Cara-cara: Sulit Memasarkan Ikan Lele Konsumsi? Sekarang Tidak Lagi


Jika anda pertama kali memulai terjun dalam bidang budidaya ikan lele hal ini mungkin akan terasa sulit. Kenapa? Karena anda terlalu memaksakan budidaya ikan lele, dengan pengetahuan seadananya, modal pas-pasan itu juga dapat hutang dari mertua, kurang informasi, kaku dalam pergaulan. Akibatnya ikan lele yang anda budidayakan sulit dipasarkan.

Pernahkah anda melihat tayangan berita di televisi tentang pemasaran ikan lele? Jika anda hanya menonton tayangan kompetisi dangdut saja atau tayangan faforit, tentu anda tidak akan melihat berita tersebut. Ternyata pada tayangan tersebut (Mohon maaf saya tidak mencantumkan nama stasiun televisi karena alasan tertentu) diberitakan komoditas ikan lele belum memenuhi kebutuhan pasar nasional seperti pasar tradisional, rumah tangga, rumah makan, restoran, hotel dan supermarket. Selain itu dengan terus meningkatnya permintaan, saat ini lele telah mampu menembus pasar dunia. Di antara negara peminat yaitu Amerika, Jerman, Swis, Jepang, Korea, bahkan Timur Tengah juga telah siap menerima produk yang berbahan ikan lele. Produk yang diminati tersebut beragam, mulai dari lele mentah hingga produk olahan. Lele mentah berupa filet, buang isi perut, buang kepala. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk, sosis, dan bakso yang berbahan baku daging ikan lele. Itu artinya peluang pasar ikan lele konsumsi sangat besar.

Ada sebuah pengalaman menarik menurut saya, sekitar tiga tahun yang lalu sebelum artikel ini dibuat. Saya berhasil membesarkan lele sampai ukuran konsumsi ukuran 7-8 ekor per kg pada kolam ukuran 5X7 meter dengan kedalaman 70 cm. Waktu itu saya bingung kemana lele ini akan saya pasarkan?. Saya coba menawarkan pada teman-teman kerja saya, pada tetangga, temannya istri dan semua orang yang saya kenal. Alhamdulillah laku 5 kg saja. Pikir saya jika yang laku cuma 5 kilo saja terus sisanya mau dijual kemana?

Tidak puas dengan pencapaian 5 kg, esok harinya saya coba tawarkan pada pedagang pecel lele kaki lima yang mangkal di depan kecamatan, ternyata dia sudah punya langganan tempat dimana dia mengulak. Usaha say tidak berhasil, agar tidak sia-sia saya memberikan secarik kertas bertuliskan nama dan nomor HP saya agar suatu saat dia menghubungi saya. Kemudian saya teruskan menyusuri keramaian kota cirebon mencari tempat mangkal pecel lele kaki lima. Hasilnya sama tidak berhasil karena mereka sudah memiliki langganan tempat kulakan, dengan cara yang sama agar tidak sia-sia saya memberikan secarik kertas bertuliskan nama dan nomor HP saya agar suatu saat mereka menghubungi saya. Saya pun pulang ke rumah dengan tanpa hasil.

Berbagai cara sudah saya terapkan mulai memasang tulisan di pinggir jalan depan rumah, menawarkan ke rumah makan bahkan ke pasar-pasar yang tidak jauh dari rumah. Lele saya tidak laku. Sesekali ada orang yang mau membeli lele saya dengan harga yang sangat murah, saya tidak menjualnya karena tidak mau rugi.

Suatu ketika paman saya datang ke rumah dan hendak membeli lele saya untuk tempat pemancingan paman tapi yang diperlukan hanya lele dengan ukuran 1 ekor per kg, transaksi gagal karena lele saya tidak memenuhi kriteria yang diminta masih ukuran konsumsi 7-8 ekor per kg.

Semakin hari lele saya semakin besar pakannya pun semakin banyak dan masih belum laku juga. Karena saya memelihara lele jadi obrolan dengan teman-teman pun saya sisipkan tentang lele. Sampai pada akhirnya teman saya mengenalkan saya dengan seorang bandar lele kecil-kecilan. Saya pun tertarik, saya datangi rumahnya dan menawarkan lele saya pada bandar yang dikenalkan oleh teman saya. Esok harinya sang bandar mengunjungi lele saya. Singkat kata dengan harga yang disepakati lele saya laku terjual semua tapi dengan pembayaran tempo satu minggu. Tidak apa-apalah yang penting laku, Alhamdulillah.

Setelah semua lele terangkat dari kolam, saya pun kembali mengisinya dengan benih lele yang baru. Hari-hari berlalu, HP saya terus berdering ada panggilan ada pula sms banyak berupa permintaan ikan lele, rupanya nomor HP yang saya bagikan pada para pedagang pecel lele dan rumah makan berhasil saya terapkan dalam pemasaran lele. Saya pun kebanjiran order sampai kewalahan karena banyaknya permintaan. Alhamdulillah.

Jadi pada intinya Ada tiga jalur pemasaran lele konsumsi yang bisa dilakukan hingga sampai ke pihak konsumen, caranya sebagai berikut.
1. Produsen lele menjual langsung ke konsumen.
2. Produsen menjual ke tengkulak, selanjutnya diteruskan ke pasar, lalu ke konsumen.
3. Produsen menjual ke tengkulak, lalu tengkulak menjual ke bandar, dari bandar ke pasar, dan terkahir ke konsumen.

Demikian sekelumit pembahasan tentang pembahasan mengenai pemasaran ikan lele, semoga banyak manfaatnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
October 6, 2016 at 10:18 PM delete

mantap om.. thanks sdh sharing pengalaman

Reply
avatar
October 7, 2016 at 9:54 AM delete

sama-sama kang Ayman, kalo pengalaman kang Ayman sendiri mengenai pemasaran lele bagaimana?

Reply
avatar