Sumber Dan Syarat Air Untuk Budidaya Ikan Lele


Syarat Air Didalam Budidaya Ikan Lele – Walaupun memiliki ilmu cukup, modal banyak, lahan luas, dan keinginan kuat; bila air yang ada tidak memenuhi peryaratan hidup ikan, tipis kemungkinan bisa mendatangkan keuntungan. Kenapa?

Air yang buruk menyebabkan lele tidak memijah; telur busuk, tidak menetas, atau menetas langsung mati; benih tidak tumbuh optimal; setelah umur tertentu banyak mati; pertumbuhannya terhambat; dan masih banyak lagi kendala lainnya seperti pengadaan obat dan pengantian air yang sering. Jadi, hindari lokasi yang ketersediaan dan kualitas airnya buruk. Cari tempat lain yang kualitas dan ketersediaan airnya memadai sehingga usaha bisa berjalan sesuai rencana.

Air untuk budi daya lele bisa berasal dari berbagai sumber seperti sungai, saluran irigasi, danau, kolam, dan sumur bor/gali. Bahkan, air hujan pun bisa digunakan, tetapi perlu diberi perlakuan khusus sebelum digunakan karena kadar asamnya yang tinggi dan suhunya yang dingin. Air tersebut tidak boleh tercemar oleh limbah seperti oli, minyak, bahan kimia, logam berat, atau limbah lain yang membahayakan kehidupan lele. Persyaratan air yang berkualitas baik yaitu warnanya bening, tidak berbau, tidak tercemar, pH antara 5,5-7,5, kandungan zat besinya rendah, dan tidak mengandung merkuri.

Untuk air yang berasal dari sungai atau irigasi, bisa langsung dialirkan ke kolam budidaya asalkan memenuhi persyaratan budi daya, yaitu tidak tercemar limbah. Sementara itu, untuk air hujan dan air sumur biasanya harus ditampung terlebih dahulu. Tujuannya agar bahan-bahan organik mengendap dan air bisa digunakan. Biasanya, air sumur mengandung besi (Fe) yang cukup tinggi sehingga pengendapannya minimal 2-3 hari agar kandungan besinya mengendap.

Manajemen Air Kolam Ikan Lele

Demi keberhasilan usaha, masalah air harus benar-benar diperhatikan. Mulai dari perlakuannya sebelum digunakan serta cara menggunakan dan mengaturnya agar kualitas air di kolam pemeliharaan lele terjaga dan terkendali dengan baik. Dengan demikian, ikan menjadi sehat dan cepat tumbuh. Pada budi daya lele, pengaturan air berhubungan dengan pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan, dan pemeliharaan yang dalam praktiknya ada sedikit perbedaan.

1. Manajemen air pemeliharaan induk

Untuk pemeliharaan induk bisa menggunakan air sungai, air irigasi, air sawah, air sumur, air bekas kolam, bahkan dari air selokan sekalipun. Sebelum digunakan, air untuk pemeliharaan induk tidak perlu diendapkan, kecuali air hujan. Secara fisik tubuh lele, induk lele sudah tahan terhadap berbagai perubahan, suhu, pH, dan kadar oksigen yang rendah ada air serta mampu beradaptasi dengan yang air baru. Dikhususkan untuk kolam induk, airnya harus dalam keadaan dikeruhkan dengan pekat menggunakan tanah dari sawah atau tanah merah.

Tujuan Pengeruhan air untuk mencegah perkelahian ikan lele dan pemijahan liar ikan lele di kolam pemeliharaan. Untuk menjaga kualitas air kolam pemeliharaan, perlu adanya pengawasan rutin, balk harian atau mingguan. Pergantian air sangat tergantung pada kepadatan jumlah ikan, jenis pakan ikan lele, dan banyaknya pakan ikan lele yang diberikan. Semakin padat ikan dan jumlah pakan yang diberikan, frekuensi pengantian air ikan lele tentunya lebih sering diganti. Air kolam yang telah menurun kualitasnya ditandai dengan bau menyegat dan tidak sedap pada air, air kolam berbusa, air kolam terlalu keruh, berlendir, atau ada indukan ikan lele yang mengantung. Tindakan yang harus dilakukan untuk menetralisir air kolam tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Mengurangi, lalu menambah air sesuai volume yang dikurangi.
  2. Pergantian air ikan lele total apabila ada indukikan lele yang mengambang. Penambahan air baru dan dibiarkan meluap melalui pembuangan.
  3. Pemberian probiotik ikan lele, pengencer air kolam serta pengurai sisa pakan lele dan amoniak.

Cara Mengeruhkan Kolam Induk Lele 
  1. Siapkan lumpur sawah atau tanah merah sebanyak 1 ember untuk kolam seluas 10 m2
  2. Campur dengan air 
  3. Aduk dengan tangan hingga hancur dan merata 
  4. Tuangkan kedalam kolam indukan hingga betul-betul keruh 
  5. Manajemen air untuk pemijahan dan penetasan telur 

Air untuk pemijahan yang dapat dimanfaatkan bisa berasal dari mata air, sungai, irigasi, sumur bor, sumur gali, atau air ledeng yang tidak menggunakan kaporit. Air sungai dan irigasi sebaiknya diendapkan sebelum digunakan agar partikel-partikel terlarutnya mengendap. Kelemahan dari air sungai dan irigasi terkadang mengandung bibit hama yang bisa memangsa larva ketika telur menetas. Air yang diendapkan lebih dari tiga hari tidak baik untuk pemijahan dan penetasan karena terlalu dingin serta bisa menjadi tempat tumbuhnya hama dan bibit penyakit. Pengendapan air cukup semalam saja, setelah itu langsung digunakan. 

Air yang terlalu asam (pH rendah) atau basa (pH tinggi) masih bisa digunakan dengan cara menetralisir pH-nya terlebih dahulu. Air yang asam bisa dinaikkan pH-nya dengan kapur pertanian atau soda kue. Untuk air yang pH-nya tinggi bisa diturunkan dengan jeruk nipis, asam belimbing sayur, atau cuka. Setelah pH-nya netral, air diendapkan sekitar 1-2 malam; lalu bisa digunakan baik untuk pemijahan, pemeliharaan benih, ataupun pembesaran. Air hujan tidak baik untuk pemijahan dan penetasan telur. Selain asam dan dingin, kadar oksigen terlarut juga sangat rendah sehingga menyebabkan telur gagal menetas. 

3. Manajemen air untuk pendederan 

Permasalahan air pada budi daya lele tahap pendederan adalah tidak netralnya air yang digunakan. Supaya aman, sebaiknya air diendapkan minimal 1-2 malam. Kolam terbuka yang terkena hujan dapat menyebabkan pH berubah. Selain itu, suhu menjadi dingin dan kadar oksigen air menurun sehingga ikan menjadi stres, mengambang, atau mati. Untuk mengatasinya bisa dengan membuang setengah air kolam dan diganti dengan air baru yang telah diendapkan. 

Bisa juga menebarkan beberapa genggam garam ikan pada saat hujan turun atau setelah berhenti. Untuk menaikkan pH air, bisa menggunakan soda kue (misalnya fermipan). Caranya adalah menyeduhnya terlebih dahulu, lalu disebar ke dalam kolam. Dosisnya 1/2 sendok teh/m3 yang dilarutkan dalam air. 

Kontrol harian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bila kualitas air di kolam pemeliharaan mulai menurun, segera dinetralisir dengan penambahan, pengurangan, overflow (diluapkan), atau diencerkan dengan probiotik. Frekuensinya tergantung kepadatan ikan dan jenis pakan yang diberikan, antara 2-5 hari sekali. 

4. Manajemen air untuk pembesaran 

Air kolam pembesaran kualitasnya harus dijaga agar ikan tidak terserang penyakit atau mati. Sebelum digunakan, sebaiknya air diendapkan terlebih dahulu selama 2-4 hari agar suhu, pH, dan oksigennya stabil sehingga tidak menyebabkan ikan stres. Pergantian air di kolam pemeliharaan frekuensinya tidak sesering pembenihan. Hal itu karena lele sudah cukup besar dan mampu beradaptasi dengan kondisi air yang kurang baik. Namun, pada kepadatan tinggi, jumlah dan jenis pakan yang diberikan cepat merusak air, seperti pelet, ayam tiren, ikan runcah. Dengan demikian, frekuensi pergantian air harus lebih sering. 

Pengantian air sebaiknya dilakukan sebelum air mengalami kerusakan. Mutu air yang buruk akan menurunkan selera makan dan penyebabkan pertumbuhan ikan terhambat. Air yang buruk juga menjadi tempat perkembangan bibit penyakit yang dapat menyerang ikan yang dapat menyebabkan ikan sakit dan mati. Ciri-ciri air yang harus diganti adalah berbusa atau berwarna cokelat/hijau pekat.
Untuk menjaga kualitas air, bisa dilakukan dengan cara pengenceran atau mengurangi sebagian dan menambah sebanyak air yang terbuang. Probiotik pengurai amoniak dan kotoran juga dapat digunakan atau di-overflow (dibiarkan meluap melalui pembuangan air). 

Menyiasati Air Bermasalah 

Air yang bermasalah sebenarnya tidak memenuhi untuk persyaratan budi daya lele. Namun, air tersebut masih dapat digunakan dengan menyiasatinya terlebih dahulu agar suhu, pH, dan kadar oksigennya stabil. 

1. Air hujan (asam) 

Air hujan pada umumnya tidak dianjurkan digunakan untuk budi daya lele, baik untuk proses pembenihan ikan lele ataupun proses pembesaran karena suhu, pH, dan oksigennya tidak stabil. Agar bisa digunakan, harus dinetralkan terlebih dahulu. Caranya dengan pengendapan dan diberi bahan yang mengandung alkali/basa tinggi seperti kapur pertanian dan soda kue. Berikut cara penggunaannya. 
  1. Untuk volume air 10 m3, ambil 1 sendok makan soda kue. Seduh dengan air dingin sebanyak 1/2 liter air, aduk hingga merata, lalu tebarkan ke dalam kolam yang berisi air hujan. 
  2. Endapkan selama 2 malam. 

Selanjutnya, air yang telah dikondisikan bisa digunakan untuk pemeliharaan.Penetralan air bisa juga menggunakankapur pertanian. Caranya sebagai berikut. 
  1. Siapkan 1 ember air, lalu tambah 1/2 sendok teh/m3 air serbuk kapur gamping,.
  2. Aduk rata, lalu tebarkan ke kolam.
  3. Endapkan selama 2-3 hari.
  4. Pindahkan air bagian atas ke kolam lain, lalu endapkan lagi selama semalam agar suhu, pH, dan oksigen air stabil.
  5. Air siap digunakan untuk budi daya (tidak cocok untuk pemijahan dan penetasan). 

2. Air payau 

Air payau biasanya terdapat pada tambak dekat laut. Walaupun pH-nya tinggi (basa), air ini masih dapat dipergunakan dalam urusan budi daya ikan lele. Namun, dari hasil dari budidaya tersebut tidaklah maksimal karena menyebabkan pertumbuhan lele terhambat. Agar kondisi airnya netral dan dapat digunakan secara optimal, kadar pH-nya harus diturunkan. Caranya dengan menambahkan zat asam seperti tawas, jeruk nipis, asam belimbing, atau cuka. Berikut penggunaannya. 
  1. Peras beberapa butir jeruk nipis/belimbing sayur/beberapa tetes cuka/tawas
  2. Tambahkan air, aduk hingga merata, lalu tebarkan ke dalam kolam berisi air payau.
  3. Endapkan selama 2-3 malam.
  4. Untuk mengukur pH, gunakan kertas lakmus/pH meter.
  5. Air siap dipergunakan untuk budi daya ikan lele. 

3. Air mengandung logam berat 

Air yang mengandung logam berat/limbah B3 sebenarnya tidak layak digunakan untuk memelihara lele, terutama pembenihan. Bahayanya, telur tidak dapat menetas atau menetas, tetapi langsung mati. Pertumbuhan pun akan terhambat. Agar dapat digunakan, air harus diolah dahulu untuk mengikat dan menetralisir kandungan racun di dalamnya. Memang, prosesnya agak sedikit repot. Berikut caranya. 
  1. Siapkan kolam, isi dengan air sesuai dengan kebutuhan. 
  2. Tambahkan kotoran sapi atau kerbau sebanyak 2-3 karung untuk kolam berukuran 10-20 m2. 
  3. Biarkan selama 2-3 minggu. 
  4. Setelah 1 minggu, ambil air di bagian atas dengan pompa kecil (15 W). Pompanya digantung agar kotoran tidak tersedot. Jarak air 10 cm dari endapan. 
  5. Pindahkan air tersebut ke kolam yang telah disediakan. 
  6. Endapkan selama 2 malam, selanjutnya air bisa digunakan. Cara lainnya sebagai berikut. 

Cara Lainnya Sebagai Berikut 
  1. Siapkan 1 ember air, tambahkan kapur CaCO3 sebanyak 1/2 sendok teh/m3 air, lalu aduk merata, 
  2. Tambahkan serbuk tawas sebanyak 1 sendok teh/m3 air, larutkan dalam air aduk merata. 
  3. Tebarkan semuanya ke dalam kolam pengendapan air hingga merata, biarkan selama 4-5 hari, 
  4. Pindahkan air bagian atas ke kolam lain (10 cm dari dasar kolam). 
  5. Endapkan lagi selama semalam agar suhu, pH, dan oksigen air stabil, 
  6. Air siap digunakan untuk budi daya. 

4. Air yang terlalu dingin 

Air yang terlau bersuhu dingin akibat iklim atau proses pengendapan yang telalu lama juga dikategorikan air yang kurang baik untuk digunakan untuk budi daya lele. Air yang terlalu dingin menyebabkan telur tidak mampu menetas dan ikan tidak bisa tumbuh dengan baik. Suhu dingin menyebabkan metabolisme terhambat. Agar bisa digunakan, air tersebut harus dihangatkan terlebih dahulu dengan pemanas air (water heater).
Selain menggunakan zat penetral, peternak juga bisa melakukan budi daya lele indoor atau di dalam ruangan tertutup yang menggunakan lampu sebagai penghangat. Wadi, wadah yang digunakan bisa berupa akuarium atau kolam yang masing-masing diberi water heater.

Penampung Air 

Ada kalanya sumber air yang ada tidak selalu sesuai dengan keinginan. Misalnya air hujan atau air sumur. Kedua sumber air tersebut tidak bisa langsung digunakan untuk budi daya. Hal itu karena masih banyak kandungan unsur-unsur yang dapat merugikan pembudidaya. Misalnya air sumur yang biasanya mengandung unsur besi (Fe) dan air hujan yang pH-nya cukup tinggi. 

Untuk mengantisipasi hal itu, diperlukan tampungan air agar air bisa digunakan. Fungsi tampungan ini adalah mengendapkan air selama beberapa hari (biasanya 2-3 hari) agar air bisa digunakan dengan aman. Jadi, setelah diendapkan, diharapkan kondisi air bisa netral dan unsur-unsur yang tidak diinginkan tidak ikut terbawa ke dalam kolam pemeliharaan. Kapasitas tampungan disesuaikan dengan jumlah dan ukuran kolam yang ada. 

Teknik Kilat Dalam Pembesaran Ikan Lele


Teknik Kilat Ketika Pembesaran Benih Ikan Lele – Pembesaran merupakan segmen lanjutan dari pembenihan untuk menghasilkan lele konsumsi berukuran 100-150 g/ekor atau 7-8 ekor/kg. Biasanya, para peternak cenderung memilih segmen ini karena lebih mudah, praktis, dan aman bila dibanding pembenihan.

Namun, pembesaran memerlukan biaya yang cukup besar, terutama biaya pakan. Bila peternak hanya mengandalkan pakan pelet, biayanya bisa mencapai 60-70% dari seluruh komponen biaya operasional sehingga keuntungan yang didapat relatif tipis.

Jadi, biaya pakan harus ditekan sekecil mungkin sehingga keuntungannya optimal. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menekan biaya pakan, di antaranya perendaman pelet, pakan alternatif, atau membuat pelet sendiri dengan biaya murah.

Pemberian suplemen/multivitamin dan probiotik juga bisa menjadi langkah untuk memaksimalkan fungsi pakan. Pakan alternatif yang digunakan antara lain bekicot, keong emas, maggot, atau ulat sawit. Untuk daerah yang sulit mendapatkan pakan alternatif, bisa membuat pelet sendiri yang kandungan gizinya diatur sesuai keinginan. Selain pakan, kualitas air juga berpengaruh untuk memacu pertumbuhan lele agar tetap sehat dan nafsu makannya tinggi.

Persiapan Wadah Pembesaran Ikan Lele

Pembesaran lele bisa dilakukan di berbagai wadah seperti halnya pemeliharaan ikan air tawar lainnya. Wadah yang umumnya digunakan adalah kolam tanah, beton, atau terpal yang intinya harus mudah dikelola. Tidak ada aturan baku untuk ukurannya, tetapi sebaiknya tidak terlalu besar untuk memudahkan pengelolaan dan besar kecilnya target panen yang ingin dicapai.

Sebelum digunakan, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan terhadap kolam. Untuk kolam yang sudah lama, keringkan airnya, angkat kotoran dan lumpurnya (kolam tanah), lalu semprotkan fungisida atau desinfektan untuk membunuh jamur dan patogen. Pada kolam tanah, bisa menggunakan kapur pertanian sebanyak 20-50 g/m3 untuk meningkatkan pH air dan membunuh bibit penyakit. Untuk menetralkannya, jemur kolam selama 2 minggu, lalu isi air hingga hampir penuh, lalu biarkan selama 5-7 hari agar suhu, pH, dan oksigen air menjadi netral. 

Pakan alami juga merupakan salah satu komponen utama yang harus ada dalam pembesaran lele. Cara yang biasa digunakan untuk membuatnya adalah dengan memupuk kolam dengan kotoran ternak (ayam, sapi, atau kerbau) kering sebanyak 200-500 g/m2 yang dimasukkan ke dalam karung, lalu dimasukkan ke dalam kolam. Biarkan selama 5-7 hari agar pakan alami berkembang biak. Cara lainnya adalah dengan probiotik. Jadi, cukup menebar probiotik sesuai dosis. Pemupukan ini bisa bersamaan dengan pengapuran. 

Mendapatkan Benih Ikan Lele

Benih bisa didapatkan dari hasil pendederan sendiri atau membeli dari peternak lain, baik perorangan atau lembaga pemerintah seperti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar. Benih hasil pembenihan/pendederan sendiri kualitasnya lebih terjamin dibandingkan dengan membeli dari peternak lain. Peternak tahu persis asal-usul induknya dan teknik pemeliharaannya.


Namun, tidak sedikit peternak yang cenderung membeli benih dari peternak pembenih lain. Membeli benih dari peternak lain harus hati-hati karena terkadang ada benih yang merupakan ‘oplosan’. Benih oplosan ini dari ukurannya terlihat sama, tetapi umurnya bisa berbeda. Jadi, ketika dipelihara atau dibesarkan, frekuensi panennya cenderung lebih sering karena pertumbuhannya terlalu bervariasi. Peternak juga harus jeli agar tidak membeli benih yang sakit karena dapat menular dan menyerang semua benih yang dipelihara di satu kolam. Untuk itu, belilah benih pada peternak yang sudah dikenal dan memiliki benih-benih berkualitas. 

Ciri Benih Ikan Lele Berkualitas 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait kualitas dan kesehatan benih, terutama jika diperoleh dari pembenih lain. Benih yang berkualitas menjadi syarat mutlak suksesnya pembesaran. Perhatikan bentuk fisik dan pergerakan benih. Berikut ciri-ciri benih yang baik.
Sehat dan lincah.
Pertumbuhan normal.
Respon cepat.
Warna kulit cerah.
Tidak luka atau cacat.
Tidak menggantung.
Nafsu makan tinggi.
Tidak berbusa atau berlendir. 

Penebaran Benih Ikan Lele 

Benih yang akan ditebar sebaiknya dipuasakan dahulu selama 6-8 jam. Tujuannya agar tidak stres atau muntah selama perjalanan atau di kolam baru yang dapat membahayakan kelangsungan hidup benih ketika dipelihara. Waktu penebaran yang tepat adalah saat cuaca teduh. Baiknya, penebaran dilakukan pada pagi hari (pukul 06.00-09.00) atau sore hari (pukul 16.00-18.00). Hal itu terkait dengan lele yang sangat sensistif terhadap perubahan suhu atau pH air. 

Padat Tebar 

Padat tebar benih lele harus sesuai dengan luasan kolam agar ruang geraknya leluasa. Padat tebar yang tepat tidak membuat air cepat kotor, ikan lebih sehat, dan pertumbuhannya cepat. ldealnya, padat tebar untuk pembesaran antara 250-350 ekor/m3. Dengan tambahan probiotik atau antibiotik organik seperti SS-Formula, padat tebar bisa ditingkatkan hingga 500-650 ekor/m3. 

Cara Penebaran Benih Ikan Lele 

Benih yang baru datang tidak boleh ditebar langsung ke kolam karena dapat menyebabkan benih stres, lalu mati. Harus ada aklimatisasi atau penyesuaian/adaptasi terhadap lingkungan kolam baru, baik suhu atau pH airnya. Jadi, wadah packing (plastik) dimasukkan ke dalam kolam pemeliharaan yang baru sekitar 10 menit. Setelah itu, buka plastik, lalu masukkan air kolam ke dalamnya sekitar 25-30%. Biarkan selama 10 menit, lalu tenggelamkan plastik sehingga benih akan keluar sendiri dari plastik. Untuk kemasan berupa jerigen, prosesnya hampir sama seperti pada wadah plastik. 

Pemeliharaan Ikan Lele 

Pemeliharaan benih yang utama adalah memberi pakan sesuai kebutuhan sampai panen. Untuk benih yang baru ditebar, sebaiknya tidak diberi pakan sekitar 3 jam karena mash stres. Bila dipaksakan pun tidak akan banyak yang dimakan, bahkan menyebabkan air rusak. Selama 5 han pertama, sebaiknya benih hanya diberi pelet apung supaya mullah dikontrol. Pemberian pelet tidak boleh langsung banyak. Tunggu hingga kondisi fisik dan selera makan benih benar-benar pulih kembali. 

Pada hari ke-1 dan 2, benih cukup diberi pakan sebanyak 25% clan normalnya sebanyak 2 kali sehari, yaitu pagi han pukul 09.00 dan sore han pukul 17.00. Pada hari ke-3 dan 4, benih diberi pakan sebanyak 40-50%. Pada han ke-5, biasanya kondisi fisik benih sudah pulih dan selera makannya sudah normal kembali. Artinya, benih sudah bisa diberi pakan sesuai porsinya. 

Frekuensinya bisa 3-4 kali/hari sebanyak 3-5% dan biomassa benih yang dipelihara. Waktu pemberian pakan pada pagi hari pukul 09.00, siang hari pukul 14.00-15.00, dan malam hari pukul 20.00-22.00 atau disesuaikan dengan jadwal. Untuk memaksimalkan penyerapan pakan, sebaiknya pelet diseduh dahulu sebelum diberikan. 

Selain pelet, pakan lain yang bisa diberikan pada benih bisa berupa bekicot, keong emas, maggot, cacing tanah, ikan rucah, usus ikan, usus ayam, limbah pembuatan pindang, atau sawi putih. Sebelum diberikan, ada perlakuan agar hasilnya baik. Bekicot, keong emas, dan usus ayam direbus dahulu. Frekuensi pemberian pakan alternatif bisa 1-2 kali sehari, yaitu pada pagi hari pukul 09.00 dan malam hari pukul 19.00-21.00. 

Teknik Mempercepat Pertumbuhan 

Pada usaha pembesaran lele, untuk memacu pertumbuhannya tidak bisa hanya mengandalkan pakan. Oleh karena itu, perlu siasat dengan meningkatkan fungsi pakan melalui berbagai usaha seperti perendaman pelet, pemberian probiotik, pemberian suplemen, atau dengan bantuan teknologi pengolahan air agar kualitasnya terjamin. Dengan demikian, ikan menjadi sehat, nafsu makannya tinggi, dan ikan cepat besar. 

Suplemen/Vitamin Pemicu Pertumbuhan 

Salah satu cara untuk meningkatkan fungsi pakan adalah dengan pemberian suplemen, yaitu makanan tambahan yang mengandung zat-zat bernutrisi dalam bentuk kapsul, tablet, bubuk, atau cairan yang berfungsi sebagai pelengkap kekurangan zat gizi. Fungsi utamanya adalah menjaga stamina ikan tetap prima, meningkatkan metabolisme dan daya tahan tubuh, serta membantu mengatasi stres pada lele. Suplemen yang bisa diberikan pada ikan dapat berupa multivitamin dalam bentuk bubuk atau cair, seperti premix aquavita, tiger-bac, susu bubuk, gula, atau curcuma. 

Probiotik Maksimalkan Fungsi Pakan 

Penggunaan probiotik dengan dosis yang tepat dapat meningkatkan fungsi dan efisiensi pakan secara optimal. Pertumbuhan lele lebih optimal dan biaya pakan bisa ditekan sekecil mungkin. Probiotik bisa diberikan melalui pakan atau air. Aplikasi probiotik pada pakan sama halnya dengan aplikasi suplemen pada pakan.

Pakan Berprotein Hewani Tinggi

Selain memberi suplemen, probiotik, memanfaatkan teknologi, pemberian pakan dengan kadar protein tinggi juga bisa mempercepat pertumbuhan lele. Makanan yang mengandung lemak dan protein tinggi bisa diperoleh dari ayam mati, telur yang gagal menetas dari peternakan ayam, usus ayam, kulit ayam, ikan-ikanan, keong mas, bekicor, kerang-kerangan. Bagi peternak yang tinggal di daerah yang berlimpah sumber makanan seperti didekat pantai, bisa membeli ikan runcah dengan harga murah atau gratis, sehingga bisa menekan biaya pakan.

Untuk meningkatkan pertumbuhan, darah ternak bisa digunakan sebagai campuran dalam pakan lele. Hal itu karena kandungan proteinnya yang tinggi, yaitu di atas 50%. Pakan pelet yang sudah ada dilumatkan dahulu, lalu ditambahkan adonan marus (darah yang sudah digumpalkan). Adonan marus yang ditambahkan cukup 15-20% dari jumlah pakan yang akan digunakan. 

Teknologi Sederhana 

Cara lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan adalah dengan menjaga kualitas air.Teknologi sederhana yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kualitas air adalah aerator, blower, atau pompa sirkulasi yang akan meningkatkan kadar oksigen dalam air. Untuk menjaga suhu air tetap stabil bisa menggunakan water heater (pemanas air elektrik). Sebaiknya, penggunaan water heater mengikuti perubahan suhu sehingga menghemat penggunaan listrik. Misalnya pada malam hari suhu akan berubah setelah tengah malam menjelang subuh. Jadi, water heater bisa mulai digunakan setelah pukul 22.00 malam dan dimatikan pada pukul 05.00 pagi. Air akan hangat kembali karena sinar matahari.

Manajemen Air

Air yang kualitasnya terjaga dengan baik akan membuat ikan sehat, ikan yang sehat memiliki selera makan yang tinggi sehingga lebih cepat besar. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kualitas air, yaitu dengan pengurasan, pengenceran air, penyaringan, peningkatan kadar oksigen, dan sirkulasi air. Pengurasan dilakukan secara berkala, sesuai dengan penurunan kualitas air. Pengenceran air bisa dilakukan dengan pemberian probiotik atau dibuang sebagian dan ditambah air baru sebanyak air yang dibuang. Meningkatkan kadar oksigen air bisa dilakukan dengan cara menguras air, menggunakan aerator atau mendaur ulang air dengan cara penyaringan. 

Tips Dan Cara Pemasaran Ikan Lele



Cara Dalam Pemasaran Benih Dan Konsumsi Ikan Lele – Pada awalnya komoditas ikan lele hanya sebatas memenuhi kebutuhan pasar nasional, seperti pasar tradisional, rumah tanga, rumah makan, restoran, hotel dan supermarket. Dengan terus meningkatnya permintaan, kini lele telah mampu menembus pasar dunia. Di antara negara peminat yaitu Amerika, Jerman, Swis, Jepang, Korea, bahkan Timur Tengah juga telah siap menerima produk yang berbahan ikan lele.

Produk yang diminati tersebut beragam, mulai dari lele mentah hingga produk olahan. Lele mentah berupa filet, buang isi perut, buang kepala. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk, sosis, dan bakso yang berbahan baku daging ikan lele. Permintaan ini terus meningkat, bahkan belum bisa dipenuhi, karena produksi lele dalam negeri tidak stabil dan masih sangat tergantung dari iklim. Kondisi seperti ini, belum mampu menjamin kebutuhan ekspor.

Pada prinsipnya ada dua pasar potensial untuk komoditas lele, yaitu pasar lokal dan pasar ekspor. Untuk pasar lokal biasanya berupa lele konsumsi, bibit lele dan indukan. Indukan dan bibit lele untuk kebutuhan para pengepul dan peternak. Lele hidup untuk kebutuhan pasar tradisional dan pemancingan. Lele untuk konsumsi umumnya dalam bentuk hidup dengan ukuran 7-8 ekor per kg. Sementara itu, permintaan untuk pemancingan berukuran 3-4 ekor hingga di atas 1 kg per ekor.

Di suatu daerah, saat ini terkadang permintaan untuk pemancingan jauh melebihi kebutuhan pasar tradisional. Akibatnya terkadang kebutuhan pasar tradisional tidak bisa dipenuhi karena harga pemancingan lebih tinggi maka peternak atau pengepul lebih senang menjualnya ke pemancingan.

Untuk pasar ekspor biasanya berupa lele mentah dan olahan. Lele mentah berupa filet (daging), buang kepala atau buang isi perut. Lele olahan berupa abon, keripik, kerupuk dan lele asap. Lele asap Indonesia kini telah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.

Peningkatan industri pangan juga menyebabkan ikan lele menjadi incaran. Selain rasanya yang gurih, tulangnya pun bisa diolah. Produk olahan lele yang beragam, mulai dari lele goreng, lele bumbu rendang, lele kremes, lele bakar, sop lele, baso lele, sosis, pempek lele, rolade lele, katsu lele, hingga pizza lele. Dengan demikian, kebutuhan ikan berkumis ini tentunya akan terus meningkat.



Hal ini tentu saja menjadi peluang usaha yang cukup menggiurkan karena lele bisa dijadikan sebuah lahan usaha yang menguntungkan. Mulai dari pembenihan, pembesaran, industri olahan, bahkan tengkulak, pedagang, dan pemilik rumah makan juga bisa ikut merasakan prospek bisnisnya dengan harga menguntungkan tanpa harus ragu dengan pasar.

Pemasaran Ikan Lele Berdasarkan Jenis Dan Ukuran

Pada dasarnya, lele yang dijual di pasaran terbagi ke dalam tiga kategori, yaitu benih, konsumsi, dan apkir. Masing-masing kategori memiliki pasarnya sendiri. Benih lele yang umum dijual berukuran 2-3 cm, 4-5 cm, 5-6 cm, 6-8 cm, 8-10 cm, dan 10-12 cm. Lele konsumsi yang diminati konsumen biasanya antara 6-10 ekor per kg. Sementara itu, lele yang berukuran 1-5 ekor per kg dikategorikan lele apkir karena sudah melewati ukuran konsumsi.


Pemasaran Benih Ikan Lele
Para pembenih tidak perlu khawatir harga benih anjlok atau lele akan booming. Kemungkinan hal itu terjadi sangat tipis karena sebagian besar peternak pembesaran tidak melakukan pembenihan sendiri. Jadi, benih bisa langsung dipasarkan ke konsumen pembesaran.



Penjualannya pun bisa secara langsung atau melalui pemesanan. Penjualan benih lele biasanya dilakukan dengan sistem cash and carry atau ada uang ada barang dengan alasan ingin memutar modal untuk produksi kembali.






Pemasaran Ikan Lele Konsumsi

Lele konsumsi umumnya berukura 6-10 ekor per kg. Lele ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan ekspor, baik dalam bentuk mentah ataupun produk olahan seperti abon, keripik, kerupuk, dan lele asap. Ada tiga jalur pemasaran lele konsumsi yang bisa dilakukan hingga sampai ke pihak konsumen, caranya sebagai berikut.



1. Produsen lele menjual langsung ke konsumen.
2. Produsen menjual ke tengkulak, selanjutnya diteruskan ke pasar, lalu ke konsumen.
3. Produsen menjual ke tengkulak, lalu tengkulak menjual ke bandar, dari bandar ke pasar, dan terkahir ke konsumen.


Pemasaran Ikan Lele Afkir

Lele afkiran adalah lele berukuran besar yang ukuranya melebihi standar. Dahulu, lele apkiran cukup sulit dijual, tetapi tidak untuk sekarang. Ukuran ini banyak dicari orang untuk dijadikan ikan pemancingan atau indukan dengan harga yang tidak kalah dengan harga ikan konsumsi. Ikan ini juga banyak dijadikan olahan karena dagingnya cukup tebal sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.


Pemasaran Ikan Lele Olahan

Berbagai produk olahan berbahan daging lele kini bermunculan meramaikan pasar. Beberapa di antaranya abon, keripik, kerupuk, pempek, bakso, sosis, katsu, otak-otak, dan lele asap. Selain di dalam negeri, produk olahan lele juga diekspor ke beberapa negara seperti Belanda, Timur Tengah, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Amerika Latin.


Kiat Dalam Pemasaran Lele

‘Bagaimana Pemasaran lele yang sudah saya produksi nantinya?’ Hal ini pertanyaan umum yang sering dilontarkan para calon pebisnis lele. Namun, cobalah berpikir bahwa lele adalah ikan konsumsi yang peminatnya sendiri belum dapat diukur secara pasti. Intinya, berapa pun jumlah lele yang diproduksi bisa habis terjual. Selain harganya yang cukup kompetitif, ketersediaannya pun mulai menipis. Dari hasil survei terhadap beberapa pedagang pecel lele, kebutuhan mereka mulai dijatah hanya 3-5 kg per harinya karena langkanya lele konsumsi, terutama pada musim-musim sulit ikan. Berikut adalah media dan tempat untuk memasarkan lele.

1. Pemasaran tradisional

Cara tradisional dilakukan dengan menawarkan langsung ke pasar, pemancingan, warung tenda, perumahan, pemasangan plang, dan penyebaran brosur atau menempelnya di tiang/dinding/pohon.


2. Pemasaran Dengan Teknologi.

Pemasaran melalui media yaitu seperti memasang iklan di majalah agribisnis, tabloid, atau koran. Selain itu, media eletronik pun bisa dimanfaatkan seperti ponsel, radio, dan internet yang bisa dipasangi iklan, balk gratis ataupun bayar. Bisa pula menawarkan lewat komunitas via email, twitter, SMS, BBM, atau facebook. Pililah yang paling sesuai dengan Anda.

Manfaat dan Step Global Pelaksanaan Teknologi RAS untuk Budidaya Ikan Lele

Untuk mendapatkan penghasilan yang besar, saat ini ada banyak sekali orang yang memulai beragam usaha, salah satunya dengan membuat sebuah peternakan. Peternakan saat ini merupakan salah satu jenis bisnis yang banyak digemar. Hal ini disebabkan karena hampir setiap orang membutuhkan protein untuk menu makannya. Namun untuk membuat sebuah peternakan memang tidak mudah. Hal ini disebabkan karena setiap hewan memerlukan perawatan sendiri-sendiri untuk bisa tumbuh dan berkemang sesuai dengan nilai pasar. Satu jenis peternakan yang paling mudah untuk di buat adalah peternakan atau budidaya ikan terutama ikan lele.




Ikan lele merupakan ikan yang mudah hidup. Bukan hanya mudah hidup. Ikan lele adalah ikan yang juga mudah dijual karena banyak sekali diminati. Dagingnya yang empuk dan juga bebas dari bau-bauan membuatnya banyak mendapatkan perhatian dari para pelaku budidaya dan konsumen.

Untuk memelihara ikan lele memang tidak sulit untuk dilakukan akan tetapi dibutuhkan banyak air untuk bisa membuat sebuah peternakan ikan lele. Ketika memelihara ikan, kita membutuhkan air yang selalu segar dan bersih sehingga habitat hidup ikan dapat terjaga sehingga mereka tidak mudah mati. Akan tetapi untuk menggunakan air dalam jumlah yang besar lalu membuangkan begitu saja pada saat sudah kotor dapat membantu mempercepat terjadinya efek pemanasan global, selain itu bagi peternak sendiri hal ini bukan hal yang menyenangkan karena air juga merupakan salah satu sumber daya alam yang perlu dibeli. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah teknologi untuk mengurangi penggunaan air segar sebagai habitat hidup para ikan.

Seperti yang telah jelaskan diatas, penggunaan air dalam jumlah yang besar merupakan salah satu masalah yang timbul dalam dunia budidaya ikan. Untuk mengatasinya kini ada sebuah teknologi bernama teknologi Recirculating Aquaculture Systems atau disebut dengan RAS. Teknologi Recirculating Aquaculture Systems merupakan teknologi yang dapat membantu para peternak ikan terutama ikan lele untuk menggunakan kembali air yang sudah kotor bekas ikan sebelumnya sehingga mengurangi penggunaan air baru untuk budidaya lele tersebut. Lalu bagaimana teknologi ini bekerja? Bagi anda yang penasaran berikut ini adalah penjelasan yang lengkap mengenai penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems atau RAS ini.

Tujuan dan menfaat dari penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya tujuan dari penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini adalah untuk mengurangi penggunaan air bersih baru sebagai salah satu sumber daya alam yang dibutuhkan dalam jumlah besar dalam dunia budidaya ikan. Teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini bisa disebut juga sebagai teknologi daur ulang air dimana air bekas kolam budidaya lele diolah kembali dengan step-step tertentu agar menciptakan air yang bersih dan segar kembali untuk digunakan kembali pada kolan budidaya sehingga mengurangi penggunaan air bersih yang memakan biaya.



Penggunaan air bersih untuk melakukan budidaya ikan memang sangat penting. Dahulu peternak ikan banyak menggunakan lahan terbuka seperti waduk dan juga menggunakan perairan besar di luar ruangan untuk membuat habitat yang selalu bersih bagi ikan-ikan mereka. Selain selalu mendapatkan habitat yang bersih, menggunakan kolam luar ruangan juga menghemat pengeluaran mereka dalam penggunaan air. Tapi dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini, kini melakukan budidaya ikan di dalam ruangan tidak lagi sulit dan juga boros. Hal ini menyebabkan peternakan ikan yang menghasilkan banyak uang tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berlokasi di dekat perairan yang besar. Mereka yang jauh dari perairan juga bisa menghasilkan banyak uang dengan memotong cost produksi dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini.



Manfaat dari penerapan teknolgi Recirculating Aquaculture Systems ini memang sangat besar bagi para pelaku budidaya. Dengan adanya keberadaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini mereka bisa menghemat penggunaan air bersih sehingga mengurangi cost produksi. Selain itu penggunaan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini juga mengurangi efek pemanasan global yang menjadi isu paling populer bekalangan ini.

Apa itu RAS

Seperti yang kita tahu, ikan membutuhkan sebuah lingkungan hidup yang bersih dan juga oksigen yang cukup untuk bisa hidup dengan baik. Oleh karena itu kolam ikan lele perlu diganti airnya secara reguler untuk memberikan oksigen tambahan dan juga mengurangi racun bekas pakan yang ada di dalam kolam. Olah karena itu bagi anda yang ingin melakukan budidaya ikan anda pasti membutuhkan banyak air bersih. Tapi hal ini dahulu, sekarang dengan adanya teknologi Recirculating Aquaculture Systems anda tidak perlu banyak menggunakan air baru untuk memeliharan ikan lele anda.



Secara global, RAS atau Recirculating Aquaculture Systems sudah dijelaskan yaitu upaya untuk mendaur ulang air hasil kolam ikan yang sudah tidak bersih sehingga dapat digunakan kembali untuk menghemat penggunaan air dan memotong cost produksi ikan budidaya. Jadi air kolam yang sudah tercemar dengan limbah ikan tidak lagi dibuang tapi di olah kembali dengan menggunakan proses-proses tertentu sehingga air limbah berubah menjadi air bersih lagi sehingga bisa digunakan kembali. Hasilnya ikan anda dapat hidup dan tumbuh dengan normal dengan menggunakan air yang sudah anda gunakan untuk bidudaya. Air bersih yang dimasuksud disini bukan hanya tampilannya saja yang bening, tapi bebas dari hal-hal yang menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat atau menyebabkan ikan mati.


Bagaimana teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini dilakukan?

Tidak dapat dipungkiri, teknologi Recirculating Aquaculture Systems merupakan teknologi yang sangat bermanfat bagi para pelaku budidaya ikan. Bagi anda yang tertarik untuk menggunakan teknologi ini, berikut merupakan beberapa step yang dilakukan dalam budidaya ikan lele dengan menggunakan Recirculating Aquaculture Systems.

  • Solid removal
Solid removal adalah salah satu step dalam pelaksanaan Recirculating Aquaculture Systems ini. Solid removal juga merupakan langkah pertama dalam pelaksanaan teknologi RAS ini. Dalam step solid removal. Hal yang perlu dilakukan adalah menggunakan bahan-bahan untuk menghilangkan benda-benda atau limbah-limbah yang masih berbantuk misalnya sisa makanan yang tidak termakan, kotoran dari ikan dan limbah berbentuk lainnya dari kolam ikan lele anda.
  • Biofiltration
Setelah semua hal-hal yang berbentuk di saring pada saringan pertama, kini anda akan mendapatkan air yang bersih dari kotoran-kotaran yang tidak terlihat. Jadi step kedua yang perlu dilakukan dalam Recirculating Aquaculture Systems ini adalah menghilangkan hal-hal yang tidak terlihat tersebut. Salah satu yang perlu dihilangkan dalam langkah ini adalah amonia. Amonia merupakan salah satu gas yang terkandung dalam air kolam ikan lele yang berbahaya bagi ikan maupun lingkungan sehingga harus dihilangkan. Untuk melakukan step ini anda bisa memanfaatkan bakteri yang mengkonsumsi amonia dan mengubahnya menjadi nitrogen sehingga aman ketika dilepaskan ke lingkungan.
  • Dissolved gas control
Step terakhir dari Recirculating Aquaculture Systems ini adalah untuk membuat air hasil filter memiliki kandungan oksigen yang tinggi. Step ini merupakan step yang paling penting. Setelah step ini dilakukan maka air yang segar dan bersih ini dapat dikembalikan ke dalam kolam ikan lele yang anda miliki.

Bagaimana? Sangat mudah bukan? Kini dengan menggunakan teknologi Recirculating Aquaculture Systems ini anda bisa melakukan penghematan besar dalam budidaya anda.

Berita kiriman sahabat kita petani lele



bagi para pebisnis lele yang ingin usahanya eksis bukan hanya di medsos seperti facebook dll, anda dapat mengenalkan kepada publik tentang usaha anda di media yg saya bangun khusus budidaya lele, sehingga usaha anda dapat dijangkau ke seluruh pelosok jagad. kirimkan profil usaha anda, foto, berita atau apa saja tentang kegiatan budidaya anda, ke inbox facebook saya. saya akan menerbitkan kiriman anda di media web yg saya bangun

Cara Pembenihan Ikan Lele Sampai Proses Pendederan


Proses Pembenihan Ikan Lele – Dalam mendukung keberhasilan pada proses pemebenihan, induk ikan lele yang digunakan dalam pembenihan haruslah dalam keeadan sehat, siap pijah, serta siap umur dan siap ukurannya. Apapun jenisnya, bersertifikat atau tidak, yang penting memenuhi kriteria induk yang layak untuk dipijahkan.

Pengelolaan Induk Induk Lele

Membeli Dan Memilih Induk Ikan Lele Berkualitas

Induk lele bisa dibeli pada peternak yang menyediakan induk atau lembaga tertentu seperti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, di tempat pelatihan, atau hasil pembesaran sendiri. Berikut ciri-ciri dan syarat induk.
  1. Tidak sedarah seibu sebapak (inbreeding).
  2. Sehat, lincah, gesit, dan berwarna cerah.
  3. Siap pijah dan matang gonad.
  4. Ukuran jantan dan betina seimbang agar tidak saling menyerang bila dikawinkan.
  5. Organ tubuh lengkap dan tidak cacat.
  6. Tubuh bongsor dan simetris.
  7. Umur antara 10-15 bulan.
  8. Bobot badan antara 700-1.500 g.
  9. Kelamin jantan menonjol, runcing, besar kemerahan. Kelamin betina bulat, membengkak, dan agak menonjol.
  10. Perut induk betina terasa lembut dan halus bila diraba.
  11. Frekuensi pemijahan bisa 1,5-2,5 bulan sekali.
  12. Produktivitas telur 50.000-70.000 butir/kg induk.
  13. Sepanjang hidupnya lele bisa memijah lebih dari 15 kali.

Jenis Kelamin dan Induk Siap Pijah 

Menentukan jenis kelamin dan induk lele yang siap memijah tidaklah sulit karena secara fisik dan bentuk kelamin berbeda antara jantan dan betina. Jenis kelamin lele lebih mudah dibedakan saat memasuki masa matang kelamin karena akan terlihat membengkak/lebih besar dari biasanya.

Jumlah Induk Yang Dibutuhkan Untuk Pembenihan

Untuk menjamin kontinuitas, induk yang digunakan harus disesuaikan dengan target produksi. Peternak juga harus memiliki cadangan induk untuk mengantisipasi induk yang tidak mau memijah, luka, sakit, atau mati. Untuk skala produksi 100.000 ekor benih per bulan, dibutuhkan induk sekitar 12 jantan dan 18 betina. Asumsinya, satu induk betina menghasilkan 50.000 telur dengan tingkat kematian 20% akibat kanibalisme, sakit, dan mati. Periode pemijahan dilakukan setiap 2 minggu sekali.

Masa Produktif Pembenihan Induk

Induk lele memiliki masa produktif dalam menghasilkan sperma dan telur. Hingga saat ini, belum ada informasi akurat yang bisa menjelaskan dengan pasti mengenai masa produktivitas induk lele. Beberapa literatur menyebutkan bahwa lele dapat dipijahkan sebanyak 15 kali. Dalam praktiknya, masih banyak induk yang dipijahkan lebih dari 15 kali dan kualitasnya tetap baik. Hanya saja, proses pengisian telur lebih lambat. Selain itu, benih yang dihasilkan cenderung bervariasi dengan benih berukuran kecil lebih banyak.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa induk lele yang terlalu besar atau telah melewati masa produktif hanya menghasilkan benih yang lambat tumbuh dengan ukuran terlalu beragam. Untuk itu, induk yang tua sebaiknya dijual dan diganti induk muda.

Perlakuan Induk Baru Datang

Induk yang baru datang biasanya stres akibat proses pengiriman selama perjalanan dan ketika dimasukkan ke kolam pemeliharaan yang baru. Akibatnya, induk tidak mau makan dan terkadang berkelahi hingga babak belur, bahkan mati. Berikut ini cara mengatasinya.
  1. Pada saat baru datang, induk disegarkan dahulu dengan cara mengalirkan air ke dalam wadah angkut sekitar 10 menit. 
  2. Induk dimasukkan ke dalam kolam yang telah dipersiapkan secara hati-hati. 
  3. Indukan baru biasanya mengalami stres antara 3-4 hari. Selama itu, induk tidak perlu diberi pakan. Pakan dapat mulai diberikan pada hari ke-4 atau ke-5. 
  4. Pemberian pakan selama 4-5 hari pertama sebaiknya dilakukan setelah hari gelap agar induk tidak kaget dan stres. Berikan pakan secukupnya agar tidak merusak air. 

Induk yang baru datang biasanya belum bisa langsung dipijahkan karena masih stres, kecuali jarak dekat atau memang masih dalam bentuk calon induk. Jarak waktu induk datang dengan rencana pemijahan minimal dua minggu.

Pengelolaan Kolam Untuk Induk Ikan Lele

Berikut adalah cara pengelolaan kolam untuk induk ikan lele yang baik dan benar:

Pemilihan Dan Ukuran Kolam Untuk Memelihara Induk

Induk lele bisa dipelihara di kolam terpal, beton, atau tanah. Ukuran kolam pemeliharaan cukup 2 m x 3 mx 0,6 m dengan tinggi air 40-50 cm. Bila memungkinkan, induk sebaiknya dipelihara di kolam berdinding semen dan dasarnya tanah. Di kolam tanah, air tidak mudah rusak dan ikan tetap sehat karena tanah merupakan antibiotik alami.

Dalam pemeliharaan, sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan di kolam terpisah. Untuk mencegah agar tidak memijah liar dan berkelahi, air dikeruhkan dengan tanah merah atau lumpur sawah hingga pekat. Demi keamanan, tutup kolam dengan waring atau penutup lainnya.Induk betina dan jantan juga bisa dipelihara dalam 1 kolam. Syaratnya, air dibuat keruh pekat dan ketinggiannya sekitar 50-70 cm.

Kepadatan Kolam Untuk Populasi Induk

Kepadatan induk dalam kolam pemeliharaan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembangannya. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah seperti indukan stres, nafsu makan menurun, berkelahi, memijah liar, atau sakit.Tingkat kepadatan induk yang sesuai dapat membuat proses pematangan gonad lebih cepat. Idealnya, tingkat kepadatan induk yaitu sekitar 5 ekor/m2. Jadi, untuk kolam berukuran 2 m x 3 m x 0,6 m bisa dipelihara induk lele sebanyak 30 ekor. Untuk kolam tanah, kepadatannya bisa lebih tinggi hingga 5-8 ekor/m2.

Manajemen Air

Agar induk tetap sehat dan terhindar dari serangan penyakit, kualitas airnya harus dijaga. Pergantian air kolam induk jangan terlalu sering, terutama bila diisi air bening sehingga dapat menyebabkan ikan memijah liar/induk betina buang telur. Bila kondisi air masih cukup baik, cukup membuang 10-15% air kolam, lalu ditambahkan air baru, bila dalam kondisi keruh, bisa diganti separuhnya. Namun, bila kondisi air sudah sangat jelek, harus dilakukan pengurasan total sebanyak 100%. Hal ini agar induk tetap sehat, nafsu makan tinggi, dan cepat matang gonad. Perlu diingat bahwa setiap pergantian air kolam induk, kekeruhan airnya harus tetap dijaga.


Pemberian Pakan Induk

Untuk memaksimalkan pematangan gonad, selain pelet, pakan yang cocok antara lain ayam, keong emas, bekicot, ikan rucah, maggot, usus ayam, kerang-kerangan, kepala udang, atau kepala tongkol. Frekuensi pemberian pakannya cukup 1-2 kali sehari, yang penting teratur.

Dosis pakan pelet per hari yang dianjurkan adalah 3-5% dari jumlah berat total induk yang dipelihara. Bila jumlah induk yang dipelihara beratnya 50 kg, jumlah pakan yang diberikan adalah 3% x 50 kg = 1,5 kg per hari. Pemberian pelet dibagi menjadi 2 kali sehari, sedangkan untuk pakan ikan atau daging cukup 1 kali sehari.

Proses Pematangan Gonad

Diperlukan perlakuan khusus agar pematangan gonad sempurna sehingga hasil pemijahan berjalan baik dan tingkat penetasan telur tinggi. Untuk itu, sebelum dipijahkan, pemberian pakan berprotein tinggi dihentikan 7-10 hari sebelumnya, terutama betina. Tujuannya untuk mengurangi kadar lemak di dalam telur serta menghentikan pertumbuhan telur baru/ muda yang menyebabkan pematangan gonad tertunda.

Induk betina yang akan dipijahkan, sebaiknya dikarantina di kolam khusus sehingga perawatan dan pakannya terjaga. Selama seminggu, induk diberi pelet 1 kali pada sore hari dengan kandungan protein 30-40%. Tambahkan multivitamin berupa asam amino bubuk (kemasan) dengan cara diseduh, lalu merendamnya bersama pelet. Tujuan pemberiannya yakni untuk memperkuat kulit telur dan mempercepat kematangan telur. Sementara itu, induk jantan tetap diberi pakan dengan kadar protein tinggi, seperti keong mas, bekicot, atau kodok yang direbus agar jumlah dan kualitas spermanya baik.

Proses Dalam Pemijahan Induk Ikan Lele

Banyak pendapat yang simpang siur mengenai lama proses pemijahan. Ada yang mengatakan 1 bulan; 1,5 bulan; 2 bulan; atau 2,5 bulan. Semua pendapat itu bisa benar, tetapi juga bisa tidak. Hal itu berkaitan dengan perawatan dan kualitas pakannya. Induk betina yang dipelihara dengan baik, pakan cukup dengan protein tinggi, kualitas airnya baik; pada dasarnya bisa dipijahkan paling cepat 1,5 bulan dari pemijahan sebelumnya. Untuk lebih aman, sebaiknya pemijahan berikutnya dilakukan sampai induk mencapai tingkat kematangan gonad sempurna; yaitu 1,5-2,5 bulan untuk betina dan 3-5 minggu untuk jantan.


Perlakuan Benih Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pembenihan Ikan Lele

Setelah proses pemijahan selesai, selanjutnya adalah telur ditetaskan, Pemeliharaan Larva Perkembangan Embrio Lele dan lain – lain.

Pendederan Benih Ikan Lele

Pendederan atau penjarangan merupakan kegiatan pembesaran benih berukuran 1-3 cm untuk dijadikan benih siap tebar berukuran 4-5 cm, 5-6 cm, 7-8 cm, 9-10 cm, dan seterusnya. Tujuan lain dari pendederan adalah memisahkan benih berukuran yang tidak seragam untuk menekan kanibalisme.

Perlakuan Induk Ikan Lele Setelah Proses Pemijahan


Pemulihan Induk Pasca-Pemijahan

Setelah pemijahan, biasanya induk akan mengalami kelelahan, bahkan terkadang luka. Hal itu diakibatkan oleh kolam yang terlalu sempit atau benturan selama pemijahan. Pada pemijahan buatan, induk akan mengalami stres yang luar biasa akibat proses stripping. Oleh karena itu, untuk memulihkan kondisi fisiknya, perlu perawatan khusus agar pulih kembali.

Induk yang selesai dipijahkan tidak boleh langsung dimasukan ke kolam pemeliharaan, tetapi harus dikarantina selama 5-7 hari di kolam terpisah. Bila langsung disatukan, biasanya akan kalah dari induk lainnya yang tidak dipijahkan. Kondisinya yang masih lemah dan ada rangsangan aroma amis telur dari induk yang habis memijah. Akibatnya, induk tersebut bisa mati atau minimal sakit.

Selama pemulihan, induk lele diberi pakan yang berprotein tinggi seperti bekicot, ayam tiren, kodok mati, isi perut ikan, atau pelet dengan kadar protein sekitar 30-40%. Untuk pakan alternatif, sebaiknya diberikan pada saat nafsu makan induk telah pulih kembali dengan frekuensi 1-2 kali/hari.

Pengontrolan Dan Perawatan Kolam Induk Lele

Agar tidak mudah rusak, kolam induk perlu dikontrol dan dirawat. Biasanya, kolam terpal yang berkerangka kayu atau bambu sering dimakan rayap sehingga menjadi rapuh, bahkan roboh. Berikut adalah aktivitas yang bisa dilakukan.
  1. Lakukan perbaikan jika ada bagian kolam yang bocor.
  2. Jaga ketinggian air agar tidak susut terlalu jauh sehingga air tidak terlalu panas yang dapat membuat ikan stres.
  3. Pelihara kebersihan kolam. Bila ada sampah atau daun-daun, segera dibuang.
  4. Amati kondisi induk. Jika ada yang sakit atau terluka, segera dikarantina dan dirawat di kolam khusus (kecil).
  5. Untuk menghindari penyebaran penyakit, rendam induk yang terluka atau sakit dengan antibiotik. Kemudian, pelihara di air bersih yang telah diberi obat/antibiotik. Air kolam karantina, harus tetap bersih, jika perlu dilakukan pergantian air sesering mungkin dan tidak lupa diberi obat/antibiotik.
  6. Induk yang sedang stres/sakit, porsi pakan yang diberikan cukup 30% dan pemberiannya cukup satu kali sehari.
  7. Bila ikan yang sakit sudah pulih kembali, selanjutnya bisa digabungkan bersama induk lainnya di kolam pemeliharaan indukan. 

Pengendalian Hama Dan Penyakit Induk Ikan Lele

Biasanya, hama sering menyerang induk lele yang dipelihara di kolam terbuka dan yang sering memangsa adalah musang, berang-berang, biawak, ular, gabus, atau ikan lele yang berukuran lebih besar. Untuk mengatasinya, diusahakan sekeliling kolam induk dipagar dan selalu dipelihara kebersihannya sehingga hama tidak bersarang di sekitar kolam.

Bila predator bersangkutan ditemukan, sebaiknya dibunuh. Sementara itu, untuk mengatasi kanibalisme, sebaiknya ukuran induk yang dipelihara dalam satu kolam hampir seimbang sehingga tidak terjadi saling menyerang.

Penyakit sebenanya relatif jarang menyerang induk lele karena secara fisik telah memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi. Namun, terkadang jenis jamur tertentu yang menyerang induk, seperti Saprolegnia. Jamur ini menyerang induk yang terluka setelah pemijahan. Untuk mengatasinya, induk direndam dengan antibiotik atau antijamur, lalu dipisahkan di kolam tersendiri. Bila kualitas air kolam induk mulai memburuk, sebaiknya dibuang sebagian dan ditambah dengan air baru sebanyak air yang dikurangi.

Jeli dan Bijak dalam Memanfaatkan Limbah Industri sebagi Pakan Alternatif Lele


produksi skala rumahan berupa ikan hasil tangkapan nelayan untuk dijadikan olahan diantaranya ikan filet dari ikan tongkol, ikan asap, ikan cucut, ikan asin dan lain-lain. Sisa hasil produksi tersebut biasanya diolah lagi utuk dijadikan konsentrat tapi perlu dijemur supaya kering sempurna kemudian digiling, tapi itu jarang dilakukan karena tengkulaknya jarang datang disamping itu pengeringan memerlukan waktu yang lama dan menimbulkan bau busuk yang sangat tajam sehingga menimbulkan polusi udara bagi tetangganya. Jika produksi yang melimpah tentu sisa produksi juga banyak, terkadang dibuang begitu saja tidak dimanfaatkan oleh warga dan dianggap sampah.


Petani lele memanfaatkan hasil sisa produksi ikan hasil tangkapan nelayan sebagai pakan alternatif lele pengganti pelet yang harganya mahal, tujuannya adalah untuk menekan biaya produksi. Untuk menjadikan sisa produksi rumahan pengolahan ikan hasil tangkapan nelayan para petani lele mengolahnya terlebih dahulu dengan cara digiling langsung atau jika stoknya banyak disimpan dulu dengan cara diangin-anginkan dan dijemur disekitar kolam pembesaran lele.

Pemberian pakan dari sisa hasil produksi pengolahan ikan tidak selamanya efektif sebagai pakan alternatif terkadang menimbulkan masalah, yaitu penurunan kualitas air kolam. Kolam pembesaran lele menjadi bau busuk akibat dekomposisi sisa pakan yang tidak sempurna tenggelam di dasar kolam. Akibatnya sisa pakan yang berada di dasar kolam yang tidak termakan oleh lele menjadi lahan yang subur bagi tumbuhnya bakteri patogen yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit bagi lele. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, kematian masal tidak dapat dihindarkan. Satu demi satu lele mengapung mati di permukaan, yang lainnya masih menggantung di permukaan dan sesekali naik turun dengan pergerakkan lamban, ada juga yang berenang bergerak memutar-mutar seolah hilang keseimbangan. Lebih parah lagi jika diraba di dasar kolam ternyata lebih banyak lagi bangkai lele yang luput dari pandangan.

Jika kematian masal terjadi pasti petani lele sangat merugi peteni manapun tidak menginginkan hal ini terjadi. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Tentu saja mencegah adalah langkah terbaik guna menghindari atau setidaknya mengurangi mortalitas. Pemberian pakan berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan yang tidak berlebihan, kemudian pemberian probiotik untuk mengurai sisa pakan dan kotoran lele, disamping itu sifon atau pembuangan endapan dasar kolam harus dilakukan untuk mengurangi produksi dan kandungan gas terlarut yang bersifat racun bagi lele. Pengontrolan kualitas air harus terus dilakukan setidaknya 3 – 6 hari sekali, lakukan pengecekan parameter kulitas air diantaranya pH, suhu, serta kandungan gas beracun. Apabila kualitas air kolam buruk segera lakukan tindakan yaitu penggantian air kolam.

Meskipun pemberian pakan alternatif berupa ikan rucah atau sisa hasil produksi tangkapan nelayan kurang efektif, petani lele masih tetap menggunakannya karena, harganya murah dan ketersediannya melimpah

Menentukan Modal Usaha dalam Budidaya Lele

Berbicara masalah modal usaha, erat kaitannya dengan seberapa besar skala usaha pada unit usaha budidaya lele. Seorang pengusaha dengan modal kecil atau bisa dibilang pas-pasan akan sulit melebarkan sayap usahanya, dengan pengetahuan yang minim serta fasilitas budidaya seadanya tidak sedikit dari mereka yang “gulung terpal”, tetapi ada juga pengusaha dengan modal yang sedikit bisa mempertahankan usahanya bisa memberikan nafkah keluarganya dari hasil usaha budidaya lele. Dengan modal yang besar diharapkan mendapatkan keuntungan yang besar pula. Karena, modal yang besar dapat mendukung sepenuhnya kegiatan budidaya, diantaranya sarana dan prasarana yang menunjang, perlengkapan budidaya yang memadai, peralatan budidaya yang canggih dan tehnik budidaya modern yang menerapkan sistem budidaya lele sangat intensif. Seorang pengusaha tentunya harus cerdik dalam menentukan darimana asal modal yang akan digunakan dalam usaha budidayanya?.


Kali ini Patil Lele akan mengetengahkan beberapa keperluan modal usaha dalam suatu init usaha budidaya lele secara garis besarnya saja, untuk lebih rincinya akan dibahas dalam tulisan yang lain.


Modal Investasi

Modal investasi adalah modal yang akan digunakan untuk membiayai pengadaan semua keperluan sarana dan prasarana usaha yang bersifat tetap. Modal yang digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana disebut dengan biaya tetap (fix cost). Sarana dan prasarana tersebut dipakai selama tenggang waktu cukup lama, bisa lima tahun atau lima belas tahun lebih. Nilai akhir (residue value) dari sarana yang dipakai akan terus berkurang sesuai dengan umur pemakaian (depresiation), bahkan bisa terjadi sarana yang dipakai tersebut tidak memiliki nilai sama sekali atau nihil. 

Contoh dalam unit usaha pembesaran lele anda membeli kolam fiber berdiameter 2,5 m seharga 5 juta rupiah, maka kolam fiber tersebut harus disusutkan dengan tenggang waktu sesuai kebijakan yang diambil perusahaan anda, misal 10 tahun. Berarti dalam tiap bulannya di susutkan sebesar 41.700 rupiah (dibulatkan). Dalam setiap bulannya kolam fiber akan mengalami pengurangan nilai ekonomis begitu seterusnya sampai 10 tahun atau 120 bulan nilai ekonomis kolam fiber menjadi nol atau tidak memiliki nilai ekonomis lagi meskipun kolam fibernya masih bisa dipakai.

Total modal yang dikeluarkan untuk investasi dimasukkan kedalam total biaya yang disusutkan (depresiation) dengan tenggang waktu sesuai dengan kebijakan yang diambil setiap perusahaan. Biaya penyusutan dibebankan dalam setiap perhitungan biaya produksi (cost production) suatu produk usaha budidaya lele seperti benih lele, lele pedaging atau indukan.

Berikut adalah berbagai komponen yang termasuk modal investasi dalam budidaya lele:
  1. Modal untuk pembuatan kolam
  2. Modal untuk pengadaan instalasi air
  3. Modal untuk pengadaan gudang pakan dan peralatan
  4. Modal untuk membangun unit pemijahan, meskipun unit usaha pembesaran lele bisa mendatangkan benih lele dari luar / dari pengusaha pembibitan, alangkah baiknya anda memiliki unit pemijahan sendiri agar lebih mandiri.
  5. Modal untuk alat transportasi
  6. Modal untuk sarana lainnya sesuai kebutuhan.

 Modal Kerja

Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai kegiatan usaha budidaya lele. Modal kerja berupa biaya operasional atau biaya untuk membeli sarana produksi budidaya, seperti benih, pakan, suplemen dan obat-obatan. Modal kerja disebut dengan biaya tidak tetap (variable cost)

  • Modal untuk pembelian benih
  • Modal untuk pembelian pakan
  • Modal untuk pembelian suplemen dan obat-obatan
  • Modal untuk biaya operasional (factory over head atau FOH) yang dikeluarkan termasuk biaya PLN, BBM (bensin/solar), kapur, pupuk, gaji karyawan, biaya perawatan, dan sewa kolam tanah (jika menyewa).

Contoh perkiraan rincian biaya yang dikeluarkan untuk FOH per kg lele pedaging setiap periode sebagai berikut:

benih                                                      = Rp. 1.100
pakan                                                      = Rp. 7.000 x 0.7 = Rp. 4.900
biaya operasionil                                      = Rp. 500
biaya supplement & obat-obatan                = Rp.1.000
total biaya produksi / kg daging lele adalah = Rp. 7.500
  • Modal untuk keperluan lain, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan kolam, penyusutan peralatan, bunga pinjaman bank, lembur, dan THR karyawan.

Jenis Permodalan dalam Usaha Budidaya Lele

Modal Sendiri atau Mandiri

Seluruh usaha budidaya lele baik pemijahan maupun lele pedaging menggunakan modal pribadi atau mandiri, tidak meminjam ke bank atau phak lainnya.

Pola Kemitraan

Usaha budidaya lele dijalankan dengan cara menjalin kerjasama, baik dengan pemodal, perusahaan pakan maupun perusahaan pembibitan. Beberapa pola kemitraan yang sering dilakukan sebagai berikut.

Pola Simpan Pinjam

Pembudidaya meminjam sejumlah modal untuk usaha budidaya lele kepada phak pemodal seperti bank. Pada akhir periode atau dalam jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan ambahan persentase bunga atau persentase keuntungan, yang besarnya telah disepakati terlebih dahulu.

Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pakan

Pada pola kemitraan seperti ini, pembudidaya hanya bermitra sebatassuplai pakan untuk usaha budidaya lele tersebut. Selebihnya, pembudi daya yang menyediakan. Pembudidaya memiliki wewenang sepenuhnya untuk mengelola usahanya, tetapi biasanya pembudidaya memberikan jaminan kepada perusahaan pakan senlai pakan yang akan digunakan.

Pola Kemitraan Bagi Hasil

Pola kemitraan yang terjadi antara pembudidaya dan pihak lain, seperti pemodal atau perusahaan budidaya lele dengan sisetem sharing. Contohnya pembudidaya hanya memiliki sejumlah kolam, semua biaya operasional dan sarana produksi budidaya disuplai dari pemodal atau perusahaan budidaya. Persentase pembagian keuntungan untuk pembudidaya 20% dan pemodal 80%.

Pola Kemitraan Inti Plasma

Saat ini pola kemitraan inti plasma paling banyak dilakukan. Pada pola ini, pembudidaya lele bermitra dengan perusahaan budidaya selaku inti. Banyak pola kerjasama yang ditawarkan, seperti bagi hasil atau sistem harga kontrak. Namun, prinsipnya semua sama, yaitu perusahaan budidaya berperan sebagai inti untuk membina pembudidaya lele yang menjadi plasmanya agar lebih maju dan mandiri.

Demikian ulasan tentang modal usaha budidaya lele, semoga tulisan yang singkat ini dapat memberikan banyak manfaatnya. Bagi anda yang ingin menambahkan informasi mengenai permodalan dalam usaha budidaya lele dipersilahkan untuk memberikan masukannya pada kolom komentar. Adapun ulasan lebih rinci mengenai keperluan modal usaha dalam suatu unit usaha budidaya lele akan di ulas secara rinci dalam tulisan yang lain. 

Pendederan: Kultur Artemia dijadikan Pakan Alami untuk Benih Lele


Artemia atau brine shrimp adalah sejenis udang primitif  yang termasuk dalam Filum Arthropoda, kelas Crustacea, Ordo Anostraca, Famili Artemidae, Genus Artemia. Dari genus artemia dikenal beberapa spesies antara lain Artemia salina, A. Persimilis, A. Monica dan A. Oddessensis.

Artemia merupakan salah satu zooplankton yang dapat hidup di laut, pada berbagai kisaran salinitas dari 5-300 ppt. Namun, untuk pertumbuhannya Artemia membutuhkan salnitas antara 30-50 ppt. Artemia juga dikenal sebagai hewan euroksibion, yaitu hewan yang mempunyai kisaran toleransi yang luas akan kandungan oksigen (DO). Pada kandungan oksigen 1 ppm Artemia masih dapat bertahan, sebaliknya pada kandungan oksigen terlarut tinggi sampai mencapai kejenuhan 150 %, Artemia masih dapat bertahan hidup. Namun untuk tumbuh optimal kandungan oksigen (DO) yang cocok adalah diatas 3 ppm. Sedangkan suhu yang cocok untuk hidup optimal adalah 25 ˚C – 30 ˚C dan pH 7,5 – 8,5.

Artemia juga tahan terhadap perairan yang kandungan amonianya tinggi. Pada kondisi perairan yang kandungan amonianya mencapai 90 ppm masih dapat ditoleransi  oleh hewan ini. Akan tetapi, agar pertumbuhan Artemia bagus, kandungan amonia pada media budidaya sabaiknya dibwah 80 ppm. Perkembangan Artemia tidak selalu terjadi melalui perkawinan, kerena hewan ini mempunya dua cara bereproduksi, yaitu secara biseksual dan pertenogenesis. Perkembangan denan biseksual terjadi melalui perkawinan. Adapun perkembangbiakan dengan pertenogenesis, Artemia betina dapat mereproduksi tanpa melalui perkawinan.

Pada kondisi lingkungan yang optimal, baik induk yang mereproduksi secra bisksual maupun pertogenesis akan menghasilkan nauplius. Sebaliknya bila kondisi lingkungan kurang menguntungkan, maka induk Artemia yang semula melahirkan akan menghasilkan telur bercangkang tebal yang disebut kista. Dengan demikian. Selain bersifat ovovivipar (melahirkan telur yang sudah menjadi anak) dalam melahirkan, Artemia juga bersifat vivipar  (mengeluarkan telur).

 Artemia bersifat pemakan segala atau omnivora. Di alam bebas, Artemia memakan berbagai macam jasad mikro, misalnya microalgae atau alga bersel satu, detrititus, bakteri maupun cendawan. Jenis-jenis alga yang biasa menjadi mangsa Artemia diantaranya adalah Dunaliella, Platymonas, dan Strephanoptera oracetis. Namun dalam pemeliharaannya, Artemia bisa diberi pakan berupa dedak haluss yang disaring dan tepung terigu yang dilengkapi vitamin ssebagai penunjang pertumbuhannya.
Untuk menyediakan nauplius Artemia sebagai pakan larva-benih ikan lele, maka perlu melakukan penetasan kista artemia. Sekarang telah banyak merek dagang kista Artemia yang berasal dari berbagai negara yang terkenal, diantaranya Chili, Amerika, dan Cina.


Penetasan kista Artemia dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat pada tingkat 10 liter – 20 liter per menit. Komposisi 5 g kista Artemia per liter sudah cukup untk menetaskan kista tersebut. Untuk menghasilkan kuantitas maksimal dari neuplius perlu dilakukan decapsulasi. Perlakuan decapsulasi ini dimaksudkan untuk menipiskan kulit kisa Artemia, sehingga proses penetasannya lebih cepat. Bahan yang dipakai dalam proses decapsulasi bisa berupa larutan natrium hipoklorit (NaHOCL). Selain untuk menipiskan kulit kista, NaHOCL  juga  berfungsi sebgai desinfektan terhadap bakteri dan jamur pengganggu.

Adapun cara melakukan decapsulasi adalah sebagai berikut. Telur (kista) Artemia direndam dalam air tawar, dengan perbandingan12 ml air tawar per 1 g kista Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbenuk corong yang bagian dasarnya bisa dibuka. Penggunaan tabung berbentuk corong ini bertujuan agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah, tanpa mengganggu kista. Dari bagian dasar corong diberi aerasi. Penetasan dilakukan pada suhu kamar. Setelah satu jam, suhu air diturunkan hingga 15 ˚C, dengan penambahan es. Setelah suhu turun, baru ditambahkan NaHOCL 5,25 % sebanyak 10 ml untuk 1 g kista. Setelah 15 menit, larutan NaHOCL dibuang, kemudian kista dicuci dengan air laut dan dibilas 6-10 kali hingga pengaruh NaHOCL benar-benar hilang.

Selam decapsulasi, telur yang semila berwarna coklat akan berunah berwarna putih, kemudian berubah lagi berwarna oranye. Setelah decapsulasi, telur itu dapat disimpan untuk dapat detetaskan atau bisa juga langsung diberikan sebagai pakan larva ikan lele.

Telur yang di-decapsulasi dapat ditetawskan dalam bak berbentuk corong. Penetasan dilakukan pada suhu 20 ˚C. Jangka waktu penetasan berkisar antara 24 - 28 jam. Bak penetasan ditutup supaya gelap dan diberi aerasi kuat. Agar artemia tumbuh denagan baik, sebaiknya padat penebarannya jangan terlalu tinggi, yaitu berkisar antara 10.000 – 15. 000 ekor/liter air.

Selama pembesaran, artemia diberi pakan berupa tepung terigu atau dedak halus sebanyak 1-3 g/100 liter air. Dalam waktu 15 hari, artemia akan menjadi dewasa dan dapat menghaslkan telur lagi, selama pemeliharaan, salinitas dinaikkan secra bertahap, terutama menjelang artemia dewasa. Salinitas  yang sesuai pada tahao ini adalah sekitar 55 ppt. Selanjutnya terus dinaikkan secara berturut-turutmenjadi 72 ppt dalam waktu 2 hari, dan 90 ppt 3 hari kemudian. Salinitas 90 ppt dipertahankan hingga artemia mengandung. Untuk mendapatkan kista, salinitas dinaikkan lagi menjadi 110-120 ppt, hingga artemia memijah dan bertelur. Dengan salinitas tersebut, telur akan megapung karena berat jenisnya lebih rendah dibanding air garam. Untuk mendapatkan kista artemia, dapat diatur dengan menaik-turunkan salinitas.