Tips Dan Cara Pemasaran Ikan Lele



Cara Dalam Pemasaran Benih Dan Konsumsi Ikan Lele – Pada awalnya komoditas ikan lele hanya sebatas memenuhi kebutuhan pasar nasional, seperti pasar tradisional, rumah tanga, rumah makan, restoran, hotel dan supermarket. Dengan terus meningkatnya permintaan, kini lele telah mampu menembus pasar dunia. Di antara negara peminat yaitu Amerika, Jerman, Swis, Jepang, Korea, bahkan Timur Tengah juga telah siap menerima produk yang berbahan ikan lele.

Produk yang diminati tersebut beragam, mulai dari lele mentah hingga produk olahan. Lele mentah berupa filet, buang isi perut, buang kepala. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk, sosis, dan bakso yang berbahan baku daging ikan lele. Permintaan ini terus meningkat, bahkan belum bisa dipenuhi, karena produksi lele dalam negeri tidak stabil dan masih sangat tergantung dari iklim. Kondisi seperti ini, belum mampu menjamin kebutuhan ekspor.

Pada prinsipnya ada dua pasar potensial untuk komoditas lele, yaitu pasar lokal dan pasar ekspor. Untuk pasar lokal biasanya berupa lele konsumsi, bibit lele dan indukan. Indukan dan bibit lele untuk kebutuhan para pengepul dan peternak. Lele hidup untuk kebutuhan pasar tradisional dan pemancingan. Lele untuk konsumsi umumnya dalam bentuk hidup dengan ukuran 7-8 ekor per kg. Sementara itu, permintaan untuk pemancingan berukuran 3-4 ekor hingga di atas 1 kg per ekor.

Di suatu daerah, saat ini terkadang permintaan untuk pemancingan jauh melebihi kebutuhan pasar tradisional. Akibatnya terkadang kebutuhan pasar tradisional tidak bisa dipenuhi karena harga pemancingan lebih tinggi maka peternak atau pengepul lebih senang menjualnya ke pemancingan.

Untuk pasar ekspor biasanya berupa lele mentah dan olahan. Lele mentah berupa filet (daging), buang kepala atau buang isi perut. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk dan lele asap. Lele asap Indonesia kini telah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.

Peningkatan industri pangan juga menyebabkan ikan lele menjadi incaran. Selain rasanya yang gurih, tulangnya pun bisa diolah. Produk olahan lele yang beragam, mulai dari lele goreng, lele bumbu rendang, lele kremes, lele bakar, sop lele, baso lele, sosis, pempek lele, rolade lele, katsu lele, hingga pizza lele. Dengan demikian, kebutuhan ikan berkumis ini tentunya akan terus meningkat.



Hal ini tentu saja menjadi peluang usaha yang cukup menggiurkan karena lele bisa dijadikan sebuah lahan usaha yang menguntungkan. Mulai dari pembenihan, pembesaran, industri olahan, bahkan tengkulak, pedagang, dan pemilik rumah makan juga bisa ikut merasakan prospek bisnisnya dengan harga menguntungkan tanpa harus ragu dengan pasar.

Pemasaran Ikan Lele Berdasarkan Jenis Dan Ukuran

Pada dasarnya, lele yang dijual di pasaran terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu benih, konsumsi, dan apkir. Masing-masing kategori memiliki pasarnya sendiri. Benih lele yang umum dijual berukuran 2-3 cm, 4-5 cm, 5-6 cm, 6-8 cm, 8-10 cm, dan 10-12 cm. Lele konsumsi yang diminati konsumen biasanya antara 6-10 ekor per kg. Sementara itu, lele yang berukuran 1-5 ekor per kg dikategorikan lele apkir karena sudah melewati ukuran konsumsi.


Pemasaran Benih Ikan Lele
Para pembenih tidak perlu khawatir harga benih anjlok atau lele akan booming. Kemungkinan hal itu terjadi sangat tipis karena sebagian besar peternak pembesaran tidak melakukan pembenihan sendiri. Jadi, benih bisa langsung dipasarkan ke konsumen pembesaran.



Penjualannya pun bisa secara langsung atau melalui pemesanan. Penjualan benih lele biasanya dilakukan dengan sistem cash and carry atau ada uang ada barang dengan alasan ingin memutar modal untuk produksi kembali.






Pemasaran Ikan Lele Konsumsi

Lele konsumsi umumnya berukura 6-10 ekor per kg. Lele ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan ekspor, baik dalam bentuk mentah ataupun produk olahan seperti abon, keripik, kerupuk, dan lele asap. Ada tiga jalur pemasaran lele konsumsi yang bisa dilakukan hingga sampai ke pihak konsumen, caranya sebagai berikut.



1. Produsen lele menjual langsung ke konsumen.
2. Produsen menjual ke tengkulak, selanjutnya diteruskan ke pasar, lalu ke konsumen.
3. Produsen menjual ke tengkulak, lalu tengkulak menjual ke bandar, dari bandar ke pasar, dan terkahir ke konsumen.


Pemasaran Ikan Lele Afkir

Lele afkiran adalah lele berukuran besar yang ukuranya melebihi standar. Dahulu, lele apkiran cukup sulit dijual, tetapi tidak untuk sekarang. Ukuran ini banyak dicari orang untuk dijadikan ikan pemancingan atau indukan dengan harga yang tidak kalah dengan harga ikan konsumsi. Ikan ini juga banyak dijadikan olahan karena dagingnya cukup tebal sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.


Pemasaran Ikan Lele Olahan

Berbagai produk olahan berbahan daging lele kini bermunculan meramaikan pasar. Beberapa di antaranya abon, keripik, kerupuk, pempek, bakso, sosis, katsu, otak-otak, dan lele asap. Selain di dalam negeri, produk olahan lele juga diekspor ke beberapa negara seperti Belanda, Timur Tengah, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.


Kiat Dalam Pemasaran Lele

‘Bagaimana Pemasaran lele yang sudah saya produksi nantinya?’ Hal ini pertanyaan umum yang sering dilontarkan para calon pebisnis lele. Namun, cobalah berpikir bahwa lele adalah ikan konsumsi yang peminatnya sendiri belum dapat diukur secara pasti. Intinya, berapa pun jumlah lele yang diproduksi bisa habis terjual. Selain harganya yang cukup kompetitif, ketersediaannya pun mulai menipis. Dari hasil survei terhadap beberapa pedagang pecel lele, kebutuhan mereka mulai dijatah hanya 3-5 kg per harinya karena langkanya lele konsumsi, terutama pada musim-musim sulit ikan. Berikut adalah media dan tempat untuk memasarkan lele.

1. Pemasaran tradisional

Cara tradisional dilakukan dengan menawarkan langsung ke pasar, pemancingan, warung tenda, perumahan, pemasangan plang, dan penyebaran brosur atau menempelnya di tiang/dinding/pohon.


2. Pemasaran Dengan Teknologi.

Pemasaran melalui media yaitu seperti memasang iklan di majalah agribisnis, tabloid, atau koran. Selain itu, media eletronik pun bisa dimanfaatkan seperti ponsel, radio, dan internet yang bisa dipasangi iklan, balk gratis ataupun bayar. Bisa pula menawarkan lewat komunitas via email, twitter, SMS, BBM, atau facebook. Pililah yang paling sesuai dengan Anda.

Manfaat dan Step Global Pelaksanaan Teknologi RAS untuk Budidaya Ikan Lele

Untuk mendapatkan penghasilan yang besar, saat ini ada banyak sekali orang yang memulai beragam usaha, salah satunya dengan membuat sebuah peternakan. Peternakan saat ini merupakan salah satu jenis bisnis yang banyak digemar. Hal ini disebabkan karena hampir setiap orang membutuhkan protein untuk menu makannya. Namun untuk membuat sebuah peternakan memang tidak mudah. Hal ini disebabkan karena setiap hewan memerlukan perawatan sendiri-sendiri untuk bisa tumbuh dan berkemang sesuai dengan nilai pasar. Satu jenis peternakan yang paling mudah untuk di buat adalah peternakan atau budidaya ikan terutama ikan lele.




Ikan lele merupakan ikan yang mudah hidup. Bukan hanya mudah hidup. Ikan lele adalah ikan yang juga mudah dijual karena banyak sekali diminati. Dagingnya yang empuk dan juga bebas dari bau-bauan membuatnya banyak mendapatkan perhatian dari para pelaku budidaya dan konsumen.

Untuk memelihara ikan lele memang tidak sulit untuk dilakukan akan tetapi dibutuhkan banyak air untuk bisa membuat sebuah peternakan ikan lele. Ketika memelihara ikan, kita membutuhkan air yang selalu segar dan bersih sehingga habitat hidup ikan dapat terjaga sehingga mereka tidak mudah mati. Akan tetapi untuk menggunakan air dalam jumlah yang besar lalu membuangkan begitu saja pada saat sudah kotor dapat membantu mempercepat terjadinya efek pemanasan global, selain itu bagi peternak sendiri hal ini bukan hal yang menyenangkan karena air juga merupakan salah satu sumber daya alam yang perlu dibeli. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah teknologi untuk mengurangi penggunaan air segar sebagai habitat hidup para ikan.

Seperti yang telah jelaskan diatas, penggunaan air dalam jumlah yang besar merupakan salah satu masalah yang timbul dalam dunia budidaya ikan. Untuk mengatasinya kini ada sebuah teknologi bernama teknologi Recirculating Aquaculture Systems atau disebut dengan RAS. Teknologi Recirculating Aquaculture Systems merupakan teknologi yang dapat membantu para peternak ikan terutama ikan lele untuk menggunakan kembali air yang sudah kotor bekas ikan sebelumnya sehingga mengurangi penggunaan air baru untuk budidaya lele tersebut. Lalu bagaimana teknologi ini bekerja? Bagi anda yang penasaran berikut ini adalah penjelasan yang lengkap mengenai penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems atau RAS ini.

Tujuan dan menfaat dari penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya tujuan dari penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini adalah untuk mengurangi penggunaan air bersih baru sebagai salah satu sumber daya alam yang dibutuhkan dalam jumlah besar dalam dunia budidaya ikan. Teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini bisa disebut juga sebagai teknologi daur ulang air dimana air bekas kolam budidaya lele diolah kembali dengan step-step tertentu agar menciptakan air yang bersih dan segar kembali untuk digunakan kembali pada kolan budidaya sehingga mengurangi penggunaan air bersih yang memakan biaya.



Penggunaan air bersih untuk melakukan budidaya ikan memang sangat penting. Dahulu peternak ikan banyak menggunakan lahan terbuka seperti waduk dan juga menggunakan perairan besar di luar ruangan untuk membuat habitat yang selalu bersih bagi ikan-ikan mereka. Selain selalu mendapatkan habitat yang bersih, menggunakan kolam luar ruangan juga menghemat pengeluaran mereka dalam penggunaan air. Tapi dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini, kini melakukan budidaya ikan di dalam ruangan tidak lagi sulit dan juga boros. Hal ini menyebabkan peternakan ikan yang menghasilkan banyak uang tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berlokasi di dekat perairan yang besar. Mereka yang jauh dari perairan juga bisa menghasilkan banyak uang dengan memotong cost produksi dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini.



Manfaat dari penerapan teknolgi Recirculating Aquaculture Systems ini memang sangat besar bagi para pelaku budidaya. Dengan adanya keberadaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini mereka bisa menghemat penggunaan air bersih sehingga mengurangi cost produksi. Selain itu penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini juga mengurangi efek pemanasan global yang menjadi isu paling populer bekalangan ini.

Apa itu RAS

Seperti yang kita tahu, ikan membutuhkan sebuah lingkungan hidup yang bersih dan juga oksigen yang cukup untuk bisa hidup dengan baik. Oleh karena itu kolam ikan lele perlu diganti airnya secara reguler untuk memberikan oksigen tambahan dan juga mengurangi racun bekas pakan yang ada di dalam kolam. Olah karena itu bagi anda yang ingin melakukan budidaya ikan anda pasti membutuhkan banyak air bersih. Tapi hal ini dahulu, sekarang dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems anda tidak perlu banyak menggunakan air baru untuk memeliharan ikan lele anda.



Secara global, RAS atau Recirculating Aquaculture Systems sudah dijelaskan yaitu upaya untuk mendaur ulang air hasil kolam ikan yang sudah tidak bersih sehingga dapat digunakan kembali untuk menghemat penggunaan air dan memotong cost produksi ikan budidaya. Jadi air kolam yang sudah tercemar dengan limbah ikan tidak lagi dibuang tapi di olah kembali dengan menggunakan proses-proses tertentu sehingga air limbah berubah menjadi air bersih lagi sehingga bisa digunakan kembali. Hasilnya ikan anda dapat hidup dan tumbuh dengan normal dengan menggunakan air yang sudah anda gunakan untuk bidudaya. Air bersih yang dimasuksud disini bukan hanya tampilannya saja yang bening, tapi bebas dari hal-hal yang menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat atau menyebabkan ikan mati.


Bagaimana teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini dilakukan?

Tidak dapat dipungkiri, teknologi Recirculating Aquaculture Systems merupakan teknologi yang sangat bermanfat bagi para pelaku budidaya ikan. Bagi anda yang tertarik untuk menggunakan teknologi ini, berikut merupakan beberapa step yang dilakukan dalam budidaya ikan lele dengan menggunakan Recirculating Aquaculture Systems.

  • Solid removal
Solid removal adalah salah satu step dalam pelaksanaan Recirculating Aquaculture Systems ini. Solid removal juga merupakan langkah pertama dalam pelaksanaan teknologi RAS ini. Dalam step solid removal. Hal yang perlu dilakukan adalah menggunakan bahan-bahan untuk menghilangkan benda-benda atau limbah-limbah yang masih berbantuk misalnya sisa makanan yang tidak termakan, kotoran dari ikan dan limbah berbentuk lainnya dari kolam ikan lele anda.
  • Biofiltration
Setelah semua hal-hal yang berbentuk di saring pada saringan pertama, kini anda akan mendapatkan air yang bersih dari kotoran-kotaran yang tidak terlihat. Jadi step kedua yang perlu dilakukan dalam Recirculating Aquaculture Systems ini adalah menghilangkan hal-hal yang tidak terlihat tersebut. Salah satu yang perlu dihilangkan dalam langkah ini adalah amonia. Amonia merupakan salah satu gas yang terkandung dalam air kolam ikan lele yang berbahaya bagi ikan maupun lingkungan sehingga harus dihilangkan. Untuk melakukan step ini anda bisa memanfaatkan bakteri yang mengkonsumsi amonia dan mengubahnya menjadi nitrogen sehingga aman ketika dilepaskan ke lingkungan.
  • Dissolved gas control
Step terakhir dari Recirculating Aquaculture Systems ini adalah untuk membuat air hasil filter memiliki kandungan oksigen yang tinggi. Step ini merupakan step yang paling penting. Setelah step ini dilakukan maka air yang segar dan bersih ini dapat dikembalikan ke dalam kolam ikan lele yang anda miliki.

Bagaimana? Sangat mudah bukan? Kini dengan menggunakan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini anda bisa melakukan penghematan besar dalam budidaya anda.

Berita kiriman sahabat kita petani lele



bagi para pebisnis lele yang ingin usahanya eksis bukan hanya di medsos seperti facebook dll, anda dapat mengenalkan kepada publik tentang usaha anda di media yg saya bangun khusus budidaya lele, sehingga usaha anda dapat dijangkau ke seluruh pelosok jagad. kirimkan profil usaha anda, foto, berita atau apa saja tentang kegiatan budidaya anda, ke inbox facebook saya. saya akan menerbitkan kiriman anda di media web yg saya bangun

Cara Pembenihan Ikan Lele Sampai Proses Pendederan


Proses Pembenihan Ikan Lele – Dalam mendukung keberhasilan pada proses pemebenihan, induk ikan lele yang digunakan dalam pembenihan haruslah dalam keeadan sehat, siap pijah, serta siap umur dan siap ukurannya. Apapun jenisnya, bersertifikat atau tidak, yang penting memenuhi kriteria induk yang layak untuk dipijahkan.

Pengelolaan Induk Induk Lele

Membeli Dan Memilih Induk Ikan Lele Berkualitas

Induk lele bisa dibeli pada peternak yang menyediakan induk atau lembaga tertentu seperti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, di tempat pelatihan, atau hasil pembesaran sendiri. Berikut ciri-ciri dan syarat induk.
  1. Tidak sedarah seibu sebapak (inbreeding).
  2. Sehat, lincah, gesit, dan berwarna cerah.
  3. Siap pijah dan matang gonad.
  4. Ukuran jantan dan betina seimbang agar tidak saling menyerang bila dikawinkan.
  5. Organ tubuh lengkap dan tidak cacat.
  6. Tubuh bongsor dan simetris.
  7. Umur antara 10-15 bulan.
  8. Bobot badan antara 700-1.500 g.
  9. Kelamin jantan menonjol, runcing, besar kemerahan. Kelamin betina bulat, membengkak, dan agak menonjol.
  10. Perut induk betina terasa lembut dan halus bila diraba.
  11. Frekuensi pemijahan bisa 1,5-2,5 bulan sekali.
  12. Produktivitas telur 50.000-70.000 butir/kg induk.
  13. Sepanjang hidupnya lele bisa memijah lebih dari 15 kali.

Jenis Kelamin dan Induk Siap Pijah 

Menentukan jenis kelamin dan induk lele yang siap memijah tidaklah sulit karena secara fisik dan bentuk kelamin berbeda antara jantan dan betina. Jenis kelamin lele lebih mudah dibedakan saat memasuki masa matang kelamin karena akan terlihat membengkak/lebih besar dari biasanya.

Jumlah Induk Yang Dibutuhkan Untuk Pembenihan

Untuk menjamin kontinuitas, induk yang digunakan harus disesuaikan dengan target produksi. Peternak juga harus memiliki cadangan induk untuk mengantisipasi induk yang tidak mau memijah, luka, sakit, atau mati. Untuk skala produksi 100.000 ekor benih per bulan, dibutuhkan induk sekitar 12 jantan dan 18 betina. Asumsinya, satu induk betina menghasilkan 50.000 telur dengan tingkat kematian 20% akibat kanibalisme, sakit, dan mati. Periode pemijahan dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Masa Produktif Pembenihan Induk

Induk lele memiliki masa produktif dalam menghasilkan sperma dan telur. Hingga saat ini, belum ada informasi akurat yang bisa menjelaskan dengan pasti mengenai masa produktivitas induk lele. Beberapa literatur menyebutkan bahwa lele dapat dipijahkan sebanyak 15 kali. Dalam praktiknya, masih banyak induk yang dipijahkan lebih dari 15 kali dan kualitasnya tetap baik. Hanya saja, proses pengisian telur lebih lambat. Selain itu, benih yang dihasilkan cenderung bervariasi dengan benih berukuran kecil lebih banyak.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa induk lele yang terlalu besar atau telah melewati masa produktif hanya menghasilkan benih yang lambat tumbuh dengan ukuran terlalu beragam. Untuk itu, induk yang tua sebaiknya dijual dan diganti induk muda.

Perlakuan Induk Baru Datang

Induk yang baru datang biasanya stres akibat proses pengiriman selama perjalanan dan ketika dimasukkan ke kolam pemeliharaan yang baru. Akibatnya, induk tidak mau makan dan terkadang berkelahi hingga babak belur, bahkan mati. Berikut ini cara mengatasinya.
  1. Pada saat baru datang, induk disegarkan dahulu dengan cara mengalirkan air ke dalam wadah angkut sekitar 10 menit. 
  2. Induk dimasukkan ke dalam kolam yang telah dipersiapkan secara hati-hati. 
  3. Indukan baru biasanya mengalami stres antara 3-4 hari. Selama itu, induk tidak perlu diberi pakan. Pakan dapat mulai diberikan pada hari ke-4 atau ke-5. 
  4. Pemberian pakan selama 4-5 hari pertama sebaiknya dilakukan setelah hari gelap agar induk tidak kaget dan stres. Berikan pakan secukupnya agar tidak merusak air. 

Induk yang baru datang biasanya belum bisa langsung dipijahkan karena masih stres, kecuali jarak dekat atau memang masih dalam bentuk calon induk. Jarak waktu induk datang dengan rencana pemijahan minimal dua minggu.

Pengelolaan Kolam Untuk Induk Ikan Lele

Berikut adalah cara pengelolaan kolam untuk induk ikan lele yang baik dan benar:

Pemilihan Dan Ukuran Kolam Untuk Memelihara Induk

Induk lele bisa dipelihara di kolam terpal, beton, atau tanah. Ukuran kolam pemeliharaan cukup 2 m x 3 mx 0,6 m dengan tinggi air 40-50 cm. Bila memungkinkan, induk sebaiknya dipelihara di kolam berdinding semen dan dasarnya tanah. Di kolam tanah, air tidak mudah rusak dan ikan tetap sehat karena tanah merupakan antibiotik alami.

Dalam pemeliharaan, sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan di kolam terpisah. Untuk mencegah agar tidak memijah liar dan berkelahi, air dikeruhkan dengan tanah merah atau lumpur sawah hingga pekat. Demi keamanan, tutup kolam dengan waring atau penutup lainnya.Induk betina dan jantan juga bisa dipelihara dalam 1 kolam. Syaratnya, air dibuat keruh pekat dan ketinggiannya sekitar 50-70 cm.

Kepadatan Kolam Untuk Populasi Induk

Kepadatan induk dalam kolam pemeliharaan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembangannya. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah seperti indukan stres, nafsu makan menurun, berkelahi, memijah liar, atau sakit.Tingkat kepadatan induk yang sesuai dapat membuat proses pematangan gonad lebih cepat. Idealnya, tingkat kepadatan induk yaitu sekitar 5 ekor/m2. Jadi, untuk kolam berukuran 2 m x 3 m x 0,6 m bisa dipelihara induk lele sebanyak 30 ekor. Untuk kolam tanah, kepadatannya bisa lebih tinggi hingga 5-8 ekor/m2.

Manajemen Air

Agar induk tetap sehat dan terhindar dari serangan penyakit, kualitas airnya harus dijaga. Pergantian air kolam induk jangan terlalu sering, terutama bila diisi air bening sehingga dapat menyebabkan ikan memijah liar/induk betina buang telur. Bila kondisi air masih cukup baik, cukup membuang 10-15% air kolam, lalu ditambahkan air baru, bila dalam kondisi keruh, bisa diganti separuhnya. Namun, bila kondisi air sudah sangat jelek, harus dilakukan pengurasan total sebanyak 100%. Hal ini agar induk tetap sehat, nafsu makan tinggi, dan cepat matang gonad. Perlu diingat bahwa setiap pergantian air kolam induk, kekeruhan airnya harus tetap dijaga.


Pemberian Pakan Induk

Untuk memaksimalkan pematangan gonad, selain pelet, pakan yang cocok antara lain ayam, keong emas, bekicot, ikan rucah, maggot, usus ayam, kerang-kerangan, kepala udang, atau kepala tongkol. Frekuensi pemberian pakannya cukup 1-2 kali sehari, yang penting teratur.

Dosis pakan pelet per hari yang dianjurkan adalah 3-5% dari jumlah berat total induk yang dipelihara. Bila jumlah induk yang dipelihara beratnya 50 kg, jumlah pakan yang diberikan adalah 3% x 50 kg = 1,5 kg per hari. Pemberian pelet dibagi menjadi 2 kali sehari, sedangkan untuk pakan ikan atau daging cukup 1 kali sehari.

Proses Pematangan Gonad

Diperlukan perlakuan khusus agar pematangan gonad sempurna sehingga hasil pemijahan berjalan baik dan tingkat penetasan telur tinggi. Untuk itu, sebelum dipijahkan, pemberian pakan berprotein tinggi dihentikan 7-10 hari sebelumnya, terutama betina. Tujuannya untuk mengurangi kadar lemak di dalam telur serta menghentikan pertumbuhan telur baru/ muda yang menyebabkan pematangan gonad tertunda.

Induk betina yang akan dipijahkan, sebaiknya dikarantina di kolam khusus sehingga perawatan dan pakannya terjaga. Selama seminggu, induk diberi pelet 1 kali pada sore hari dengan kandungan protein 30-40%. Tambahkan multivitamin berupa asam amino bubuk (kemasan) dengan cara diseduh, lalu merendamnya bersama pelet. Tujuan pemberiannya yakni untuk memperkuat kulit telur dan mempercepat kematangan telur. Sementara itu, induk jantan tetap diberi pakan dengan kadar protein tinggi, seperti keong mas, bekicot, atau kodok yang direbus agar jumlah dan kualitas spermanya baik.

Proses Dalam Pemijahan Induk Ikan Lele

Banyak pendapat yang simpang siur mengenai lama proses pemijahan. Ada yang mengatakan 1 bulan; 1,5 bulan; 2 bulan; atau 2,5 bulan. Semua pendapat itu bisa benar, tetapi juga bisa tidak. Hal itu berkaitan dengan perawatan dan kualitas pakannya. Induk betina yang dipelihara dengan baik, pakan cukup dengan protein tinggi, kualitas airnya baik; pada dasarnya bisa dipijahkan paling cepat 1,5 bulan dari pemijahan sebelumnya. Untuk lebih aman, sebaiknya pemijahan berikutnya dilakukan sampai induk mencapai tingkat kematangan gonad sempurna; yaitu 1,5-2,5 bulan untuk betina dan 3-5 minggu untuk jantan.


Perlakuan Benih Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pembenihan Ikan Lele

Setelah proses pemijahan selesai, selanjutnya adalah telur ditetaskan, Pemeliharaan Larva Perkembangan Embrio Lele dan lain – lain.

Pendederan Benih Ikan Lele

Pendederan atau penjarangan merupakan kegiatan pembesaran benih berukuran 1-3 cm untuk dijadikan benih siap tebar berukuran 4-5 cm, 5-6 cm, 7-8 cm, 9-10 cm, dan seterusnya. Tujuan lain dari pendederan adalah memisahkan benih berukuran yang tidak seragam untuk menekan kanibalisme.

Perlakuan Induk Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pemulihan Induk Pasca-Pemijahan

Setelah pemijahan, biasanya induk akan mengalami kelelahan, bahkan terkadang luka. Hal itu diakibatkan oleh kolam yang terlalu sempit atau benturan selama pemijahan. Pada pemijahan buatan, induk akan mengalami stres yang luar biasa akibat proses stripping. Oleh karena itu, untuk memulihkan kondisi fisiknya, perlu perawatan khusus agar pulih kembali.

Induk yang selesai dipijahkan tidak boleh langsung dimasukan ke kolam pemeliharaan, tetapi harus dikarantina selama 5-7 hari di kolam terpisah. Bila langsung disatukan, biasanya akan kalah dari induk lainnya yang tidak dipijahkan. Kondisinya yang masih lemah dan ada rangsangan aroma amis telur dari induk yang habis memijah. Akibatnya, induk tersebut bisa mati atau minimal sakit.

Selama pemulihan, induk lele diberi pakan yang berprotein tinggi seperti bekicot, ayam tiren, kodok mati, isi perut ikan, atau pelet dengan kadar protein sekitar 30-40%. Untuk pakan alternatif, sebaiknya diberikan pada saat nafsu makan induk telah pulih kembali dengan frekuensi 1-2 kali/hari.

Pengontrolan Dan Perawatan Kolam Induk Lele

Agar tidak mudah rusak, kolam induk perlu dikontrol dan dirawat. Biasanya, kolam terpal yang berkerangka kayu atau bambu sering dimakan rayap sehingga menjadi rapuh, bahkan roboh. Berikut adalah aktivitas yang bisa dilakukan.
  1. Lakukan perbaikan jika ada bagian kolam yang bocor.
  2. Jaga ketinggian air agar tidak susut terlalu jauh sehingga air tidak terlalu panas yang dapat membuat ikan stres.
  3. Pelihara kebersihan kolam. Bila ada sampah atau daun-daun, segera dibuang.
  4. Amati kondisi induk. Jika ada yang sakit atau terluka, segera dikarantina dan dirawat di kolam khusus (kecil).
  5. Untuk menghindari penyebaran penyakit, rendam induk yang terluka atau sakit dengan antibiotik. Kemudian, pelihara di air bersih yang telah diberi obat/antibiotik. Air kolam karantina, harus tetap bersih, jika perlu dilakukan pergantian air sesering mungkin dan tidak lupa diberi obat/antibiotik.
  6. Induk yang sedang stres/sakit, porsi pakan yang diberikan cukup 30% dan pemberiannya cukup satu kali sehari.
  7. Bila ikan yang sakit sudah pulih kembali, selanjutnya bisa digabungkan bersama induk lainnya di kolam pemeliharaan indukan. 

Pengendalian Hama Dan Penyakit Induk Ikan Lele

Biasanya, hama sering menyerang induk lele yang dipelihara di kolam terbuka dan yang sering memangsa adalah musang, berang-berang, biawak, ular, gabus, atau ikan lele yang berukuran lebih besar. Untuk mengatasinya, diusahakan sekeliling kolam induk dipagar dan selalu dipelihara kebersihannya sehingga hama tidak bersarang di sekitar kolam.

Bila predator bersangkutan ditemukan, sebaiknya dibunuh. Sementara itu, untuk mengatasi kanibalisme, sebaiknya ukuran induk yang dipelihara dalam satu kolam hampir seimbang sehingga tidak terjadi saling menyerang.

Penyakit sebenanya relatif jarang menyerang induk lele karena secara fisik telah memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Namun, terkadang jenis jamur tertentu yang menyerang induk, seperti Saprolegnia. Jamur ini menyerang induk yang terluka setelah pemijahan. Untuk mengatasinya, induk direndam dengan antibiotik atau antijamur, lalu dipisahkan di kolam tersendiri. Bila kualitas air kolam induk mulai memburuk, sebaiknya dibuang sebagian dan ditambah dengan air baru sebanyak air yang dikurangi.

Jeli dan Bijak dalam Memanfaatkan Limbah Industri sebagi Pakan Alternatif Lele


produksi skala rumahan berupa ikan hasil tangkapan nelayan untuk dijadikan olahan diantaranya ikan filet dari ikan tongkol, ikan asap, ikan cucut, ikan asin dan lain-lain. Sisa hasil produksi tersebut biasanya diolah lagi utuk dijadikan konsentrat tapi perlu dijemur supaya kering sempurna kemudian digiling, tapi itu jarang dilakukan karena tengkulaknya jarang datang disamping itu pengeringan memerlukan waktu yang lama dan menimbulkan bau busuk yang sangat tajam sehingga menimbulkan polusi udara bagi tetangganya. Jika produksi yang melimpah tentu sisa produksi juga banyak, terkadang dibuang begitu saja tidak dimanfaatkan oleh warga dan dianggap sampah.


Petani lele memanfaatkan hasil sisa produksi ikan hasil tangkapan nelayan sebagai pakan alternatif lele pengganti pelet yang harganya mahal, tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi. Untuk menjadikan sisa produksi rumahan pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan para petani lele mengolahnya terlebih dahulu dengan cara digiling langsung atau jika stoknya banyak disimpan dulu dengan cara diangin-anginkan dan dijemur disekitar kolam pembesaran lele.

Pemberian pakan dari sisa hasil produksi pengolahan ikan tidak selamanya efektif sebagai pakan alternatif terkadang menimbulkan masalah, yaitu penurunan kualitas air kolam. Kolam pembesaran lele menjadi bau busuk akibat dekomposisi sisa pakan yang tidak sempurna tenggelam di dasar kolam. Akibatnya sisa pakan yang berada di dasar kolam yang tidak termakan oleh lele menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya bakteri patogen yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi lele. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, kematian masal tidak dapat dihindarkan. Satu demi satu lele mengapung mati di permukaan, yang lainnya masih menggantung di permukaan dan sesekali naik turun dengan pergerakkan lamban, ada juga yang berenang bergerak memutar-mutar seolah hilang keseimbangan. Lebih parah lagi jika diraba di dasar kolam ternyata lebih banyak lagi bangkai lele yang luput dari pandangan.

Jika kematian masal terjadi pasti petani lele sangat merugi peteni manapun tidak menginginkan hal ini terjadi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja mencegah adalah langkah terbaik guna menghindari atau setidaknya mengurangi mortalitas. Pemberian pakan berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan yang tidak berlebihan, kemudian pemberian probiotik untuk mengurai sisa pakan dan kotoran lele, disamping itu sifon atau pembuangan endapan dasar kolam harus dilakukan untuk mengurangi produksi dan kandungan gas terlarut yang bersifat racun bagi lele. Pengontrolan kualitas air harus terus dilakukan setidaknya 3 – 6 hari sekali, lakukan pengecekan parameter kulitas air diantaranya pH, suhu, serta kandungan gas beracun. Apabila kualitas air kolam buruk segera lakukan tindakan yaitu penggantian air kolam.

Meskipun pemberian pakan alternatif berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan kurang efektif, petani lele masih tetap menggunakannya karena, harganya murah dan ketersediannya melimpah

Menentukan Modal Usaha dalam Budidaya Lele

Berbicara dengan modal usaha erat kaitannya dengan seberapa besar skala usaha pada unit usaha budidaya lele. Seorang pengusaha dengan modal kecil atau bisa dibilang pas-pasan akan sulit melebarkan sayap usahanya, dengan pengetahuan yang minim serta fasilitas budidaya seadanya tidak sedikit dari mereka yang “gulung terpal”, tetapi ada juga pengusaha dengan modal yang sedikit bisa mempertahankan usahanya bisa memberikan nafkah keluarganya dari hasil usaha budidaya lele. Dengan modal yang besar diharapkan mendapatkan keuntungan yang besar pula. Karena, modal yang besar dapat mendukung sepenuhnya kegiatan budidaya, diantaranya sarana dan prasarana yang menunjang, perlengkapan budidaya yang memadai, peralatan budidaya yang canggih dan tehnik budidaya modern yang menerapkan sistem budidaya lele sangat intensif. Seorang pengusaha tentunya harus cerdik dalam menentukan darimana asal modal yang akan digunakan dalam usaha budidayanya?.


Kali ini Patil Lele akan mengetengahkan beberapa keperluan modal usaha dalam suatu init usaha budidaya lele secara garis besarnya saja, untuk lebih rincinya akan dibahas dalam tulisan yang lain.


Modal Investasi

Modal investasi adalah modal yang akan digunakan untuk membiayai pengadaan semua keperluan sarana dan prasarana usaha yang bersifat tetap. Modal yang digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana disebut dengan biaya tetap (fix cost). Sarana dan prasarana tersebut dipakai selama tenggang waktu cukup lama, bisa lima tahun atau lima belas tahun lebih. Nilai akhir (residue value) dari sarana yang dipakai akan terus berkurang sesuai dengan umur pemakaian (depresiation), bahkan bisa terjadi sarana yang dipakai tersebut tidak memiliki nilai sama sekali atau nihil. 

Contoh dalam unit usaha pembesaran lele anda membeli kolam fiber berdiameter 2,5 m seharga 5 juta rupiah, maka kolam fiber tersebut harus disusutkan dengan tenggang waktu sesuai kebijakan yang diambil perusahaan anda, misal 10 tahun. Berarti dalam tiap bulannya di susutkan sebesar 41.700 rupiah (dibulatkan). Dalam setiap bulannya kolam fiber akan mengalami pengurangan nilai ekonomis begitu seterusnya sampai 10 tahun atau 120 bulan nilai ekonomis kolam fiber menjadi nol atau tidak memiliki nilai ekonomis lagi meskipun kolam fibernya masih bisa dipakai.

Total modal yang dikeluarkan untuk investasi dimasukkan kedalam total biaya yang disusutkan (depresiation) dengan tenggang waktu sesuai dengan kebijakan yang diambil setiap perusahaan. Biaya penyusutan dibebankan dalam setiap perhitungan biaya produksi (cost production) suatu produk usaha budidaya lele seperti benih lele, lele pedaging atau indukan.

Berikut adalah berbagai komponen yang termasuk modal investasi dalam budidaya lele:
  1. Modal untuk pembuatan kolam
  2. Modal untuk pengadaan instalasi air
  3. Modal untuk pengadaan gudang pakan dan peralatan
  4. Modal untuk membangun unit pemijahan, meskipun unit usaha pembesaran lele bisa mendatangkan benih lele dari luar / dari pengusaha pembibitan, alangkah baiknya anda memiliki unit pemijahan sendiri agar lebih mandiri.
  5. Modal untuk alat transportasi
  6. Modal untuk sarana lainnya sesuai kebutuhan.

 Modal Kerja

Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai kegiatan usaha budidaya lele. Modal kerja berupa biaya operasional atau biaya untuk membeli sarana produksi budidaya, seperti benih, pakan, suplemen dan obat-obatan. Modal kerja disebut dengan biaya tidak tetap (variable cost)

  • Modal untuk pembelian benih
  • Modal untuk pembelian pakan
  • Modal untuk pembelian suplemen dan obat-obatan
  • Modal untuk biaya operasional (factory over head atau FOH) yang dikeluarkan termasuk biaya PLN, BBM (bensin/solar), kapur, pupuk, gaji karyawan, biaya perawatan, dan sewa kolam tanah (jika menyewa).

Contoh perkiraan rincian biaya yang dikeluarkan untuk FOH per kg lele pedaging setiap periode sebagai berikut:

benih                                                      = Rp. 1.100
pakan                                                      = Rp. 7.000 x 0.7 = Rp. 4.900
biaya operasionil                                      = Rp. 500
biaya supplement & obat-obatan                = Rp.1.000
total biaya produksi / kg daging lele adalah = Rp. 7.500
  • Modal untuk keperluan lain, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan kolam, penyusutan peralatan, bunga pinjaman bank, lembur, dan THR karyawan.

Jenis Permodalan dalam Usaha Budidaya Lele

Modal Sendiri atau Mandiri

Seluruh usaha budidaya lele baik pemijahan maupun lele pedaging menggunakan modal pribadi atau mandiri, tidak meminjam ke bank atau phak lainnya.

Pola Kemitraan

Usaha budidaya lele dijalankan dengan cara menjalin kerjasama, baik dengan pemodal, perusahaan pakan maupun perusahaan pembibitan. Beberapa pola kemitraan yang sering dilakukan sebagai berikut.

Pola Simpan Pinjam

Pembudidaya meminjam sejumlah modal untuk usaha budidaya lele kepada phak pemodal seperti bank. Pada akhir periode atau dalam jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan ambahan persentase bunga atau persentase keuntungan, yang besarnya telah disepakati terlebih dahulu.

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pakan

Pada pola kemitraan seperti ini, pembudidaya hanya bermitra sebatassuplai pakan untuk usaha budidaya lele tersebut. Selebihnya, pembudi daya yang menyediakan. Pembudidaya memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengelola usahanya, tetapi biasanya pembudidaya memberikan jaminan kepada perusahaan pakan senlai pakan yang akan digunakan.

Pola Kemitraan Bagi Hasil

Pola kemitraan yang terjadi antara pembudidaya dan pihak lain, seperti pemodal atau perusahaan budidaya lele dengan sisetem sharing. Contohnya pembudidaya hanya memiliki sejumlah kolam, semua biaya operasional dan sarana produksi budidaya disuplai dari pemodal atau perusahaan budidaya. Persentase pembagian keuntungan untuk pembudidaya 20% dan pemodal 80%.

Pola Kemitraan Inti Plasma

Saat ini pola kemitraan inti plasma paling banyak dilakukan. Pada pola ini, pembudidaya lele bermitra dengan perusahaan budidaya selaku inti. Banyak pola kerjasama yang ditawarkan, seperti bagi hasil atau sistem harga kontrak. Namun, prinsipnya semua sama, yaitu perusahaan budidaya berperan sebagai inti untuk membina pembudidaya lele yang menjadi plasmanya agar lebih maju dan mandiri.

Demikian ulasan tentang modal usaha budidaya lele, semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan banyak manfaatnya. Bagi anda yang ingin menambahkan informasi mengenai permodalan dalam usaha budidaya lele dipersilahkan untuk memberikan masukannya pada kolom komentar. Adapun ulasan lebih rinci mengenai keperluan modal usaha dalam suatu unit usaha budidaya lele akan di ulas secara rinci dalam tulisan yang lain. 

Pendederan: Kultur Artemia dijadikan Pakan Alami untuk Benih Lele


Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang primitif  yang termasuk dalam Filum Arthropoda, kelas Crustacea, Ordo Anostraca, Famili Artemidae, Genus Artemia. Dari genus artemia dikenal beberapa spesies antara lain Artemia salina, A. Persimilis, A. Monica dan A. Oddessensis.

Artemia merupakan salah satu zooplankton yang dapat hidup di laut, pada berbagai kisaran salinitas dari 5-300 ppt. Namun, untuk pertumbuhannya Artemia membutuhkan salnitas antara 30-50 ppt. Artemia juga dikenal sebagai hewan euroksibion, yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang luas akan kandungan oksigen (DO). Pada kandungan oksigen 1 ppm Artemia masih dapat bertahan, sebaliknya pada kandungan oksigen terlarut tinggi sampai mencapai kejenuhan 150 %, Artemia masih dapat bertahan hidup. Namun untuk tumbuh optimal kandungan oksigen (DO) yang cocok adalah diatas 3 ppm. Sedangkan suhu yang cocok untuk hidup optimal adalah 25 ˚C – 30 ˚C dan pH 7,5 – 8,5.

Artemia juga tahan terhadap perairan yang kandungan amonianya tinggi. Pada kondisi perairan yang kandungan amonianya mencapai 90 ppm masih dapat ditoleransi  oleh hewan ini. Akan tetapi, agar pertumbuhan Artemia bagus, kandungan amonia pada media budidaya sabaiknya dibwah 80 ppm. Perkembangan Artemia tidak selalu terjadi melalui perkawinan, kerena hewan ini mempunya dua cara bereproduksi, yaitu secara biseksual dan pertenogenesis. Perkembangan denan biseksual terjadi melalui perkawinan. Adapun perkembangbiakan dengan pertenogenesis, Artemia betina dapat mereproduksi tanpa melalui perkawinan.

Pada kondisi lingkungan yang optimal, baik induk yang mereproduksi secra bisksual maupun pertogenesis akan menghasilkan nauplius. Sebaliknya bila kondisi lingkungan kurang menguntungkan, maka induk Artemia yang semula melahirkan akan menghasilkan telur bercangkang tebal yang disebut kista. Dengan demikian. Selain bersifat ovovivipar (melahirkan telur yang sudah menjadi anak) dalam melahirkan, Artemia juga bersifat vivipar  (mengeluarkan telur).

 Artemia bersifat pemakan segala atau omnivora. Di alam bebas, Artemia memakan berbagai macam jasad mikro, misalnya microalgae atau alga bersel satu, detrititus, bakteri maupun cendawan. Jenis-jenis alga yang biasa menjadi mangsa Artemia diantaranya adalah Dunaliella, Platymonas, dan Strephanoptera oracetis. Namun dalam pemeliharaannya, Artemia bisa diberi pakan berupa dedak haluss yang disaring dan tepung terigu yang dilengkapi vitamin ssebagai penunjang pertumbuhannya.
Untuk menyediakan nauplius Artemia sebagai pakan larva-benih ikan lele, maka perlu melakukan penetasan kista artemia. Sekarang telah banyak merek dagang kista Artemia yang berasal dari berbagai negara yang terkenal, diantaranya Chili, Amerika, dan Cina.


Penetasan kista Artemia dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat pada tingkat 10 liter – 20 liter per menit. Komposisi 5 g kista Artemia per liter sudah cukup untk menetaskan kista tersebut. Untuk menghasilkan kuantitas maksimal dari neuplius perlu dilakukan decapsulasi. Perlakuan decapsulasi ini dimaksudkan untuk menipiskan kulit kisa Artemia, sehingga proses penetasannya lebih cepat. Bahan yang dipakai dalam proses decapsulasi bisa berupa larutan natrium hipoklorit (NaHOCL). Selain untuk menipiskan kulit kista, NaHOCL  juga  berfungsi sebgai desinfektan terhadap bakteri dan jamur pengganggu.

Adapun cara melakukan decapsulasi adalah sebagai berikut. Telur (kista) Artemia direndam dalam air tawar, dengan perbandingan12 ml air tawar per 1 g kista Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbenuk corong yang bagian dasarnya bisa dibuka. Penggunaan tabung berbentuk corong ini bertujuan agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah, tanpa mengganggu kista. Dari bagian dasar corong diberi aerasi. Penetasan dilakukan pada suhu kamar. Setelah satu jam, suhu air diturunkan hingga 15 ˚C, dengan penambahan es. Setelah suhu turun, baru ditambahkan NaHOCL 5,25 % sebanyak 10 ml untuk 1 g kista. Setelah 15 menit, larutan NaHOCL dibuang, kemudian kista dicuci dengan air laut dan dibilas 6-10 kali hingga pengaruh NaHOCL benar-benar hilang.

Selam decapsulasi, telur yang semila berwarna coklat akan berunah berwarna putih, kemudian berubah lagi berwarna oranye. Setelah decapsulasi, telur itu dapat disimpan untuk dapat detetaskan atau bisa juga langsung diberikan sebagai pakan larva ikan lele.

Telur yang di-decapsulasi dapat ditetawskan dalam bak berbentuk corong. Penetasan dilakukan pada suhu 20 ˚C. Jangka waktu penetasan berkisar antara 24 - 28 jam. Bak penetasan ditutup supaya gelap dan diberi aerasi kuat. Agar artemia tumbuh denagan baik, sebaiknya padat penebarannya jangan terlalu tinggi, yaitu berkisar antara 10.000 – 15. 000 ekor/liter air.

Selama pembesaran, artemia diberi pakan berupa tepung terigu atau dedak halus sebanyak 1-3 g/100 liter air. Dalam waktu 15 hari, artemia akan menjadi dewasa dan dapat menghaslkan telur lagi, selama pemeliharaan, salinitas dinaikkan secra bertahap, terutama menjelang artemia dewasa. Salinitas  yang sesuai pada tahao ini adalah sekitar 55 ppt. Selanjutnya terus dinaikkan secara berturut-turutmenjadi 72 ppt dalam waktu 2 hari, dan 90 ppt 3 hari kemudian. Salinitas 90 ppt dipertahankan hingga artemia mengandung. Untuk mendapatkan kista, salinitas dinaikkan lagi menjadi 110-120 ppt, hingga artemia memijah dan bertelur. Dengan salinitas tersebut, telur akan megapung karena berat jenisnya lebih rendah dibanding air garam. Untuk mendapatkan kista artemia, dapat diatur dengan menaik-turunkan salinitas.