat pada tingkat 10 liter – 20 liter per menit. Komposisi 5 g kista Artemia per liter sudah cukup untk menetaskan kista tersebut. Untuk menghasilkan kuantitas maksimal dari neuplius perlu dilakukan decapsulasi. Perlakuan decapsulasi ini dimaksudkan untuk menipiskan kulit kisa Artemia, sehingga proses penetasannya lebih cepat. Bahan yang dipakai dalam proses decapsulasi bisa berupa larutan natrium hipoklorit (NaHOCL). Selain untuk menipiskan kulit kista, NaHOCL  juga  berfungsi sebgai desinfektan terhadap bakteri dan jamur pengganggu.

Adapun cara melakukan decapsulasi adalah sebagai berikut. Telur (kista) Artemia direndam dalam air tawar, dengan perbandingan12 ml air tawar per 1 g kista Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbenuk corong yang bagian dasarnya bisa dibuka. Penggunaan tabung berbentuk corong ini bertujuan agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah, tanpa mengganggu kista. Dari bagian dasar corong diberi aerasi. Penetasan dilakukan pada suhu kamar. Setelah satu jam, suhu air diturunkan hingga 15 ˚C, dengan penambahan es. Setelah suhu turun, baru ditambahkan NaHOCL 5,25 % sebanyak 10 ml untuk 1 g kista. Setelah 15 menit, larutan NaHOCL dibuang, kemudian kista dicuci dengan air laut dan dibilas 6-10 kali hingga pengaruh NaHOCL benar-benar hilang.

Selam decapsulasi, telur yang semila berwarna coklat akan berunah berwarna putih, kemudian berubah lagi berwarna oranye. Setelah decapsulasi, telur itu dapat disimpan untuk dapat detetaskan atau bisa juga langsung diberikan sebagai pakan larva ikan lele.

Telur yang di-decapsulasi dapat ditetawskan dalam bak berbentuk corong. Penetasan dilakukan pada suhu 20 ˚C. Jangka waktu penetasan berkisar antara 24 - 28 jam. Bak penetasan ditutup supaya gelap dan diberi aerasi kuat. Agar artemia tumbuh denagan baik, sebaiknya padat penebarannya jangan terlalu tinggi, yaitu berkisar antara 10.000 – 15. 000 ekor/liter air.

Selama pembesaran, artemia diberi pakan berupa tepung terigu atau dedak halus sebanyak 1-3 g/100 liter air. Dalam waktu 15 hari, artemia akan menjadi dewasa dan dapat menghaslkan telur lagi, selama pemeliharaan, salinitas dinaikkan secra bertahap, terutama menjelang artemia dewasa. Salinitas  yang sesuai pada tahao ini adalah sekitar 55 ppt. Selanjutnya terus dinaikkan secara berturut-turutmenjadi 72 ppt dalam waktu 2 hari, dan 90 ppt 3 hari kemudian. Salinitas 90 ppt dipertahankan hingga artemia mengandung. Untuk mendapatkan kista, salinitas dinaikkan lagi menjadi 110-120 ppt, hingga artemia memijah dan bertelur. Dengan salinitas tersebut, telur akan megapung karena berat jenisnya lebih rendah dibanding air garam. Untuk mendapatkan kista artemia, dapat diatur dengan menaik-turunkan salinitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »