Jeli dan Bijak dalam Memanfaatkan Limbah Industri sebagi Pakan Alternatif Lele


produksi skala rumahan berupa ikan hasil tangkapan nelayan untuk dijadikan olahan diantaranya ikan filet dari ikan tongkol, ikan asap, ikan cucut, ikan asin dan lain-lain. Sisa hasil produksi tersebut biasanya diolah lagi utuk dijadikan konsentrat tapi perlu dijemur supaya kering sempurna kemudian digiling, tapi itu jarang dilakukan karena tengkulaknya jarang datang disamping itu pengeringan memerlukan waktu yang lama dan menimbulkan bau busuk yang sangat tajam sehingga menimbulkan polusi udara bagi tetangganya. Jika produksi yang melimpah tentu sisa produksi juga banyak, terkadang dibuang begitu saja tidak dimanfaatkan oleh warga dan dianggap sampah.


Petani lele memanfaatkan hasil sisa produksi ikan hasil tangkapan nelayan sebagai pakan alternatif lele pengganti pelet yang harganya mahal, tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi. Untuk menjadikan sisa produksi rumahan pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan para petani lele mengolahnya terlebih dahulu dengan cara digiling langsung atau jika stoknya banyak disimpan dulu dengan cara diangin-anginkan dan dijemur disekitar kolam pembesaran lele.

Pemberian pakan dari sisa hasil produksi pengolahan ikan tidak selamanya efektif sebagai pakan alternatif terkadang menimbulkan masalah, yaitu penurunan kualitas air kolam. Kolam pembesaran lele menjadi bau busuk akibat dekomposisi sisa pakan yang tidak sempurna tenggelam di dasar kolam. Akibatnya sisa pakan yang berada di dasar kolam yang tidak termakan oleh lele menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya bakteri patogen yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi lele. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, kematian masal tidak dapat dihindarkan. Satu demi satu lele mengapung mati di permukaan, yang lainnya masih menggantung di permukaan dan sesekali naik turun dengan pergerakkan lamban, ada juga yang berenang bergerak memutar-mutar seolah hilang keseimbangan. Lebih parah lagi jika diraba di dasar kolam ternyata lebih banyak lagi bangkai lele yang luput dari pandangan.

Jika kematian masal terjadi pasti petani lele sangat merugi peteni manapun tidak menginginkan hal ini terjadi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja mencegah adalah langkah terbaik guna menghindari atau setidaknya mengurangi mortalitas. Pemberian pakan berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan yang tidak berlebihan, kemudian pemberian probiotik untuk mengurai sisa pakan dan kotoran lele, disamping itu sifon atau pembuangan endapan dasar kolam harus dilakukan untuk mengurangi produksi dan kandungan gas terlarut yang bersifat racun bagi lele. Pengontrolan kualitas air harus terus dilakukan setidaknya 3 – 6 hari sekali, lakukan pengecekan parameter kulitas air diantaranya pH, suhu, serta kandungan gas beracun. Apabila kualitas air kolam buruk segera lakukan tindakan yaitu penggantian air kolam.

Meskipun pemberian pakan alternatif berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan kurang efektif, petani lele masih tetap menggunakannya karena, harganya murah dan ketersediannya melimpah

Menentukan Modal Usaha dalam Budidaya Lele

Berbicara dengan modal usaha erat kaitannya dengan seberapa besar skala usaha pada unit usaha budidaya lele. Seorang pengusaha dengan modal kecil atau bisa dibilang pas-pasan akan sulit melebarkan sayap usahanya, dengan pengetahuan yang minim serta fasilitas budidaya seadanya tidak sedikit dari mereka yang “gulung terpal”, tetapi ada juga pengusaha dengan modal yang sedikit bisa mempertahankan usahanya bisa memberikan nafkah keluarganya dari hasil usaha budidaya lele. Dengan modal yang besar diharapkan mendapatkan keuntungan yang besar pula. Karena, modal yang besar dapat mendukung sepenuhnya kegiatan budidaya, diantaranya sarana dan prasarana yang menunjang, perlengkapan budidaya yang memadai, peralatan budidaya yang canggih dan tehnik budidaya modern yang menerapkan sistem budidaya lele sangat intensif. Seorang pengusaha tentunya harus cerdik dalam menentukan darimana asal modal yang akan digunakan dalam usaha budidayanya?.


Kali ini Patil Lele akan mengetengahkan beberapa keperluan modal usaha dalam suatu init usaha budidaya lele secara garis besarnya saja, untuk lebih rincinya akan dibahas dalam tulisan yang lain.


Modal Investasi

Modal investasi adalah modal yang akan digunakan untuk membiayai pengadaan semua keperluan sarana dan prasarana usaha yang bersifat tetap. Modal yang digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana disebut dengan biaya tetap (fix cost). Sarana dan prasarana tersebut dipakai selama tenggang waktu cukup lama, bisa lima tahun atau lima belas tahun lebih. Nilai akhir (residue value) dari sarana yang dipakai akan terus berkurang sesuai dengan umur pemakaian (depresiation), bahkan bisa terjadi sarana yang dipakai tersebut tidak memiliki nilai sama sekali atau nihil. 

Contoh dalam unit usaha pembesaran lele anda membeli kolam fiber berdiameter 2,5 m seharga 5 juta rupiah, maka kolam fiber tersebut harus disusutkan dengan tenggang waktu sesuai kebijakan yang diambil perusahaan anda, misal 10 tahun. Berarti dalam tiap bulannya di susutkan sebesar 41.700 rupiah (dibulatkan). Dalam setiap bulannya kolam fiber akan mengalami pengurangan nilai ekonomis begitu seterusnya sampai 10 tahun atau 120 bulan nilai ekonomis kolam fiber menjadi nol atau tidak memiliki nilai ekonomis lagi meskipun kolam fibernya masih bisa dipakai.

Total modal yang dikeluarkan untuk investasi dimasukkan kedalam total biaya yang disusutkan (depresiation) dengan tenggang waktu sesuai dengan kebijakan yang diambil setiap perusahaan. Biaya penyusutan dibebankan dalam setiap perhitungan biaya produksi (cost production) suatu produk usaha budidaya lele seperti benih lele, lele pedaging atau indukan.

Berikut adalah berbagai komponen yang termasuk modal investasi dalam budidaya lele:
  1. Modal untuk pembuatan kolam
  2. Modal untuk pengadaan instalasi air
  3. Modal untuk pengadaan gudang pakan dan peralatan
  4. Modal untuk membangun unit pemijahan, meskipun unit usaha pembesaran lele bisa mendatangkan benih lele dari luar / dari pengusaha pembibitan, alangkah baiknya anda memiliki unit pemijahan sendiri agar lebih mandiri.
  5. Modal untuk alat transportasi
  6. Modal untuk sarana lainnya sesuai kebutuhan.

 Modal Kerja

Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai kegiatan usaha budidaya lele. Modal kerja berupa biaya operasional atau biaya untuk membeli sarana produksi budidaya, seperti benih, pakan, suplemen dan obat-obatan. Modal kerja disebut dengan biaya tidak tetap (variable cost)

  • Modal untuk pembelian benih
  • Modal untuk pembelian pakan
  • Modal untuk pembelian suplemen dan obat-obatan
  • Modal untuk biaya operasional (factory over head atau FOH) yang dikeluarkan termasuk biaya PLN, BBM (bensin/solar), kapur, pupuk, gaji karyawan, biaya perawatan, dan sewa kolam tanah (jika menyewa).

Contoh perkiraan rincian biaya yang dikeluarkan untuk FOH per kg lele pedaging setiap periode sebagai berikut:

benih                                                      = Rp. 1.100
pakan                                                      = Rp. 7.000 x 0.7 = Rp. 4.900
biaya operasionil                                      = Rp. 500
biaya supplement & obat-obatan                = Rp.1.000
total biaya produksi / kg daging lele adalah = Rp. 7.500
  • Modal untuk keperluan lain, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan kolam, penyusutan peralatan, bunga pinjaman bank, lembur, dan THR karyawan.

Jenis Permodalan dalam Usaha Budidaya Lele

Modal Sendiri atau Mandiri

Seluruh usaha budidaya lele baik pemijahan maupun lele pedaging menggunakan modal pribadi atau mandiri, tidak meminjam ke bank atau phak lainnya.

Pola Kemitraan

Usaha budidaya lele dijalankan dengan cara menjalin kerjasama, baik dengan pemodal, perusahaan pakan maupun perusahaan pembibitan. Beberapa pola kemitraan yang sering dilakukan sebagai berikut.

Pola Simpan Pinjam

Pembudidaya meminjam sejumlah modal untuk usaha budidaya lele kepada phak pemodal seperti bank. Pada akhir periode atau dalam jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan ambahan persentase bunga atau persentase keuntungan, yang besarnya telah disepakati terlebih dahulu.

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pakan

Pada pola kemitraan seperti ini, pembudidaya hanya bermitra sebatassuplai pakan untuk usaha budidaya lele tersebut. Selebihnya, pembudi daya yang menyediakan. Pembudidaya memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengelola usahanya, tetapi biasanya pembudidaya memberikan jaminan kepada perusahaan pakan senlai pakan yang akan digunakan.

Pola Kemitraan Bagi Hasil

Pola kemitraan yang terjadi antara pembudidaya dan pihak lain, seperti pemodal atau perusahaan budidaya lele dengan sisetem sharing. Contohnya pembudidaya hanya memiliki sejumlah kolam, semua biaya operasional dan sarana produksi budidaya disuplai dari pemodal atau perusahaan budidaya. Persentase pembagian keuntungan untuk pembudidaya 20% dan pemodal 80%.

Pola Kemitraan Inti Plasma

Saat ini pola kemitraan inti plasma paling banyak dilakukan. Pada pola ini, pembudidaya lele bermitra dengan perusahaan budidaya selaku inti. Banyak pola kerjasama yang ditawarkan, seperti bagi hasil atau sistem harga kontrak. Namun, prinsipnya semua sama, yaitu perusahaan budidaya berperan sebagai inti untuk membina pembudidaya lele yang menjadi plasmanya agar lebih maju dan mandiri.

Demikian ulasan tentang modal usaha budidaya lele, semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan banyak manfaatnya. Bagi anda yang ingin menambahkan informasi mengenai permodalan dalam usaha budidaya lele dipersilahkan untuk memberikan masukannya pada kolom komentar. Adapun ulasan lebih rinci mengenai keperluan modal usaha dalam suatu unit usaha budidaya lele akan di ulas secara rinci dalam tulisan yang lain. 

Pendederan: Kultur Artemia dijadikan Pakan Alami untuk Benih Lele


Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang primitif  yang termasuk dalam Filum Arthropoda, kelas Crustacea, Ordo Anostraca, Famili Artemidae, Genus Artemia. Dari genus artemia dikenal beberapa spesies antara lain Artemia salina, A. Persimilis, A. Monica dan A. Oddessensis.

Artemia merupakan salah satu zooplankton yang dapat hidup di laut, pada berbagai kisaran salinitas dari 5-300 ppt. Namun, untuk pertumbuhannya Artemia membutuhkan salnitas antara 30-50 ppt. Artemia juga dikenal sebagai hewan euroksibion, yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang luas akan kandungan oksigen (DO). Pada kandungan oksigen 1 ppm Artemia masih dapat bertahan, sebaliknya pada kandungan oksigen terlarut tinggi sampai mencapai kejenuhan 150 %, Artemia masih dapat bertahan hidup. Namun untuk tumbuh optimal kandungan oksigen (DO) yang cocok adalah diatas 3 ppm. Sedangkan suhu yang cocok untuk hidup optimal adalah 25 ˚C – 30 ˚C dan pH 7,5 – 8,5.

Artemia juga tahan terhadap perairan yang kandungan amonianya tinggi. Pada kondisi perairan yang kandungan amonianya mencapai 90 ppm masih dapat ditoleransi  oleh hewan ini. Akan tetapi, agar pertumbuhan Artemia bagus, kandungan amonia pada media budidaya sabaiknya dibwah 80 ppm. Perkembangan Artemia tidak selalu terjadi melalui perkawinan, kerena hewan ini mempunya dua cara bereproduksi, yaitu secara biseksual dan pertenogenesis. Perkembangan denan biseksual terjadi melalui perkawinan. Adapun perkembangbiakan dengan pertenogenesis, Artemia betina dapat mereproduksi tanpa melalui perkawinan.

Pada kondisi lingkungan yang optimal, baik induk yang mereproduksi secra bisksual maupun pertogenesis akan menghasilkan nauplius. Sebaliknya bila kondisi lingkungan kurang menguntungkan, maka induk Artemia yang semula melahirkan akan menghasilkan telur bercangkang tebal yang disebut kista. Dengan demikian. Selain bersifat ovovivipar (melahirkan telur yang sudah menjadi anak) dalam melahirkan, Artemia juga bersifat vivipar  (mengeluarkan telur).

 Artemia bersifat pemakan segala atau omnivora. Di alam bebas, Artemia memakan berbagai macam jasad mikro, misalnya microalgae atau alga bersel satu, detrititus, bakteri maupun cendawan. Jenis-jenis alga yang biasa menjadi mangsa Artemia diantaranya adalah Dunaliella, Platymonas, dan Strephanoptera oracetis. Namun dalam pemeliharaannya, Artemia bisa diberi pakan berupa dedak haluss yang disaring dan tepung terigu yang dilengkapi vitamin ssebagai penunjang pertumbuhannya.
Untuk menyediakan nauplius Artemia sebagai pakan larva-benih ikan lele, maka perlu melakukan penetasan kista artemia. Sekarang telah banyak merek dagang kista Artemia yang berasal dari berbagai negara yang terkenal, diantaranya Chili, Amerika, dan Cina.


Penetasan kista Artemia dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat pada tingkat 10 liter – 20 liter per menit. Komposisi 5 g kista Artemia per liter sudah cukup untk menetaskan kista tersebut. Untuk menghasilkan kuantitas maksimal dari neuplius perlu dilakukan decapsulasi. Perlakuan decapsulasi ini dimaksudkan untuk menipiskan kulit kisa Artemia, sehingga proses penetasannya lebih cepat. Bahan yang dipakai dalam proses decapsulasi bisa berupa larutan natrium hipoklorit (NaHOCL). Selain untuk menipiskan kulit kista, NaHOCL  juga  berfungsi sebgai desinfektan terhadap bakteri dan jamur pengganggu.

Adapun cara melakukan decapsulasi adalah sebagai berikut. Telur (kista) Artemia direndam dalam air tawar, dengan perbandingan12 ml air tawar per 1 g kista Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbenuk corong yang bagian dasarnya bisa dibuka. Penggunaan tabung berbentuk corong ini bertujuan agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah, tanpa mengganggu kista. Dari bagian dasar corong diberi aerasi. Penetasan dilakukan pada suhu kamar. Setelah satu jam, suhu air diturunkan hingga 15 ˚C, dengan penambahan es. Setelah suhu turun, baru ditambahkan NaHOCL 5,25 % sebanyak 10 ml untuk 1 g kista. Setelah 15 menit, larutan NaHOCL dibuang, kemudian kista dicuci dengan air laut dan dibilas 6-10 kali hingga pengaruh NaHOCL benar-benar hilang.

Selam decapsulasi, telur yang semila berwarna coklat akan berunah berwarna putih, kemudian berubah lagi berwarna oranye. Setelah decapsulasi, telur itu dapat disimpan untuk dapat detetaskan atau bisa juga langsung diberikan sebagai pakan larva ikan lele.

Telur yang di-decapsulasi dapat ditetawskan dalam bak berbentuk corong. Penetasan dilakukan pada suhu 20 ˚C. Jangka waktu penetasan berkisar antara 24 - 28 jam. Bak penetasan ditutup supaya gelap dan diberi aerasi kuat. Agar artemia tumbuh denagan baik, sebaiknya padat penebarannya jangan terlalu tinggi, yaitu berkisar antara 10.000 – 15. 000 ekor/liter air.

Selama pembesaran, artemia diberi pakan berupa tepung terigu atau dedak halus sebanyak 1-3 g/100 liter air. Dalam waktu 15 hari, artemia akan menjadi dewasa dan dapat menghaslkan telur lagi, selama pemeliharaan, salinitas dinaikkan secra bertahap, terutama menjelang artemia dewasa. Salinitas  yang sesuai pada tahao ini adalah sekitar 55 ppt. Selanjutnya terus dinaikkan secara berturut-turutmenjadi 72 ppt dalam waktu 2 hari, dan 90 ppt 3 hari kemudian. Salinitas 90 ppt dipertahankan hingga artemia mengandung. Untuk mendapatkan kista, salinitas dinaikkan lagi menjadi 110-120 ppt, hingga artemia memijah dan bertelur. Dengan salinitas tersebut, telur akan megapung karena berat jenisnya lebih rendah dibanding air garam. Untuk mendapatkan kista artemia, dapat diatur dengan menaik-turunkan salinitas.

Parameter Air Kolam Budidaya Lele




Dalam budidaya ikan lele yang menerapkan sistem padat tebar membutuhkan pengelolaan air yang ekstra, karena kondisi ikan lele yang padat menyebabkan segala aspek yang dibutuhkan ikan lele tidak mencukupi, ditambah lagi pemberian pakan yang tinggi akan mempercepat penurunan kualitas air.
Air sebagai media seluruh aspek yang terdapat pada ekosistem kolam, air bukan hanya H2O saja, tetapi mengandung unsur-unsur bentuk ion maupun senyawa organik. Konsentrasi senyawa organik terlarut, gas-gas terlarut, suspensi material, unsur-unsur dalam bentuk ion dan populasi mikroorganisme dalam air sangat menentukan kelayakan air tersebut dalam budidaya ikan lele.
Beberapa parameter air yang perlu penanganan untuk mempertahankan kualitas air diantaranya parameter fisik, kimia dan biologi air. Parameter kualitas air budidaya ikan lele adalah selalu dinamis akibat dari perubahan lingkungan, cuaca dan proses-proses biologis didalamnya seperti proses fotosintesis, respirasi dan ekskresi hasil-hasil metabolisme.
Berikut adalah parameter-parameter air yang sangat menentukan keberhasilan dalam budidaya ikan lele.

1. Dissolved Oxygen (DO) atau Kelarutan Oksigen di Air Kolam

Oksigen yang diperlukan ikan lele untuk pernapasannya harus terlarut dalam air. Tidak seperti ikan jenis lain, seperti ikan bandeng yang memerlukan kadar oksigen terlarut lebih tinggi karena pada ikan bandeng dan sejenisnya oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga bila ketersediaannya dalam air tidak mencukupi, maka segala aktivitas ikan akan terhambat. 
Berbeda dengan ikan lele, ikan lele karena sistem pernapasannya menggunakan insang dan insang ikan lele dilengkapi dengan labirin maka kandungan oksigen dalam air atau DO tidak terlalu signifikan terhadap ikan lele. Perlu anda ketahui bawha ada beberapa warga yang memanfaatkan saluran got atau comberan sebagai tempat pemeliharaan ikan lele dan ternyata ikan lele masih tetap hidup dan tumbuh besar di sana, walaupun got atau comberan bukan tempat yang layak bagi pemeliharaan ikan lele.
Meskipun ikan lele mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen 3 ppm, namun konsentrasi minimum yang masih dapat diterima sebagian besar spesies ikan untuk hidup dengan baik adalah 5 ppm. Ikan lele masih dapat bertahan hidup pada kolam pemeliharaan dengan kadar oksigen rendah yaitu dibawah 4 ppm, akan tetapi nafsu makan ikan lele mulai menurun akibatnya pertumbuhan ikan lele akan terhambat. 
Untuk pemeliharaan ikan lele, konsentrasi oksigen terlarut dalm air atau DO idealnya pada pagi hari DO > 4 ppm sedangkan siang hari DO > 6 ppm. Pada siang hari, ketika terjadi fotosontesis, jumlah oksigen terlarut cukup banyak. Sebaliknya pada malam hari atau ketika cuaca mendung tidak terjadi fotosintesis, maka oksigen pada waktu itu digunakan oleh ikan lele dan jasad renik lainnya di dalam kolam sehingga sering terjadi penurunan konsentrasi oksigen secara drastis.
Konsentrasi oksigen terlarut paling rendah biasanya terjadi sesaat sebelum matahari terbit. Sesaat setelah matahari terbit, proses fotosintesis dimulai dan makin meningkat sejalan dengan peingkatan intensitas cahaya matahari. Proses fotosintesis oleh fitoplankton yang tumbuh dalam air kolam atau tambak dapat menghasilkan oksigen dengan reaksi sebagai berikut:

6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2

Jika anda perhatikan reaksi yang terjadi dalam fotosintesis di atas, oksigen yang dihasilkan yang larut di air atau DO sangat banyak sekali, terkadang mencapai 250 % saturasi. Produksi oksigen melalui proses fotosintesis tersebut tergantung antara lain pada keadaan penyinaran matahari dan kepadatan plankton. Konsentrasi oksigen terlarut mencapai maksimum pada saat selisih oksigen yang diproduksi pada proses fotosintesis dan oksigen yang digunakan pada proses respirasi paling besar. Kondisi tersebut dicapai pada pukul 14.00 – 17.00. setelah itu konsentrasi menurun karena laju respirasi lebih dominan daripada laju fotosintesis.
Mengelola kandungan DO dalam perairan kolam sangat erat hubungannya dengan jumlah dan jenis fitoplankton, biomass ikan, banyak sedikitnya bahan organik dalam kolam, aktivitas mikroorganisme dan lainnya yang akan mempengaruhi ekosistem dalam kolam. Ada beberapa cara mengelola kandungan DO dalam perairan  diantaranya dengan penggantian air dan penggunaan alat batu. Masalah konsentrasi oksigen terlaarut juga dapat diperkecil melalui pengaturan pemberian pakan.
Kelebihan pembeian pakan biasanya diikuti dengan proses pembusukan yang memanfaatkan oksigen terlarut dalam air kolam dan hasil akhirnya adalah bahan anorganik yang merupakan pupuk bagi fitoplankton. Pertumbuhan fitoplankton yang padat (Blooming Plankton) dalam air kolam yang dikelola secara intensif dapat membentuk lapisan hijau di permukaan air yang mampu menghambat penetrasi cahaya matahari dan menghambat fotosintesis di dasar kolam. Pada kondisi lanjut, penumpukan panas pada lapisan padat plankton akibat radiasi ultraviolet mampu menimbulkan kematian fitoplankton secara masal yang dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut secara drastis. Pada budidaya ikan lele intesif membuat kolam model semi indoor sangat cocok untuk mengatasi paparan radiasi ultraviolet, kolam diberi naungan yang transparan biasanya dari bahan waring yang banyak di jumpai di pasaran sehingga kadar paparan radiasi ultraviolet dapat berkurang.


2. Derajat Keasaman atau Basa (pH) Air Kolam

pH air adalah kualitas air yang menunjukkan tingkat keasaman atau basa suatu perairan. Jika pH < 7 maka air kolam bersifat asam dan jika pH > 7 maka air kolam bersifat basa atau alkalis. Pada air kolam pemeliharaan ikan lele dengan segala aktivitas fotosintesis dan respirasi yang hidup di dalamnya membentuk reaksi berantai karbonat-karbonat sebagai berikut:
CO2 + H2O → H2CO3 → H+ +HCO3 → 2H+ + CO32-
Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion  H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi dengan aktivitas fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, menyebabkan pH air naik.
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan kolam budidaya karena mempengaruhi kehidupan jasad renik di dalamnya. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada pH rendah (artinya keasamannya tingggi) kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang. Hal sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya ikan lele akan berhasil baik jika kualitas air pada pagi hari  dengan pH 7.5 – 8.0 dan siang hari dengan pH 8.0 – 8.5.
Berikut adalah tabel hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya.

pH Air
Pengaruh terhadap Ikan Budidaya
< 4.5
Air bersifat racun bagi ikan
5 – 6.5
Pertumbuhan ikan terhambat dan ikan sangat sensitif terhadap bakteri dan parasit
6.5 – 9.0
Ikan mengalami pertumbuhan optimal
> 9.0
Pertumbuhan ikan terhambat

Pada malam hari tidak ada CO2 yang diambil dari kolam justru semua organisme melepas CO2 hasil dari respirasi, CO2 ini bereaksi dengan ion karbonat dan molekul air membentuk ion bikarbonat , ion ini akhirnya berdisosiasi (memecah ) untuk melepas ion Hidrogen sehingga pH air turun. Hal ini terjadi juga pada saat cuaca mendung dan saat hujan, pH air cenderung turun.
Pada siang hari CO2 digunakan fitoplankton untuk proses fotosintesis sementara CO2 dihasilkan pada siang maupun malam hari dalam proses respirasi, oleh karena itu CO2 terlarut biasanya rendah pada siang hari. Fitoplankton menggunakan CO2 sepanjang hari untuk proses fotosintesisnya terjadi akumulasi ion karbonat yang akhirnya terhidrolisis sehingga menyebabkan kenaikan pH air. Pada sore hari saat konsentrasi oksigen terlarut mencapai maksimum, pH naik mencapai 9 - 9.5 karena CO2 dimanfaatkan dalam proses fotosintesis.
Ikan lele sangat rentan terhadap perubahan pH yang menyebabkan lele mudah stress, biasanya ditandai dengan banyak lele yang menggantung dipermukaan. Dinamika pH harian masih dapat ditolerir ikan lele jika perubahan pH tidak terlalu besar perbedaannya antara siang dan malam hari serta menjaga alkalinitas air agar terjadi buffer pada perairan kolam. Namun, bila pH mencapai lebih dari 10 maka pergantian air harus segera dilakukan karena merupakan indikator kemampuan buffer air yang rendah akibat alkalinitas rendah. Idealnya dalam perairan kolam alkalinitas > 80 ppm.

3. Suhu

Suhu air dipengaruhi oleh terpaan sinar matahari, suhu udara disekitar kolam dan cuaca. Perubahan suhu yang drastis dapat mematikan ikan karena terjadi daya angkut darah, perlu diketahui bahwa daya angkut darah akan lebih rendah pada suhu tinggi. Suhu air sangat berpengaruh pada kehidupan dan pertumbuhan ikan, jika suhu terlalu rendah, maka akan menghambat proses-proses metabolisme ikan lele.
Suhu dapat mempengaruhi nafsu makan ikan,  ternyata ikan lele relatif lebih lahap makan pada pagi dan sore hari sewaktu suhu air berkisar 27 – 28 ˚C. Suhu berpengaruh pada faktor pemicu outbreak penyakit infeksi, kadar ammonia dan DO serta pH air.
Suhu juga mempengaruhi kekentalan air, karena suhu disekitar kolam atau terik matahari dapat mempengaruhi pergerakan mineral-mineral dalam air kolam sehingga dapat memungkinkan terjadinya pembalikan lapisan air. Suhu yang ideal pada budidaya ikan lele berkisar antara 28 – 30 ˚C. Pada suhu 18 – 25 ˚C ikan masih bertahan hidup tetapi nafsu makannya mulai menurun. Suhu air 12 – 18 ˚C mulai berbahaya bagi ikan, sedangkan suhu dibawah 12 ˚C ikan tropis termasuk lele mati kedinginan.
Pergantian atau pencampuran air merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengaruh suhu tinggi. Pergantian air yang diupayakan untuk pengenceran metabolit sekaligus dapat memengaruhi pengaruh suhu tinggi.


4. Kecerahan

Kecarahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air dan dinyatakan dengan (%), dari beberapa panjang gelombang  di daerah spektrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air.
Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air. Kekeruhan dipengaruhi oleh: (1) benda-benda yang halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan sebaginya, (2) adanya jasad-jasad renik (plankton), dan (3) warna air.
Tingkat kecerahan kolam budidaya lele juga harus kita perhatikan tujuannya agar kita tahu lebih dini proses asimilasi pada air kolam, lapisan-lapisan manakah yang tidak keruh, yang agak keruh, dan yang paling keruh. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih baik untuk kehidupan ikan.
Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton. Bila kecerahan disebabkan oleh plankton, maka kecerahan mencerminkan jumlah individu plankton, yaitu jasad renik yang melayang dan selalu mengikuti gerak air. Plankton yang mengandung klorofil dan mampu melakukan fotosintesis disebut fitoplankton, sedangkan plankton yang memakan fitoplankton disebut zooplankton. Fitoplankton terdiri dari dari berbagai jenis yang masing-masing berlainan warna yang biasanya tampak sebagai warna air. Bila warna air hijau tua, plankton yang dominan adalah Cyanophyceae, Microcystis dan Anabaena yang mengandung klorofil berwarna hijau tua. Warna air hijau muda biasa didominasi Chlorophyta. Warna air hijau kecoklatan mencerminkan dominasi Diatomae dari klas Bacillariophyta, sedangkan Dinoflagellata memberikan warna coklat kemerahan pada air. Warna air hijau muda biasanya lebih baik bagi lele karena mengandung banyak Chlorophyta.
  1. Beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman dan dominasi plankton dikolam antara lain adalah:
  2. Ketersediaan bibit plankton
  3. Musim / cuaca
  4.  Ketersediaan nutrien (ratio N/P), perbedaan rasio N/P pada setiap kolam menimbulkan dominasi plankon yang berbeda, hal ini disebabkan karena setiap jenis plankton membutuhkan rasio N/P yang berbeda untuk pertumbuhan optimalnya dan juga C/N ratio yang menujukkan tingkat kesuburan perairan.
  5. Keberadaan zooplankton sebagai konsumen tingkat pertama untuk fitoplankton dapat berpengaruh pada kelimpahan dan dominasi yang terjadi
Dominasi plankton bisa ditentukan oleh perbandingan nitrogen, dan fosfor serta salinitas. Chlorophyta yang berwarna hijau mendominasi air yang bersalinitas rendah. Diatomae yang berwarna kecoklatan yang mendominasi perairan dengan N : P = 10-20 : 1. Dinoflagellata yang berwarna merah dan dapat mengeluarkan racun tumbuh subur pada perairan N : P kurang dari 10 : 1.
Semua plankton jadi berbahaya kalau sudah kurang dari 25 cm kedalaman keping secchi. Cara pengukurannya. Lingkaran tripleks berdiameter 30 cm di cat hitam putih berselang-seling dalam kuadran serta diberi pemberat supaya dapat tenggelam dan dilangkapi tali atau tangkai untuk mengukur kedalaman pada saat keping secchi hilang dari pandangan. Kecerahan yang baik bagi usaha budidaya ikan lele berkisar antara 25 – 30 cm yang diukur dengan menggunakan keping secchi. Jika kecerahan  sudah mencapai kedalaman kurang dari 25 cm, pergantian air sebaiknya segera dilakukan sebelum fitoplankton mati berurutan yang diikuti penurunan oksigen terlarut atau DO secara drastis. Bila air terlampau cerah, hara nitrogen biasanya menjadi pembatas pertumbuhan plankton, jadi perlu ditambahkan pupuk urea atau ZA atau KNO3 sebagai sumber nitrogen.

5. Asam Belerang (H2S)

Asam belerang atau hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas beracun yang dapat larut dalam air. Akumulasinya di kolam biasanya ditandai dengan endapan lumpur hitam berbau khas seprti telur busuk atau belerang. Sumber utamanya adalah hasil dekomposisi sisa-sisa plankton, kotoran ikan dan bahan organik lainnya. Bahan organik selain dapat menghasilkan amoia juga memproduksi asam belerang. Persentase H2S pada pH 7,0 dan suhu 26 ˚C mencapai 49,7% sedangkan pH 9,0 dan suhu 30 ˚C hanya 0,9%.
Parameter standar kualitas air dalam budidaya ikan lele, konsentrasi H2S berkisar antara 0,02 – 0,2 ppm. Jika konsentrasi H2S yang terlarut dalam air kolam berlebihan yaitu pada konsentrasi H2S berkisar antara 0,1 – 0,2 ppm maka ikan bisa keracunan (kehilangan keseimbangan) dan pada konsentrasi 0,25 ppm kematian masal biasanya terjadi.
Untuk mengatasi atau menghilangkan pengaruh H2S yang terlarut dalam air kolam, maka cara yang terbaik adalah dengan pergantian air dan pengerukan tanah dasar waktu persiapan kolam. Suasana aerob di dasar kolam juga dapat mengurangi pengaruh H2S. Pada konsentrasi oksigen terlarut (DO) tinggi, H2S dioksidasi menjadi H2SO4, aerasi sangat membantu terciptanya suasana aerob di dasar kolam.

6. Amonia (NH3)

Amonia (NH3) dalam air berasal dari perombakan bahan-bahan organik dan pengeluaran hasil metabolisme ikan melalui ginjal dan jaringan insang.  Disamping itu, amonia dalam kolam juga dapat terbentuk sebagai hasil proses dekomposisi protein yang berasal dari sisa pakan atau plankton yang mati. Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein menghasilkan amonium (NH4+) dan amonia (NH3). Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berlangsung lancar maka terjadi pembusukan NH3 sampai pada kosentrasi yang membahayakan ikan lele.
Persentase NH3 dari amonia total dipengaruhi oleh suhu dan pH air. Makin tinggi suhu dan pH air makin tinggi pula persentase konsentrasi NH3, dalam artian peluang ikan lele keracunan NH3 lebih besar pada suhu dan pH tinggi. Sebagai contoh pada pH 8,0 dan suhu 25 ˚C persentase NH3 hanya 5,380, sedangkan pada pH 9,0 dan suhu 30 ˚C persentase NH3 mencapai 44,600. Pada budidaya ikan lele idealnya konsentrasi NH3 < 0.01 ppm.
Pergantian air merupakan alternatif untuk mengatasi masalah konsentrasi amonia yang tinggi dalam air kolam. Beberapa bahan dewasa ini diperdagangkan untuk mencegah ikan kercunan amonia adalah BN-9 atau BN-12 dan Ammocidin yang merupakan awetan dari bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter.

7. Kesadahan

Kesadahan atau kekerasan (hardness) air berbeda dengan keasaman air, sekaslipun erat kaitannya. Keduanya dapat debedakan dengan mudah. Air asam biasanya menunjukkan reaksi lunak, sedangkan aur sadah biasanya keras. Oleh karena itu kesadahan air sering disebut kekerasan air (hardness).
Kesadahan air disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul. Elemen terbesar yang terkandung dalam air adalah kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), natrium (Na+) dan kalium (K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-, HCO3-,SO4-, Cl-, NO3-, PO4-. Kadar mineral tersebut  dalam tanah sangat bervariasi, tergantung jenis tanahnya. Kandungan mineral inilah yang menentukan parameter keasaman dan kekerasan air.
Perhitungan derajat kekerasan ada berbagai cara sesuai dengan asal dilakukannya, di Indonesia menggunakan cara Jerman yang populer dengan sebutan dGH (degress of German total Hardness)atau ditulis dengan nama derajat degress Hardness (˚dH). Dengan memperhatikan kadar CaCO3 akhirnya orang membuat istilah untuk menyatakan tingkat kekerasan suatu jenis air.
Jenis hewan budidaya di dalam air membutuhkan kekerasan tertentu. Namun, kebanyakan senang berada di air yang lunak. Umumnya hewan air lebih mudah beradaptasi dari air yang sifatnya lunak ke keras dibanding keras ke lunak. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air termasuk ikan lele lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan/kekerasan 3 – 10 ˚dH.
Bila parameter air yang lain berada pada kisaran optimum, maka kesadahan juga berada pada kisaran demikian. Oleh karena itu, bila parameter air yang lain optimum, kesadahan dapat diabaikan.

8. Salinitas

Salinitas adalah konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh dari air laut. Konsentrasi garam-garam jumlahnya relatif sama dengan dalam setiap contoh air atau air laut, sekalipun pengambilannyadilakukan ditempat yang berbeda. Oleh karena itu, tidak diperlukan utuk mengukur seluruh salinitas dari sontoh setiap kali. Cara yang biasa dilakukan untuk menentukan salinitas adalah menghitung jumlah kadar garam yang dalam suatu sampel disebut chlorinitas.
Ikan lele adalah ikan air tawar (salinitas < 0 – 5 ppt), sehingga ikan lele tidak dapat mentolerir salinitas yang luas (euryhaline). Di beberapa daerah pesisir misalnya Cirebon tepatnya di kecamatan Gunung Jati, Suranenggala, dan kapetakan. Kadar garam cenderung tinggi terutama saat kemarau tiba. Karena sungai-sungai di beberapa kecamatan tersebut airnya asin. Akibatnya air laut menggantikan air tanah yang tawar, sehingga tidak sedikit dijumpai sumur-sumur warga rasanya sangat asin termasuk sumur saya sendiri. Di kecamatan kapetakan sendiri jika pada saat kemarau hanya sedikit kolam lele yang beroperasi akibat kadar garam yang sangat tinggi.

Tips dalam Pengepakan dan Pengangkutan Bibit Lele yang Baik


Salam sukses petani lele Indonesia, selamat datang kepada para pengunjung dan terimakasih sudah mengunjungi blog saya, saya berharap semoga tulisan ini dapat memberi banyak manfaat kepada para pembaca. Kali ini saya mengetengahkan beberapa tips Pengepakan dan Pengangkutan Bibit Lele.

Bagi anda yang baru menjalankan usaha budidaya pembesaran lele atau anda yang ingin bergelut dengan si ikan berkumis alias ikan lele anda perlu memperhatikan cara Pengepakan dan Pengangkutan Bibit Lele agar bibit yang di angkut dari tempat pembenihan tidak mudah stres dan mati.

Jika anda tidak ingin direpotkan dengan kegiatan pembenihan, anda dapat langsung membeli benih lele yang berukuran 3-5 atau 5-7 dari pengusaha pembenihan atau pengusaha pemijahan di kampung anda. Yang perlu anda lakukan seyogyanya menyiapkan kolam pembesaran terlebih dahulu dan buat jadwal kapan benih akan di tebar. Jika kolam telah siap, maka benih dapat ditebar. Berikut Tips dalam Pengepakan dan Pengangkutan Bibit Lele yang Baik yang perlu anda simak.

  • Sebelum pengiriman, puasakan benih selama beberapa jam, dan pemberian pakan terakhir sebelum dipuasakan dicampur dengan supplement plus imunostimulan untuk daya tahan tubuh.
  • Jika benih di tempatkan dalam kolam tanah yang luas kira-kira 5m2 maka. Lakukan penangkapan benih dengan jaring halus secara perlahan dan hati-hati agar benih tidak terlalu stres.
  • Pengangkutan bibit dalam jerigen memang lebih praktis dan tidak membutuhkan oksigen tambahan seperti halnya dalam kantong plastik. Namun kepadatan bibit dalam jerigen perlu diperhatikan, untuk jerigen dapat menampung bibit lele ukuran 3 -5 tidak lebih dari 100 ekor/10 liter air.
  • Air yang digunakan dalam pengangkutan harus benar-benar steril dan mengandung oksigen yang cukup. Suntikan oksigen bebas dengan aerator sebelum air dimasukkan jerigen.
  • Jangan gunakan antibiotik jenis apapun sebagai dopping atau alasan untuk mengurangi timbulnya buih pada air, karena justru dengan pembekalan antibiotik tersebut, bibit akan kebal dan pertumbuhan terhambat dalam kolam pembesaran. Lebih aman digunakan larutan imunostimulant yang bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh ikan dan mengurangi timbulnya buih yang menandakan ikan stress. larutan imunostimulant bekerja seperti halnya imunisasi bagi tubuh bayi manusia.
  • Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan pada sore hari, setelah bibit atau benih sampai dilokasi atau dikolam pembesaran maka sebelum bibit ditebar lakukan aklimatisasi benih.
  • Jika anda mengangkut benih dengan kantong plastik maka, kantong plastik yang berisi benih di masukkan ke kolam biarkan selama 15-20 menit buka pengikat kantong plastik kemudian air kolam dimasukkan secara perlahan kedalam kantong plastik, kantong plastik dibiarkan terbuka agar benih bisa keluar dengan sendirinya. Benih yang tidak keluar dari kantong plastik dituang secara perlahan kedalam kolam. Setelah benih ditebar ke kolam dan benih sudah menyebar dengan gerakan aktif diberi pakan sesuai bukaan mulut ikan.
Demikian pembahasan Tips dalam Pengepakan dan Pengangkutan Bibit Lele yang Baik, semoga bermanfaat. Kepada para cendikia jika dalam tulisan ini terdapat kekeliruan, mohon masukannya agar tulisan ini banyak manfaatnya bagi para petani khususnya ikan lele.

CARA MEMBUAT PASTA PENGGANTI CACING SUTRA



Pada usaha pembenihan lele, cacing mutlak dibutuhkan, namun dalam keadaan tertentu cacing susah didapat untuk itu pasta sangat membantu mengatasi sulitnya mendapat cacing. Pasta juga sangat membantu menghemat penggunaan cacing dan hasilnya sangat bagus, ikan sangat nafsu dan cepat besar.

Bahan-bahan:

5 sendok makan tetes/molases

5 sendok makan gula pasir

5 bungkus sasetan trasi udang

1 kg D nol


Caranya:

  1. Gula pasir ditaruh panci yg diberi air setengah liter direbus sampai mendidih, kemudian trasi dihancurkan diremas masukan air yg telah mendidih
  2. D nol diaduk rata dg tetes
  3. Tuangkan air mendidih tadi kedalam adonan Dnol sambil diaduk rata sehingga membentuk pasta/gel.
  4. Pasta siap dipakai
  5. Pasta diberikan sesuai kebutuhan (tdk berlebihan)

Masih dalam tahap uji coba, tidak disarankan, hanya pengganti jika tidak ada cacing, biar bagaimanapun juga cacing lebih unggul. Semoga manfaat. Amiin